Ada 3 kebiasaan baik yang mendukung Ahmad Tohari memulai menjadi penulis. Padahal, menjadi pengarang bukan cita-citanya.
Ahmad Tohari dikenal sebagai penulis yang berasal dari Jatilawang di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Nama penulis ini melejit lewat trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.
Dalam perkembangan selanjutnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk kemudian menjadi ikon sang pengarang. Buku ini sedikitnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Belanda, Jerman dan Inggris.
Selain itu, novel yang berkisah tentang penari Ronggeng ini juga telah dua kali diangkat ke layar lebar dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng dan Sang Penari.
Selain menulis novel, Ahmad Tohari juga menghasilkan banyak cerita pendek. Cerpen-cerpennya dimuat di beberapa surat kabar nasional dan daerah seperti Kompas, Amanah, Pandji Masjarakat dan Suara Merdeka.
Pelbagai penghargaan dan hadiah juga pernah diterimanya, baik yang berasal dari dalam negeri maupun manca negara.
Penghargaan yang pernah diterimanya antara lain diberikan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Yayasan Buku Utama, Radio Nederland Wereldomroep (atau Radio Hilversum seperti yang tertulis dalam buku Proses Kreatif?), dan Hadiah Sastra Asean (kemendikdasmen.go.id).
Saya melihat ada satu hal yang sangat menarik dan inspiratif dari penulis yang identik dengan kisah-kisah seputar kehidupan wong cilik ini. Hal menarik itu terdapat pada proses kepengarangannya.
Ahmad Tohari memaparkan kisah dan pandangannya mengenai prosesnya menjadi seorang pengarang dalam buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Meskipun telah diceritakannya sejak tahun 2003, tetapi inspirasi yang terkandung didalamnya masih relevan dengan kondisi sekarang.
Memulai Menjadi Penulis Tanpa Sengaja
Latar belakang pendidikan Ahmad Tohari sama sekali tidak berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Setelah menyelesaikan sekolahnya pada jurusan Ilmu Pasti dan Ilmu Alam sebuah sekolah menengah di kota Purwokerto, ia sempat belajar Ilmu Kedokteran meskipun tak sampai meraih gelar.
Ahmad Tohari mengaku bahwa proses dirinya menjadi seorang pengarang terjadi secara tidak sengaja. Menurut pengakuannya, secara kebetulan ia memiliki beberapa kebiasaan yang dilakoninya semenjak belia yang mendukung kemampuannya mengarang.
Selain melalui proses kepenulisan yang tak sengaja, ia juga merasakan satu hal aneh pada dirinya berkenaan dengan aktivitasnya menghasilkan tulisan. Penulis yang sering terlihat berpenampilan sederhana itu merasa kesulitan jika harus menjelaskan maksud dan tujuannya menulis.
Silakan baca juga tulisan tentang semangat menulis yang terinspirasi oleh proses terjadinya kumandang proklamasi.
Berkaitan dengan maksud dan tujuannya menulis RDP (trilogi Ronggeng Dukuh Paruk – penulis), Ahmad Tohari mengemukakan sebuah gambaran yang unik.
“Saya menulis RDP karena saya harus melahirkan sesuatu yang sudah saya kandung dalam jiwa saya. Saya hamil sastra maka kelahiran sebuah karya sastra adalah sesuatu yang alami dan dialektis.”
Ya, novel trilogi itu memang telah mengusik batinnya selama 15 tahun sebelum ditulis. Dan penulisan novelnya sendiri memakan waktu cukup lama, yakni lima tahun.
Yang lebih unik lagi adalah jawabannya atas pertanyaan menyangkut tujuannya menjadi penulis.
Ia menganalogikan seorang penulis dengan kaum perempuan yang telah melahirkan bayi-bayi yang mereka cintai. Kesulitan seorang ibu menyampaikan tujuannya melahirkan seorang bayi mirip dengan kesulitan Ahmad Tohari mengungkapkan tujuannya melahirkan tulisan.
3 Persiapan Sebelum Menjadi Penulis
Walaupun mengalami proses menjadi penulis yang tanpa sengaja, tetapi Ahmad Tohari merasa telah melakukan persiapan-persiapan menuju profesi penulis. Persiapan-persiapan itu telah berlangsung sejak ia masih duduk di bangku setingkat sekolah dasar yang kala itu bernama Sekorah Rakjat (SR).
Uniknya, kebiasaan-kebiasaan yang dianggapnya sebagai persiapan menjadi pengarang itu dilakukannya sebelum ia memiliki keinginan menjadi seorang penulis.
