Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

“Kenapa tulisan saya nggak bagus?”

Pertanyaan ini kerap muncul di kepala banyak penulis, mungkin termasuk Anda.

Biasanya pertanyaan itu menghampiri benak Anda pada waktu yang tak terduga. Misalnya sesudah Anda menyelesaikan sebuah tulisan, atau seusai menuangkan ide, atau sesaat setelah merasa lega lantaran berhasil menulis lagi setelah cukup lama pikiran tersumbat.

Anehnya, entah apa sebabnya, semuanya nggak sesuai ekspektasi ketika Anda membaca ulang tulisan Anda.

Anda mungkin merasa kalimat yang telah Anda terakan terasa biasa-biasa saja, gagasan terlalu lemah, atau paragraf tampak membosankan. Lantas, Anda mulai membandingkan tulisan Anda sendiri dengan tulisan orang lain. Dari situ, Anda langsung menilai tulisan Anda tidak sebagus yang Anda kira.

Fase semacam ini dialami banyak orang yang sedang belajar menulis. Bahkan, bisa jadi penulis yang telah bertahun-tahun menulis pun masih merasakan hal serupa.

Lalu timbul pertanyaan, “Kenapa tulisan saya nggak bagus? Apakah ini tanda kemampuan menulis saya memang buruk?”

Ternyata, jawaban atas pertanyaan itu lebih rumit daripada yang kita kira.


Mengapa Kita Merasa Tulisan Kita Buruk?

Sebenarnya ada alasan psikologis yang mudah dimengerti untuk urusan ini. Saat kita membaca tulisan kita sendiri, tentu kita akan menerapkan standar yang jauh lebih tinggi dibandingkan membaca tulisan orang lain.

Saat membaca karya orang lain, kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita tidak menyaksikan hal-hal lain di baliknya seperti:

  • Berapa kali tulisan itu direvisi,
  • Berapa paragraf di antaranya yang dibuang,
  • Berapa jam penulisnya merasakan kebuntuan dan bahkan rasa frustasi,
  • Seberapa sering sang pengarang meragukan kualitas tulisannya sendiri.

Kita hanya melihat versi terbaik dari tulisan yang sudah jadi. Tentu saja pandangan kita berbeda seandainya kita mengikuti prosesnya sejak awal.

Hal yang sebaliknya terjadi saat membaca tulisan sendiri. Sudah jelas kita menyaksikan dan bahkan mengalami sendiri seluruh prosesnya.

Kita tahu bagian mana yang terasa dipaksakan untuk tetap tampil meskipun terasa tidak nyaman di hati. Kita juga mengingat kalimat yang ditulis dengan perasaan ragu-ragu. Kita pun sadar ada gagasan yang sebenarnya belum sepenuhnya matang, tetapi karena suatu alasan harus ditayangkan.

Akibatnya, ketika membaca tulisan sendiri, kita tidak hanya berperan sebagai pembaca. Namun, kita juga bertindak selaku pengkritik.

Dalam banyak kasus, kritik terbesar bagi seorang penulis tidak datang dari pembaca. Kritik keras itu muncul dari dalam dirinya sendiri.


Mengapa Semakin Banyak Belajar Menulis Justru Semakin Kurang Yakin?

Semakin berkembang kemampuan seseorang, semakin besar kemungkinan ia merasa tulisannya belum cukup baik.

Paradoks dalam dunia kreatif ini memang terdengar aneh.

Pada tahap awal belajar menulis, seseorang biasanya mudah merasa puas dengan tulisan yang dihasilkannya. Saat itu menulis masih terasa sebagai suatu aktivitas sederhana saja: muncul ide, menulis, dan selesai.

Namun, setelah membaca lebih banyak buku, mempelajari berbagai teknik menulis, memahami struktur tulisan yang baik, dan melihat karya-karya orang lain, urusan menulis menjadi sesuatu berbeda. Kegiatan ini telah memunculkan kesadaran baru, “Oh, ternyata sulit juga menghasilkan tulisan yang bagus, ya!”

Banyak hal baru kita sadari. Kita mulai bisa merasakan kalimat yang terlalu panjang, argumen yang kurang tajam, paragraf pembuka yang kurang menggugah, atau tulisan yang terasa datar-datar saja.

Memang aneh. Saat kemampuan menulis kita meningkat, justru rasa percaya diri menurun.

Sebentar, jangan terburu-buru menganggap kejadian ini sebagai pertanda buruk. Hal semacam ini kadang-kadang justru menjadi indikasi bagus: kemampuan Anda sedang berkembang.

Buktinya, Anda mulai bisa melihat hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat. Bukankah itu bagus? Keadaan ini merupakan bagian dari proses menulis yang sedang Anda jalani.


Tidak Percaya Diri Adalah Hal yang Dialami Banyak Penulis

Banyak orang mengira penulis berpengalaman selalu diliputi rasa percaya diri yang tinggi. Padahal, kenyataannya tidak seindah itu.

