Mengatasi Writer’s Block Secara Ilmiah dan Santai Agar Ide Mengalir Lagi

Mengatasi writer’s block adalah bagian penting dalam kehidupan seorang penulis. Hambatan menulis memang kerap menjadi momok menakutkan bagi banyak penulis — entah itu blogger, penulis fiksi, atau content creator. 

Namun, bagaimanapun “seram”-nya, writer’s block bisa diatasi dengan berbagai cara. Beberapa metode untuk “menjinakkan” hambatan menulis itu terasa konyol. Sebagian lainnya berdasarkan riset psikologi kreativitas dan teknik menulis yang telah melalui serangkaian penelitian.

Dalam artikel ini, Anda akan menemukan cara-cara mengusir kebuntuan menulis berbasis riset. Tujuannya tidak lain supaya produktivitas dan kreativitas yang sempat mampet bisa kembali mengalir deras.

1. Freewriting: Tukang Sensor Silakan Menjauh

Metode freewriting merupakan salah satu teknik menulis paling direkomendasikan oleh pakar menulis modern. Dengan teknik ini, Anda harus menjauhkan urusan tata bahasa, struktur, dan ejaan. Silakan tulis saja apa pun yang terlintas dalam pikiran.

2. Journaling untuk Memetakan Hambatan Mental

Journaling bisa menjadi senjata ketika writer’s block menempel ketat di kepala Anda. Journaling adalah praktik menulis secara rutin. Tipe tulisan yang dihasilkan bisa bersifat expressive (menulis pengalaman dan emosi) atau reflective (merefleksikan proses, kemajuan, dan hambatan). 

Penelitian yang dilakukan oleh Pennebaker dkk. mengindikasikan bahwa praktik menulis ekspresif (journaling) berpengaruh positif terhadap kesehatan mental seseorang.

3. Pindah Lokasi Menulis: Pengaruh Fisik terhadap Kreativitas

Selain pikiran yang terusik, unsur-unsur fisik seperti tempat menulis bisa mendatangkan hambatan. Jadi, tidak ada salahnya mencoba berpindah lokasi ketika Anda kesulitan menuangkan ide ke dalam tulisan. Boleh juga sesekali menulis di teras rumah atau bahkan di dapur. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Lee menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh pada kreativitas seseorang.

4. Berteman dengan Teknologi: Menggandeng AI, Meraup Ide

Large Language Models (LLM) bisa membantu seorang penulis pada fase pra-penulisan. LLM adalah model bahasa berbasis AI skala besar yang mampu memahami pola suatu bahasa dan bisa menghasilkan teks secara otomatis.

Sebuah studi menunjukkan bahwa jalinan kolaborasi antara manusia dengan LLM akan meningkatkan kemampuan menelurkan ide.

Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati dalam menerapkan kerja sama dengan LLM ini. Sebab, ada sebuah penelitian yang menemukan adanya dampak buruk penggunaan LLM terhadap kreativitas. Jika kita terlalu bergantung pada LLM kreativitas kita bisa melemah.

Lantas, bagaimana baiknya? Apakah kita tidak dianjurkan menggunakan bantuan AI dalam proses menulis? Tenang, kita dapat menggunakannya sebagai teman brainstorming, bukan menggantikan kita sepenuhnya sebagai penulis.

5. Berpikir Kreatif Divergen dan Saktinya Ide yang Aneh-Aneh

Salah satu ciri kreativitas adalah kemampuan berpikir divergen (divergent thinking). Divergent thinking adalah kemampuan untuk menghasilkan ide yang berbeda-beda. Cara berpikir ini sangat berbeda dengan berpikir yang fokus pada satu solusi tertentu, atau biasa disebut convergent thinking. 

Jika kita sering berlatih mendorong pemikiran yang aneh atau out of the box, misalnya dengan menulis judul ngawur atau bereksperimen dengan gaya yang tidak biasa akan melatih kemampuan divergen. Kebiasaan berpikir divergen juga acap memunculkan ide-ide orisinal.

Ada sebuah teori yang dinamakan dual-process dalam kreativitas memberikan pandangan cukup menarik. Teori itu menyatakan bahwa berpindah-pindah mode antara pemikiran generatif (ide-ide liar) dan evaluatif (analisis) penting dilakukan untuk memunculkan ide-ide kreatif.

6. Humor, sang Pembangkit Mood Positif

Mood dan emosi bisa sangat berpengaruh pada kreativitas. Suasana hati yang positif–salah satunya karena ada humor–dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Membuat meme dan cerita-cerita lucu tentang writer’s block dapat berfungsi lebih dari sekadar hiburan. Lelucon-lelucon semacam itu bisa menjelma sebagai strategi jitu untuk mengusir stres sekaligus membuka keran untuk mengalirkan gagasan.

Sebuah penelitian mendapatkan kesimpulan bahwa mood positif seperti humor dapat meningkatkan divergent thinking. Temuan Lee at al itu menunjukkan perlunya unsur humor sebagai salah satu faktor yang dapat membantu kelancaran proses menulis.

7. Rehat: Recovery agar Otak Bisa Berkreasi Lagi

Adakalanya, hambatan menulis datang akibat kelelahan yang melanda mental. Oleh sebab itu, jeda sejenak dari aktivitas menulis bisa sangat membantu memulihkan mental Anda hingga bugar kembali.

Hal ini sejalan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Syrek et al. Riset itu menemukan bahwa kegiatan pemulihan (recovery) seperti beristirahat sejenak atau berjalan-jalan sebentar dapat meningkatkan kreativitas.

8. Writer’s Block Juga Ide

Bagi seorang penulis, apa pun bisa ditulis. Bahkan, kebuntuan menulis juga bisa menjadi bahan tulisan. 

Ibarat sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Menuliskan hambatan menulis bisa membuat Anda tetap produktif menghasilkan tulisan sekaligus menyingkirkan hambatan itu.

Dalam sebuah artikel, Anna Kournikova antara lain menyarankan untuk menuliskan sesuatu yang menimbulkan kebuntuan. Nah, writer’s block adalah salah satu bentuk hambatan yang memunculkan kebuntuan menulis. Jadi, menulis tentang hambatan menulis yang sedang dihadapi bisa menjadi bentuk usaha menyingkirkan kebuntuan tersebut.

Semestinya, writer’s block tidak diperlakukan sebagai sebuah kegagalan. Kondisi itu justru merupakan sinyal bahwa sistem kreatif dalam diri kita sedang membutuhkan penanganan khusus. Dengan memadukan berbagai teknik menulis, kita bisa keluar dari jeratan hambatan menulis dan kembali produktif menulis.

Jadi, silakan pilih metode paling cocok untuk mengatasi writer’s block yang sedang Anda hadapi.

Leave a Comment