Terjebak Praktik SEO yang Menyesatkan

Menjalankan praktik SEO secara keliru telah membuat saya malu. Setelah sadar, saya berusaha menapaki jalan yang benar.

Sebelum mempelajari SEO di jalan yang (moga-moga) benar, saya sempat menerapkan optimasi konten berdasar informasi sepotong-sepotong yang sepertinya menyesatkan. Bukannya konten menjadi optimal dibuatnya, yang terjadi justru tulisan-tulisan itu terpuruk mengenaskan.

Secara sederhana, SEO adalah suatu cara memberdayakan konten dalam pelbagai bentuk agar dilirik oleh mesin pencari internet semisal Google. Tujuannya sudah barang tentu agar konten kita bertengger di halaman muka pencarian atau biasa dikenal sebagai page one alias pejwan.

Sebab keberadaan artikel di halaman pertama Google bakal memudahkan pencapaian-pencapaian berikutnya. Misalnya mendapatkan banyak viewer alias pembaca dan tentu saja mendatangkan hasil dalam berbagai wujud termasuk penjualan produk atau jasa.

Baca juga ulasan mengenai pilihan cara menulis antara mengikuti teori menulis atau menulis nekat saja.

Hasrat untuk menarik perhatian Mbah Google yang demikian besar adakalanya menjebak seorang kreator konten melakukan hal-hal ajaib. Lantaran ambisi semacam itu, saya pun tak luput dari jebakan Batman bernama SEO.

Ketika itu, kepuasan yang paling saya rasakan adalah banyaknya warna hijau menghiasi dashboard SEO yang dilakukan oleh sebuah alat (tool) yang terpasang pada website saya. Alat itu nyaris menjadi satu-satunya standar yang saya pegang sebelum memencet tombol publish sebuah draf tulisan.

Jebakan Praktik SEO yang Memabukkan

Saking bergantungnya kepada tool SEO itu, saya sampai berbuat hal-hal ganjil yang bila direnungkan kemudian hari bisa bikin diri ini tersipu malu. Tujuan yang hendak saya capai dengan menulis menjadi “jauh panggang dari api”.

Saya akan memberikan sebuah contoh. Misalnya, untuk menghijaukan atau minimal membikin kuning warna indikator traffic light yang mengukur kenyamanan membaca, saya bahkan membuat tulisan saya menjadi sangat tidak nyaman dibaca.

Silakan baca juga cerita tentang SEO yang tidak bersahabat dengan penulis.

Lha, kok, bisa begitu? Gimana ceritanya?

Yah, begitulah bila pikiran telah dikuasai ambisi besar dan melupakan jalan panjang yang mesti ditempuh untuk menggapainya.

Sebenarnya siapa sih, yang hendak saya tuju dalam kegiatan menulis ini? Robot atau manusia? Mestinya ya, keduanya, bukan?

Namun, yang terjadi sungguh berbeda dengan yang saya angankan. Sudah konten tak diminati pembaca, robot pun enggan menyapa. Ampun, deh, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Ketika Kesadaran Tiba: Menulis untuk Manusia

Namun, sedikit demi sedikit saya mulai belajar SEO secara benar. Pemahaman saya akan optimasi blog pun (rasanya) semakin baik.

Pelan-pelan, saya memperbaiki praktik SEO yang saya jalankan selama ini.

Kini saya tidak lagi terlalu mengejar warna hijau yang ditampilkan oleh alat pengukur optimasi mesin pencari yang terpasang di situs saya. Saya ingin kembali menulis bagi para pembaca yang berwujud manusia.

Berbagai upaya saya lakukan untuk memperbaiki kualitas tulisan yang saya hasilkan. Saya telah mengikuti beberapa kursus menulis, khususnya menulis artikel, selain mengelola blog dan mempelajari optimasi mesin pencari tentunya.

SEO tidak akan saya tinggalkan, karena kebutuhan itu merupakan tuntutan zaman, atau lebih tepatnya tuntutan ambisi. Bagaimanapun, saya tetap memerlukan cara-cara efektif untuk menarik perhatian si perayap agar mengunjungi laman-laman blog saya.

