Tanpa Mencari Inspirasi, Mungkinkah Bisa Menulis?

Ternyata ada penulis mengaku tak perlu mencari inspirasi sebelum menulis. Tanpa inspirasi, ia tetap produktif menghasilkan banyak karya berkualitas.

Sebelumnya, saya tidak mengira sama sekali adanya pandangan seperti ini. Saya meyakini bahwa inspirasi merupakan nyawa seorang penulis. Tanpa inspirasi, seorang penulis tak akan mampu memproduksi tulisan.

Setidaknya begitulah keyakinan saya selama ini. Maka, alasan terbesar minimnya karya tulis yang saya hasilkan adalah kelangkaan inspirasi yang menghampiri saya.

Atau barangkali bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa acap kali saya tak mampu menangkap inspirasi yang demikian banyak berseliweran di sekitar saya.

Almarhum Sapardi Djoko Damono membalikkan keyakinan saya ini. Pernyataan baliau tertuang dalam sebuah podcast bertema proses menulis yang belum lama ini saya ikuti. Dengan kepercayaan diri tinggi, penulis dengan inisial SDD itu mengungkapkan bahwa dirinya tidak meyakini adanya inspirasi ketika berkeinginan menulis.

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan wawancara yang amat inspiratif dengan nara sumber penganggit puisi legendaris “Hujan Bulan Juni” ini. Ada beberapa pemikirannya yang sangat menarik hati.

Salah satunya berkenaan dengan pendapatnya mengenai hasil karya yang menjadi favoritnya. Pernyataan yang tak terduga mengenai karya favorit berupa tulisan yang belum jadi telah saya sajikan dalam artikel lain di blog ini.

Tak Perlu Mencari Inspirasi, Lancar Menulis

Nah, kali ini saya akan memaparkan keheranan saya akan pemikiran SDD lainnya yang tak kalah “misterius”. Sesuai penuturannya, sang penyair tak membutuhkan inspirasi sewaktu hendak membuat tulisan.

Menurut penulis berbagai genre tulisan itu, beliau hanya membutuhkan niat untuk menghasilkan tulisan. Wah, jika benar demikian, alangkah mudahnya menjadi seorang penulis.

Berbekal sebuah niat, lalu mulai menulis, maka terciptalah sebuah karya. Sesederhana itu seseorang menjalani proses menulis bila mengacu pada pendapat penyair asal Solo itu.

Meskipun nalar saya sangat sulit menerima pandangan “nyeleneh” itu, tetapi saya berusaha memikirkan dan mencari jawabannya. Saya sungguh berharap pendapat itu benar adanya–karena akan sangat membantu meruntuhkan hambatan menulis alias writer’s block yang kerap menghantui saya–dan saya bisa menjalankannya.

Sebab bila pandangan itu benar, tentu saja akan sangat menguntungkan. Ketika ingin membikin artikel, saya tinggal mendorong niat dalam hati dan segera saja mengetik.

Dampak positifnya, produktivitas menulis saya bakal segera melonjak tajam. Saban hari bisa menghasilkan sekian banyak tulisan lantaran tak perlu menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer yang sekian lama kosong.

Kemungkinan yang Terjadi

Setelah berpikir beberapa jenak, saya menyimpulkan adanya dua kemungkinan yang terjadi atas ucapan penulis yang pernah menerima sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri itu. Berikut ini penjelasan tentang kedua kemungkinan yang saya bayangkan itu.

  1. Kemungkinan pertama, pandangan Sapardi berkaitan dengan teori  free writing.

Teknik menulis dengan cara ini telah banyak dikemukakan dalam berbagai kesempatan. Salah satu contohnya pernah saya ceritakan dalam sebuah  artikel dengan topik cara menulis cepat dan terus-menerus.

Pada intinya, penganut teori ini memiliki keyakinan bahwa keterampilan menulis bisa ditumbuhkan dengan jalan menulis tanpa aturan yang mengikat. Menulis dengan cara ini bisa dimaknai sebagai kegiatan menulis yang dilakukan tanpa adanya beban yang menghinggapi pikiran dan perasaan sang penulis.

Jadi, dengan mempraktikkan metode ini, seorang penulis akan menuangkan semua isi pikiran atau perasaannya tanpa merasa takut atau khawatir. Ia tidak akan merasa was-was tulisannya bakal dinilai buruk oleh pembaca, atau bentuk-bentuk ketakutan lainnya.

2. Kemungkinan kedua menyangkut kemampuan penulis kawakan itu dan penulis yang selevel lainnya.

Seorang penulis sekaliber Sapardi mungkin tidak membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan tulisan. Barangkali penulis sekelas beliau bisa diibaratkan dengan seorang chef yang ahli memasak. Jadi, tanpa membuka buku resep pun, sang jago masak dengan gampang menghasilkan masakan yang lezat.

Penulis yang sangat menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing itu sendiri menyampaikan bahwa materi yang akan ditulis telah tersimpan rapi di kepala. Beliau hanya membutuhkan satu saja syarat untuk mengubah isi kepalanya menjadi sebentuk tulisan. Baginya, satu-satunya syarat untuk menulis tak lain adalah niat.

Sebuah Misteri yang Masih Tersimpan Rapi

Rasa penasaran masih terus menggelayuti pikiran saya. Berikutnya, saya mencoba memikirkan peluang yang paling mungkin terjadi di antara kedua kemungkinan itu dalam proses menulis sang penyair.

Bila hal pertama yang terjadi, maka tulisan-tulisan yang dihasilkan kemungkinan tidak akan baik mutunya. Tujuan dari teknik ini memang bukan untuk menghasilkan tulisan berkualitas, melainkan hanya untuk membiasakan diri menulis.

Untuk menghasilkan output yang bermutu tinggi, tentu saja seorang penulis harus melakukan proses editing atas tulisan-tulisan mentah hasil menulis secara cepat yang dijalankannya.

Saya juga menjalankan program menulis bebas dengan target sejumlah kata dalam sehari. Bila kelak kebiasaan menulis telah mengakar kuat dalam diri saya, barangkali saya akan fokus mengupayakan hasil yang bermutu tinggi.

Jika terjadi hal yang kedua, saya kira wajar-wajar saja. Para penulis jempolan sekelas SDD mungkin saja tidak membutuhkan usaha yang terlalu keras untuk menghasilkan tulisan berkualitas. Kita telah mengetahui, seperti apa kualitas karya-karya beliau yang dihasilkan tanpa inspirasi.

Kemampuan dan pengalaman yang banyak menjadi faktor yang mempermudah proses menulis. Untuk masuk ke dalam kategori ini, tentu bukan upaya yang semudah membalik telapak tangan.

Untuk saat ini, saya masih menganut paham free writing untuk membiasakan diri menulis secara rutin. Tahap selanjutnya, baru mulai berpikir soal kualitas.

Semoga semakin hari saya kian lancar memainkan jemari di atas papan ketik. Sehingga, seperti kata Sapardi, tak lagi harus mengejar-ngejar inspirasi untuk bisa berproduksi.

Lantas, kemungkinan mana yang dimaksudkan oleh Sapardi? Sayang sekali, hingga kini saya belum menemukan jawaban yang pasti.

Bagi saya, kebiasaan SDD menulis tanpa inspirasi masih menjadi sebuah misteri.

Leave a Reply