Ideaphoria adalah kondisi yang kerap bikin resah seseorang, tetapi amat dibutuhkan. Bagaimana mendapatkan dan mengelola ide agar bermanfaat?
Egi tampak modar-mandir di sekitar meja kerjanya. Terlihat sekali wajahnya gelisah. Kadang-kadang bibirnya tampak menggerutu.
Telah beberapa hari belakangan ini ia bertingkah ganjil.
Beberapa rekan kerjanya sudah paham apa yang tengah terjadi pada diri Egi. Bukan kali pertama penyelia pemasaran itu menunjukkan gelagat aneh semacam itu.
Sementara itu, sebagian pegawai lainnya di kantor Egi masih kerap terbengong-bengong dengan kelakuan ganjil Egi.
Dibikin santai aja kenapa rupanya? Barangkali seperti itulah reaksi mereka.
Silakan baca kisah-kisah unik para penulis dalam proses menulis mereka.
Setelah diselidiki, ternyata pegawai yang dikenal kerap melontarkan gagasan-gagasan segar dan sesekali terlihat konyol itu, sedang marah kepada bosnya. Pasalnya, sang bos, untuk kesekian kalinya, tidak memberikan respon seperti yang diharapkan Egi usai mendengar usulan anak buahnya itu.
Kondisi yang dialami Egi mengindikasikan dirinya mengalami ideaphoria. Ide-ide riuh berseliweran di kepalanya.
Apa Makna Ideaphoria?
Dalam Merriam-Webster Dictionary, makna ideaphoria adalah ‘capacity for creative thought or imagination’. Jika diterjemahkan, kira-kira seperti ini hasilnya, ‘kapasitas untuk berpikir kreatif atau berimajinasi’.
The Johnson O’Connor Research (JOCR) Foundation menyatakan bahwa ideaphoria adalah ‘kemampuan menghasilkan ide secara cepat’. Organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan penelitian itu merupakan penyelenggara test ideaphoria.
Tes ideaphoria bertujuan untuk mengukur volume dan kecepatan seseorang menghasilkan ide. Jadi, tes ini tidak menyinggung urusan kualitas ide yang dihasilkan.
Silakan baca juga tulisan mengenai keuntungan yang bakal didapat orang-orang yang bergegas.
Hasil penelitian JOCR menyebutkan bahwa orang yang mendapatkan skor tinggi dalam tes ideaphoria umumnya unggul dalam bidang-bidang yang terkait dengan komunikasi dan inovasi. Bidang-bidang itu meliputi pemasaran, periklanan, pengajaran, dan penulisan.
Nah, hasil riset JOCR menunjukkan hubungan amat dekat antara jagad penulisan dengan ideaphoria. Tidak mengherankan, sebab profesi penulis jelas tak mungkin dijalankan tanpa adanya ide pada diri sang penulis.
Menangkap ide merupakan langkah awal kerja seorang penulis. Ide yang banyak bakal amat membantu penulis menapaki langkah-langkah selanjutnya.
Ideaphoria Adalah Pemicu Kreativitas
Mark Levy pernah mengeluhkan dirinya yang acap terjangkit ideaphoria. Ketika “penyakit” ini menyerangnya, Levy akan mengayunkan tubuhnya di kursi, memukul-mukul kakinya, dan bergumam tidak jelas.
Sang penulis menceritakan penderitaannya akibat “ulah” ideaphoria itu dalam bukunya, Menjadi Genius dengan Menulis (2005).
Lantas, apakah co-author buku Magic for Dummies ini patah hati?

Ternyata tidak. Penulis yang telah banyak menyumbang artikel bagi The New York Times ini “melampiaskan” kekesalannya dengan membikin tulisan pribadi.
Silakan baca artikel mengenai cara membuat tulisan pribadi.
Tulisan pribadi bisa menjadi sarana untuk menyalurkan semua pemikiran penulis, baik pemikiran bagus maupun pemikiran buruk.
Dengan membuat tulisan pribadi, beban ideaphoria berwujud berbagai ide yang “melonjak-lonjak” di dalam pikiran bisa keluar dengan lancar. Sementara itu, tulisan pribadi yang seolah-olah menjelma sebagai tempat sampah untuk membuang pikiran-pikiran buruk itu hanya bisa dibuka oleh sang penulis sendiri.
Cara Menggali Ide bagi Orang yang Kesulitan Mendapatkannya
Berkebalikan dengan orang-orang yang “berbakat” mendapatkan ideaphoria, orang-orang lainnya kesulitan mendapatkan ide. Orang-orang yang masuk dalam golongan ini perlu mencari terobosan agar tidak terlalu lama memandangi monitor komputer yang hanya berhiaskan kursor yang berkedip-kedip.
Ada banyak sumber ide yang bisa dieksplorasi. Beragam pula cara orang menggali ide dari sekitarnya.
Berikut ini beberapa cara mendapatkan ide yang tak jauh dari keberadaan kita.
1. Pengalaman Pribadi
Pengalaman, terutama kejadian-kejadian yang kita alami sendiri, merupakan sumber ide paling dekat dengan diri kita. Sumber ide ini juga menjadi ide paling unik lantaran pengalaman kita sudah pasti berbeda dengan pengalaman orang lain.
Namun, adakalanya, menuliskan pengalaman sendiri memunculkan kendala besar. Tidak setiap orang mampu menghindar dari rasa minder, takut, malu, dan perasaan-perasaan lain yang dapat menghambat proses menuliskan pengalaman.
Silakan baca juga artikel yang membahas pentingnya mencatat ide.
2. Pelbagai Bentuk Referensi
Referensi bisa berwujud macam-macam. Bacaan merupakan salah satunya.
Berbeda dengan zaman lampau ketika kegiatan membaca masih bergantung pada lembaran-lembaran kertas berupa buku, surat kabar, dan lain-lain. Era digital sekarang ini memungkinkan kita mendapatkan beragam bacaan dengan sangat mudah dan amat cepat.
Referensi lain berupa tontonan seperti film, konser, komedi tunggal (stand up comedy), dan sebagainya. Sumber-sumber referensi semacam itu berpotensi menjadi bahan baku tulisan yang menarik.
3. Imajinasi
Sumber ide ketiga ini bisa didapatkan setiap orang. Kemampuan masing-masing orang yang berbeda dalam berimajinasi bakal memunculkan hasil yang unik.
Kemampuan berimajinasi juga merupakan bagian dari ideaphoria, setidaknya merujuk pada makna yang dikemukakan Merriam-Webster Dictionary yang telah dibahas di atas.
Jadi, sebagai modal menapaki langkah pertama dalam proses menulis, mencari ide merupakan bagian penting yang harus mendapat perhatian.
Ideaphoria memang bisa menimbulkan masalah bagi “pengidap”-nya. Namun, dengan cara-cara tertentu, seperti yang dilakukan Mark Levy misalnya, ideaphoria adalah pemicu kreativitas dan produktivitas penulis.