Jika robot perayap tidak berkenan menghampiri konten-konten yang saya tayangkan, tentu saja salah satu tujuan menulis tak akan tercapai. Sebab tanpa bantuan robot yang baik hati itu, artikel-artikel yang saya hasilkan dengan upaya yang tidak ringan itu tidak akan pernah sampai ke hadapan pembaca.

Banyak tips menulis yang menyarankan agar para penulis fokus menghasilkan tulisan sesuai gagasan yang tersimpan dalam benak mereka. Urusan lain-lain, termasuk di dalamnya pengeditan dan optimasi konten agar lebih terendus mesin pencari, bisa diupayakan di belakang hari.

Silakan baca juga tulisan tentang manfaat dan cara menulis cepat dan terus-menerus.

Secara umum teori-teori menulis semacam itu bisa berjalan seiring dengan kebutuhan optimasi konten yang diwakili oleh sebuah alat bernama SEO. Namun dalam praktiknya masih terdapat beberapa hal yang sulit disandingkan antara urusan menulis sesuai passion dengan usaha memoles agar tulisan menjadi SEO friendly.

Kondisi seperti itulah yang acap bikin bingung. Bak teka-teki ayam dan telur, siapa duluan hadir ke tengah-tengah dunia?

Kini saya sedang berupaya berjalan di antara kedua kutub dengan lebih condong ke arah manusia. Dalam praktik SEO, saya menyukai semboyan ini “Menulislah untuk pembaca dan kasih (sedikit) optimasi bagi mesin pencari.”

Konon, begitulah praktik SEO alami yang seharusnya kita jalani.

Dilema Keyword Research yang Bikin Mumet

Satu hal yang masih mengganjal dalam hati saya menyangkut urusan ini adalah tahap menulis ramah SEO yang disebut keyword research. Hingga kini saya belum mampu menentukan jalan mana yang harus saya tempuh duluan, riset kata kunci atau menulis berdasarkan suara hati.

Ketika saya mencoba melakukan riset kata kunci sebagai langkah awal, biasanya saya akan mengalami kesulitan menulis secara bebas. Sebabnya adalah adanya tuntutan kata kunci yang harus tercantum dalam beberapa bagian tulisan.

Sebaliknya, saat saya mendahulukan menulis bebas, saya akan dilanda rasa pening di kepala. Kondisi ini terjadi lantaran susahnya mendapatkan kata kunci yang bisa mendukung artikel secara alami.

Tak sedikit pendapat yang menyatakan bahwa si perayap Google kini lebih manusiawi. Artinya, ia layaknya manusia yang membawa rasa ketika merayapi dan menilai konten-konten yang masuk ke dalam rimba internet.

Dampaknya tentu saja konten-konten yang terpilih oleh para robot itu lebih terasa nyaman saat dibaca manusia. Jadi, dengan kemampuan robot perayap yang demikian, laman-laman utama pencarian akan diisi oleh konten-konten berkualitas yang pantas dinikmati makhluk hidup bernama manusia.

Amat besar harapan saya bahwa pandangan itu benar adanya. Karena bila memang betul demikian, para penulis bisa berkonsentrasi mencipta karya-karya tulis yang bermutu dan menyenangkan pembaca.

Namun, saya belum melihat adanya perubahan yang signifikan pada laman-laman satu pencarian Google. Mesin pencari paling ngetop itu masih saja menampilkan banyak tulisan yang tak terlalu ramah bagi pembaca.

Sebaliknya, masih banyak konten pejwan yang di dalamnya terserak kata-kata kunci yang acap kali terlalu dipaksakan kehadirannya.

Kita tak kan sulit menjumpai konten-konten semacam itu nangkring dengan manis di posisi-posisi terhormat laman pencarian Mbah Google. Mereka mampu menjungkalkan banyak tulisan yang lebih human friendly tetapi kurang bersahabat dengan sebuah taktik berjuluk SEO.

Nah, apa pendapat Anda mengenai praktik SEO yang membingungkan ini?

Leave a Comment