Inilah 3 kebiasaan yang seakan-akan merupakan resep atau cara menjadi penulis versi Ahmad Tohari.
- Gemar mendengar cerita-cerita yang disampaikan secara lisan oleh kakeknya dan gurunya;
- menonton pentas wayang kulit;
- sangat suka membaca.

Dua di antara ketiga hal yang dilakukan oleh Ahmad Tohari juga saya lakukan. Semasa kecil saya, alharhum bapak saya adalah tukang mendongeng. Hampir tiap malam saya bersama saudara-saudara saya sangat menikmati dongeng-dongeng yang diceritakan Bapak.
Saya masih mengingat beberapa adegan emosional berkenaan dengan kegiatan mendongeng ini. Seringkali kami berebut posisi berbaring persis di sebelah Bapak agar jelas mendengar dongengan Bapak.
Hal ini terjadi karena hanya ada dua posisi strategis di kanan dan kiri Bapak, sementara kami lebih dari dua bersaudara. Tak jarang perebutan “daerah kekuasaan” ini menimbulkan pertengkaran hingga tangisan.
Satu lagi hal yang mirip dengan kebiasaan Ahmad Tohari juga saya lakukan. Sejak masa kanak-kanak saya suka membaca.
Sebagai sebuah gambaran tentang kegemaran saya membaca adalah saat ibu saya pergi berbelanja ke pasar. Seperti halnya anak-anak lain, sudah pasti saya menantikan buah tangan berwujud makanan kecil semacam getuk atau slondok.
Selain itu, ada satu barang lainnya yang saya harapkan dibawa Ibu.
Barang yang saya idam-idamkan adalah sesobek kertas koran pembungkus jajanan atau bumbu dapur. Sobekan koran itu menjadi benda istimewa untuk melepas dahaga saya akan bacaan yang tak tersedia di rumah.
Kerinduan akan bacaan cukup terobati ketika saya memasuki sekolah menengah. Di perpustakaan sekolah itulah saya bisa menemukan beberapa bacaan yang sangat memikat hati seperti cerita petualangan Old Shatterhand di tanah Amerika.
Apakah Wayang Telah Mengantarnya Menjadi Pengarang?
Di antara ketiga hal yang dilakukan Ahmad Tohari pada masa kecilnya, ada satu kegiatan yang berbeda dengan kebiasaan saya. Kalau penulis asal Banyumas itu gemar menonton pentas wayang, saya suka nonton pertandingan sepak bola.
Dalam buku Proses Kreatif ini, Ahmad Tohari tidak menjelaskan kaitan antara kegemarannya menonton pentas wayang kulit dengan dunia kepengarangan. Oleh karena itu, saya hanya bisa menduga-duga saja.
Mungkin ia mendapatkan semacam ilham dari cerita-cerita wayang yang diikutinya. Barangkali juga tontonan kesenian itu membawa nilai-nilai tertentu yang kemudian menyemangatinya untuk menggeluti dunia kepenulisan.
Jangan-jangan, karena memilih nonton bola ketimbang pentas wayang yang menjadikan kemampuan menulis saya tak sehebat Ahmad Tohari? He he he, yang ini candaan saja.
Baca juga kisah unik Stephen King yang tak gentar menerima banyak penolakan dan justru mengoleksinya dengan sebuah paku besar.
Saya pikir, ada satu hal lagi yang sangat penting dari cerita Ahmad Tohari. Selain ketiga kebiasaan yang telah saya sebutkan di atas, ada satu lagi kebiasaan Ahmad Tohari yang menguatkan kemampuannya menulis.
Semasa bersekolah di SMA, ia memiliki kebiasaan menulis catatan harian. Catatan harian ini berisi berbagai bentuk tulisan seperti cerpen, esai, catatan perjalanan, dan catatan-catatan lainnya.
Buku catatan harian ini menjelma sebagai tempatnya berlatih mengungkapkan gagasan dalam bentuk tulisan. Ia telah belajar membuat berbagai jenis tulisan melalui catatan yang dikenal dengan sebutan diary ini.
Eh, masih ada yang ketinggalan.
Ternyata, Ahmad Tohari muda suka surat-suratan sama cewek. Ia bilang, surat-menyurat dengan teman perempuan dilakukannya dengan sangat intensif ketika sedang dilanda cinta monyet.
Diakuinya pula bahwa menulis surat cinta merupakan sarana untuk belajar mengungkapkan perasaan ke dalam tulisan.
Nah, bagian mana saja kebiasaan Ahmad Tohari yang sama atau mirip dengan yang Anda lakukan?
Bagaimana cerita awal mula Anda tertarik dan kemudian memutuskan untuk memulai menjadi penulis?