Sangat umum seseorang dihinggapi perasaan tidak percaya diri saat menulis menulis. Bahkan, orang-orang yang sudah produktif menghasilkan karya pun tak luput dari perasaan minor ini.

Ada penulis yang terus merasa tulisannya biasa-biasa saja. Sebagian lainnya menganggap dirinya belum cukup pandai membahas suatu topik tertentu. Ada pula yang selalu mengkhawatirkan pembacanya akan menilai tulisannya jelek.

Dalam psikologi pendidikan, ada konsep yang disebut writing self-efficacy. Konsep ini berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuan menulisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keyakinan seperti ini sangat memengaruhi kenyamanan seseorang dalam proses menulis dan melakukan revisi. Jadi, tidak aneh ketika kita menemukan seseorang yang meragukan kemampuannya menulis.

Namun, hal seperti ini tidak perlu menimbulkan kecemasan. Adakalanya, perasaan ragu-ragu itu menunjukkan kepedulian Anda pada kualitas tulisan yang Anda hasilkan. Jadi, keraguan tidak selalu berarti kurangnya kemampuan.


Mengapa Kita Menjadi Ragu Ketika Kita
Semakin Berkembang?

Seseorang yang sedang berkembang tidak lantas membuatnya merasa lebih percaya diri. Bisa juga terjadi hal yang sebaliknya. Semakin banyak belajar, semakin banyak membaca, dan semakin mengenal tulisan-tulisan yang baik, seseorang akan menyadari luasnya dunia kepenulisan. Hal inilah yang menekan rasa percaya dirinya.

Barangkali ia pernah merasa tulisan yang dibuatnya sudah bagus. Sesudah membaca esai yang matang, artikel yang mengalir, atau buku yang begitu “hidup”, standar dirinya langsung berubah.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa pembuka tulisannya bisa dibuat lebih kuat, ritme paragrafnya bisa dibikin lebih enak dibaca, pilihan kata-katanya bisa disusun lebih presisi, dan emosi dalam tulisannya bisa dibangun kembali menjadi lebih mendalam.

Kesadaran semacam ini mungkin terasa tidak nyaman di hati. Namun, semestinya kita bisa menerima dengan baik pertumbuhan yang sedang kita alami.

Ibarat seseorang yang belajar musik: semakin terlatih telinganya, semakin mudah ia mendengar nada yang fals.

Demikian pula yang terjadi dalam proses belajar menulis. Bila saat ini Anda mulai merasa tulisan Anda belum baik, barangkali itu pertanda level kemampuan Anda sedang naik.


Saat Keraguan Berubah Menjadi Kekhawatiran

Berhati-hatilah jika perasaan ragu-ragu semakin berkembang tak terkendali. Waspadalah bila pikiran Anda mulai menunjukkan gejala frustrasi.

Anda tidak lagi mengatakan, “Saya akan memperbaiki tulisan ini.”

Namun, kini Anda lebih suka bilang, “Saya memang tidak mampu menulis.”

Pada titik ini, mungkin Anda akan kehilangan keberanian. Anda mungkin tidak berhenti menulis, tetapi lebih suka menyimpan tulisan di komputer atau di laci.

Kini folder draf Anda menumpuk. Anda punya banyak ide, tetapi tidak punya keberanian untuk menyelesaikannya menjadi sebentuk tulisan.

Istilah psikologis yang banyak dipakai untuk menggambarkan kondisi ini adalah impostor phenomenon atau impostor syndrome. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang merasa dirinya tidak cukup kompeten meskipun sebenarnya punya kemampuan.

Beberapa ungkapan yang mengarah pada sindrom ini antara lain:

“Saya hanya beruntung.”
“Orang lain lebih layak disebut penulis.”
“Saya takut orang mengetahui sebenarnya saya tidak sebagus itu.”


Ternyata, pengalaman seperti ini umum dialami pekerja kreatif, termasuk penulis. Orang-orang yang kita lihat produktif mungkin saja sedang meragukan kemampuannya sendiri.


Kenapa Kita Bersikap “Keras” pada Tulisan Sendiri?

Ada suatu kebiasaan yang secara tidak sengaja akan melemahkan kepercayaan diri seorang penulis. Kebiasaan itu adalah selalu membandingkan proses menulis yang dilakukannya dengan hasil akhir tulisan orang lain.

Kita membaca tulisan yang tampak sempurna di mata kita dan melupakan proses di balik tulisan indah milik orang lain. Bisa jadi pemilik tulisan itu telah lima kali merevisinya, atau sudah berbulan-bulan di depan laptop mengerjakan tulisannya, atau mungkin juga ia harus menulis ulang secara total drfa yang telah selesai dibuatnya.

