Sebuah novel berisi cerita inspiratif tentang nenek Jepang telah “membangunkan” banyak orang. Nenek hebat ini “menyulap” cucunya jadi kuat.
Ada sebuah pendapat umum yang mengatakan bahwa seorang nenek akan cenderung memanjakan cucu-cucunya.
Kebanyakan anak-anak yang ikut (baca: tinggal serumah dengan) nenek mereka akan menjadi anak manja. Cukup sering saya mendengar pernyataan semacam ini, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Bisa jadi pendapat ini benar untuk kondisi tertentu. Misalnya ketika sang anak memiliki nenek yang cenderung mencurahkan rasa “sayang” secara berlebihan.
Nenek model begini akan memberikan apa saja yang diminta cucu tercinta. Dan ia tak akan “membebani” cucu-cucunya dengan pekerjaan dan tanggung jawab, bahkan untuk hal-hal yang sama sekali tidak berat.
Yang merasuk ke dalam pikiran seorang nenek umumnya hanya bagaimana memberikan kegembiraan kepada cucu-cucunya.
Namun, hal demikian tidak berlaku sama sekali bagi Akihiro. Anak lelaki Jepang itu tinggal bersama neneknya sejak menduduki bangku kelas dua sekolah dasar.
Ia harus berpisah dengan ibunya yang tinggal di Hiroshima lantaran kesulitan ekonomi yang dihadapi sang ibu. Ayahnya telah meninggal ketika peristiwa jatuhnya bom atom yang meluluhlantakkan kota mereka.
Seorang Bocah yang Tak Sempat Bermanja-manja
Sejak tinggal bersama sang nenek, Akihiro tak sempat bermanja-manja layaknya anak-anak sebayanya.
Bagamana mau bermanja-manja, pagi pertama di rumah sang nenek, Akihiro sudah harus memasak nasi sendiri untuk sarapannya. Penderitaan hidupnya berlanjut setelah sehari sebelumnya ia “dipaksa” sang ibu untuk tinggal bersama neneknya.
Ketika Akihiro untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Saga, desa tempat neneknya tinggal, ia tak mendapatkan sambutan “mesra” dari sang nenek. Tidak seperti layaknya seorang nenek menyambut cucunya yang baru tiba.
Kala itu, bukan kata-kata menyejukkan seperti “Akihiro, kau pasti lelah dan lapar, ya?” atau semacamnya yang kedengaran oleh telinganya. Sang nenek justru langsung mengajarinya menyulut tungku dan meniup-niupnya dengan sebuah alat dari bambu agar apinya terus menyala.
Sang nenek tak punya pilihan karena mulai keesokan paginya, Akihiro harus sudah langsung “bekerja”. Pagi-pagi benar nenek harus sudah meninggalkan cucunya menuju tempatnya mencari sesuap nasi—sesuap nasi dalam arti yang nyaris sebenar-benarnya.
Silakan baca artikel mengenai cara menumbuhkan semangat menulis dengan merujuk pada semangat persiapan proklamasi kemerdekaan RI.
Kejutan berikutnya menyapa Akihiro ketika sang nenek pulang kerja. Jika nenek-nenek lain menenteng buah tangan semacam kue atau permen, nenek yang satu ini sungguh berbeda.
Dari kejauhan telah terdengar bunyi ‘klang klang klang klang’ mengiringi kehadiran sang nenek. Akihiro pun terperanjat begitu melihat “oleh-oleh” yang dibawa neneknya.
Ternyata, suara ribut yang telah terdengar sejak kejauhan itu adalah besi magnet yang diikat seutas tali dengan ujung tali lainnya terikat erat pada pinggang sang nenek. Jangan salah sangka, wanita tua itu tidak sedang bermain-main dengan logam yang diseretnya sepanjang perjalanan dari tempatnya bekerja.
Magnet adalah sarana yang digunakannya untuk mencari penghidupan.
Besi berani itu meraih dan mencengkeram benda logam apa saja—seperti paku dan sekrup–yang dijumpainya di jalanan. Dan setiba di rumahnya, si nenek akan mengumpulkan dan menjual hasil kerjanya itu.
Ada Supermarket Gratis di Saga
Tak perlu menunggu lama bagi Akihiro untuk mendapatkan kejutan berikutnya dari sang nenek. Usai mengumpulkan “pendapatan” dari pelbagai logam yang menempel pada magnet yang saban hari diseretnya, si nenek langsung bergegas ke luar rumah.
Tempat yang ditujunya adalah sungai yang mengalir di dekat rumahnya. Inilah sumber “penghasilan” nenek lainnya.
Aneka “barang berharga” tersangkut pada seutas galah yang memang telah dipasang melintang di sungai oleh sang nenek. Aset-aset penting mulai ranting kering yang bisa dijadikan kayu bakar hingga sayuran sebagai pelengkap makan nasi terdampar di sana.
Ternyata, ke arah hulu sungai terdapat sebuah pasar. Produk-produk cacat yang tak laku di pasar seperti timun bongkok atau lobak berujung dua acap singgah ke galah sang nenek.
Tak jarang pula, sayur-mayur bagus ikut mampir. Rupanya mereka terseret arus sungai ketika orang-orang yang bekerja pada para penjual di pasar mencucinya di sungai.
Adakalanya memang banyak lumpur yang menempel pada sayuran yang akan diperdagangkan oleh para penjual. Seringkali arus sungai menggaet sebagian sayuran itu dan membawanya ke arah hilir.
Begitulah cara nenek Akihiro “berbelanja”. Ia memperlakukan sungai itu sebagai supermarket yang menyediakan sebagian kebutuhan hidupnya.
Bedanya dengan pasar swalayan pada umumnya, nenek tidak perlu membayar “belanjaannya”. Namun pada sisi lainnya, ia tak bisa memilih komoditas yang akan “dibelinya”. Ia hanya bisa mengambil apapun yang terseret arus sungai dan nyangkut di galah yang bak troli belanja itu.
Cerita Inspiratif tentang Nenek Jepang Miskin yang Ceria
Itulah sebagian kecil pengalaman luar biasa Akihiro hidup bersama dengan si nenek hebat. Masih banyak lagi kejadian-kejadian besar lainnya yang meninggalkan kesan amat mendalam bagi si bocah lelaki.
Lebih dahsyatnya lagi, sang nenek hebat melakoni kehidupan yang sangat berat itu dengan tetap terlihat bahagia. Tak pernah terlihat pola murung menghiasi wajahnya atau terdengar keluhan meluncur dari bibirnya.
Salah satu kalimat hebat yang pernah diucapkannya adalah, “Keluarga kita adalah keluarga miskin yang ceria.”
Betul-betul seorang nenek yang luar biasa.
Silakan baca juga tulisan yang mengulas cara menulis artikel bagus yang bisa diterima robot dan disukai pembaca.
Novel yang menuturkan cerita inspiratif tentang nenek Jepang nan hebat ini ditulis oleh Yoshichi Shimada yang memiliki nama asli Akihiro Tokunaga. Buku dengan judul Saga no Gabai Bachan ini termasuk best seller di negeri asalnya, terjual 100.000 eksemplar dalam waktu kurang dari setahun sejak pertama kali diterbitkan.
Yosichi Shimada mengaku bahwa prinsip hidupnya mengakar pada ajaran sang nenek semasa mereka hidup bersama di Saga. Menurutnya, kehidupan yang dijalani neneknya-lah yang dapat disebut sebagai “kehidupan yang baik”.
Setelah melahap seluruh isinya, saya tidak heran ketika cerita inspiratif tentang nenek Jepang ini menjadi novel terlaris di negeri Sakura.