Sementara kita membandingkan tulisan “sempurna” itu dengan draf awal yang kita bikin. Hampir pasti kita kalah.

Padahal, hampir semua tulisan bagus lahir dari proses yang berliku. Biasanya tulisan yang tampak mengalir pernah kacau pada proses penulisannya.

Oleh sebab itu, ketika merasa tulisan kita tidak sebagus tulisan penulis lain, mungkin kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih adil. Misalnya, “Apakah saya sedang membandingkan proses yang tengah saya jalankan dengan hasil akhir yang sudah diselesaikan orang lain?”


Ketika Keraguan Menjelma Sebagai Writer’s Block

Rasa tidak percaya diri yang terus melingkupi hati bisa saja berkembang menjadi writer’s block. Keadaan ini muncul karena kita terlalu takut menghasilkan tulisan yang buruk. Padahal, kita memiliki ide yang mungkin cukup kuat.

Ketakutan semacam itu bisa membuat seseorang takut mulai menulis, terlalu banyak mengedit sebelum selesai menulis, atau terus menyimpan draf tanpa pernah berani menerbitkannya. Adakalanya kita tidak memerlukan inspirasi besar, melainkan “izin” untuk membuat tulisan yang tidak sempurna terlebih dahulu.


Cara Berdamai dengan Batin yang Selalu Mengatakan, “Tulisan Saya Tidak Bagus”

Sebagai langkah awal, kita perlu menetapkan tujuan menulis bukan sepenuhnya untuk menghilangkan keraguan kita. Rasanya akan lebih realistis bila kita berniat untuk “berjalan” bersamanya.

Ada berikut beberapa upaya yang patut dicoba dan barangkali bisa membantu Anda. Upaya-upaya tersebut antara lain:


1. Fokus pada perkembangan, bukan kesempurnaan

Lebih baik membandingkan tulisan Anda hari ini dengan hasil sebelumnya, misalnya tulisan Anda enam bulan atau setahun lalu. Anda bisa mengecek apakah ada perkembangan atau tidak. Bila Anda merasakan ada perkembangan, berarti Anda sedang bertumbuh.

Pertumbuhan yang berkesinambungan lebih penting dibandingkan hasil sempurna yang bisa kita dapatkan sesaat saja.


2. Gunakan “fasilitas mewah” ini

Kegagalan menulis acap disebabkan oleh harapan yang tidak realistis: tulisan langsung bagus sejak awal. Umumnya draf pertama berantakan.

Anda punya “fasilitas mewah” untuk mengatasi “masalah” ini, yaitu mengedit. Sebaiknya selesaikan dulu draf Anda, setelah itu rapikan hasilnya.


3. Hindari terlalu cepat menyimpulkan diri Anda buruk

Anda bukan seorang penulis buruk hanya karena satu tulisan yang lemah. Bisa jadi kita sedang lelah saat memprosesnya. Bisa juga ide yang kita miliki belum matang.

Kita hanya perlu lebih sering berlatih. Latihan menulis adalah hal normal yang dilakukan hampir semua penulis di dunia ini.


Sepertinya Anda Tidak Seburuk Dugaan Anda

Kita tidak bisa mungkiri adanya kemungkinan tulisan kita belum sebagus yang kita inginkan. Namun, jangan lupakan adanya kemungkinan lainnya.

Adakalanya kita melihat tulisan kita dengan standar yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Sebenarnya pandangan ini sebuah pertanda baik.

Orang yang berhenti berkembang biasanya tidak ingin mempertanyakan kualitas karyanya. Sebaliknya, orang yang terus bertumbuh tak ragu mengajukan pertanyaan, “Bagaimana cara membuat tulisan ini menjadi lebih baik?”

Jadi, bila Anda sering merasa tulisan Anda tidak bagus, barangkali hal itu tidak menandakan kegagalan Anda menjadi seorang penulis. Sepertinya Anda sedang berada pada fase belajar yang membuat Anda merasa kurang nyaman.

Bila demikian kondisinya, Anda tidak perlu khawatir karena hampir semua penulis pernah melewati fase seperti yang sedang Anda alami ini.

Ada satu hal yang patut kita ingat: rasa ragu tidak selalu datang untuk menjatuhkan. Kadang-kadang kehadirannya bisa membuat kita belajar melihat lebih dalam karena standar kita sedang tumbuh. Kesadaran itu mendorong kita semakin peduli pada kualitas tulisan yang kita hasilkan.

Sudah tentu kita tidak harus memercayai semua keraguan yang melintas di benak kita. Kita perlu mendengar sebagian di antaranya dan mengabaikan sebagian lainnya.

Jika hari ini Anda merasa tulisan Anda tidak cukup bagus, Anda tidak perlu berkecil hati. Kondisi ini mungkin menandakan Anda sedang berada dalam proses menjadi penulis yang lebih mumpuni.

Leave a Comment