Ilustrasi 4 rekomendasi buku bahasa indonesia
Ada banyak buku bahasa Indonesia yang bisa kita pakai untuk lebih mengenal dan memahami bahasa kita.
Barangkali kita merasa sudah mengenal bahasa Indonesia dengan baik. Bukankah setiap hari kita menggunakannya? Kita mengobrol, menulis, bekerja, dan menyampaikan pendapat memakai bahasa Indonesia. Pendek kata, kita mengakrabinya dalam keseharian kita.
Namun, benarkah kita sudah benar-benar memahami dan mempraktikkannya?
Apakah kita lebih memilih dan mendahulukan penggunaan istilah bahasa kita dalam bermedia sosial? Lalu, apakah kita masih mengenal kata-kata baku yang telah “terpinggirkan” oleh istilah-istilah dalam bahasa gaul yang merebak di tengah masyarakat? Kemudian, apakah kita mengenal keunikan-keunikan bahasa Indonesia yang mampu menarik minat orang asing untuk mempelajarinya?
Sejumlah pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa bahasa berkaitan dengan kebiasaan, cara berpikir, pergaulan, dan cara pandang kita terhadap diri kita sendiri dan orang lain.
Bulan Oktober menjadi kesempatan yang tepat untuk kembali memikirkan hal-hal terkait bahasa. Bulan Bahasa dan Sastra 2026 mengajak kita menempatkan bahasa Indonesia di tempat yang terhormat. Kita tidak hanya diharapkan memahami dan menggunakan bahasa kita dengan benar, tapi turut merawat dan mengembangkannya.
Kita bisa mulai berteman lebih mesra dengan bahasa Indonesia melalui empat buku hasil karya para pencinta bahasa Indonesia. Ada buku Polisi Bahasa karya Eko Endarmoko, Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? karya Ivan Lanin, Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku karya Ivan Lanin, dan Ajaib, Istimewa, Kacau: Bahasa Indonesia dari A sampai Z karya Andre Möller.
Keempat buku itu mengambil sudut pandang yang berbeda. Buku pertama mengajak kita memperhatikan persoalan penggunaan bahasa sehari-hari. Buku kedua mempertanyakan kegemaran menggunakan istilah asing. Yang ketiga mengajak kita menikmati urusan-urusan kecil menyangkut perkembangan bahasa. Sedangkan yang terakhir membahas keunikan bahasa Indonesia yang dirasakan oleh seseorang yang mempelajarinya sebagai bahasa asing.
Setiap Oktober kita memperingati Bulan Bahasa dan Sastra. Pada 2026, kita mengusung tema “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat”. Nggak main-main, kan?
Tema itu jelas menunjukkan tingginya kedudukan bahasa Indonesia. Bahasa persatuan kita ini menjadi salah satu penyokong martabat bangsa.
Masalahnya, selama ini upaya memartabatkan bahasa Indonesia seperti masih terkungkung di ruang kelas, forum seminar, atau acara kebahasaan belaka. Martabat bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata belum sepenuhnya terlihat.
Padahal, suatu bahasa akan benar-benar hidup ketika diaplikasikan melalui pemakaian sehari-hari. Ia hadir ketika orang berdebat, menulis artikel, menyusun laporan, mengobrol dengan teman, membuat konten, dan urusan-urusan nyata lainnya.
Dengan demikian, alangkah bagusnya kita memulai kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti memperhatikan pemilihan kata dan memahami maknanya. Lalu kita kata-kata itu saat berkomunikasi dengan orang lain.
Namun, mempelajari bahasa Indonesia tidak berarti kita menolak bahasa asing. Bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing memiliki tempat masing-masing dan kita tidap perlu mempertentangkannya.
Ada hal yang lebih penting dalam urusan ini. Kita mesti bijak menggunakan berbagai bahasa secara tepat sesuai tujuan, situasi, dan lawan bicara yang kita hadapi.
Mari kita bedah empat buku menarik yang membahas bahasa Indonesia dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
Umumnya orang menggunakan bahasa spontan saja. Kita memilih kata yang sering kita dengar dan populer. Kita juga meniru saja cara orang lain berbicara.
Tentu saja aktivitas itu wajar saja. Memang, siapa yang mau membuka kamus untuk mencari istilah paling pas setiap kali berbicara?
Barangkali, dalam kesempatan tertentu, sesekali kita perlu memeriksa kembali pilihan kata yang telah atau akan kita gunakan.
Buku Polisi Bahasa karya Eko Endarmoko menjadi menarik dalam kondisi semacam itu.
Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas ini berisi berbagai tulisan pendek tentang persoalan kebahasaan dalam kehidupan sehari-hari. Isinya gampang dicerna karena disampaikan secara populer.
Dalam buku ini, persoalan kebahasaan tidak selalu bermula dari benar atau salahnya penggunaan kata. Sebab, faktor konteks juga bisa memengaruhi pemahaman orang terhadap sebuah ungkapan.
Sebagai contoh, ada kalimat yang benar secara tata bahasa. Namun, orang bingung karena susunannya kurang jelas. Contoh lain, ada kata yang terasa kurang tepat ketika digunakan dalam situasi tertentu meskipun maknanya benar.
Hal semacam sangat penting terutama bagi orang yang berkecimpung di dunia penulisan seperti penulis artikel, pembuat modul, pembuat konten, dan editor.
Membaca buku semacam ini bisa menjadi salah satu cara untuk melatih kepekaan berbahasa. Melalui buku ini, kita akan belajar melihat hal-hal biasa dari sudut pandang lain. Bisa jadi kita bakal terdorong untuk mempertanyakan apakah cara kita menggunakan bahasa sudah sesuai dengan maksud yang ingin kita sampaikan.
Buku Polisi Bahasa untuk Siapa?
Buku Polisi Bahasa layak dipertimbangkan oleh pembaca yang suka mengamati pemakaian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Para penulis dan editor masuk kategori ini. Mahasiswa, guru, dan siapa pun yang ingin lebih cermat berkomunikasi juga bisa memanfaatkan buku ini.
Buku ini juga bisa menjadi pengingat bahwa selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari cara kita menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau ingin mengenalnya lebih jauh, silakan lihat buku Polisi Bahasa di Shopee melalui tautan ini.
Coba perhatikan percakapan di lingkungan kerja atau media sosial. Kita bakal kerap menjumpai kata-kata meeting, deadline, feedback, dan lain-lain. Sebagian istilah itu memang lazim digunakan dalam konteks tertentu, misalnya dalam pertemuan di lingkungan profesional.
Tidak sepatutnya kita menghindari semua istilah asing. Beberapa kondisi mengharuskan kita menggunakannya, misalnya ketika kita harus menampilkan suatu keadaan yang lebih dikenal dalam bahasa asalnya, atau saat kita menjumpai konteks yang memang membutuhkan bahasa asing.
Ada hal menarik terkait maraknya pemakaian isitilah asing dalam perbincangan bahasa Indonesia. Apakah kecenderungan kita memilih istilah asing disebabkan istilah itu lebih tepat dibandingkan istilah domestik, atau disebabkan kita merasa lebih modern dan bergengsi ketika menggunakannya?
Pertanyaan ini sangat dekat dengan buku Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? karya Ivan Lanin.
Istilah xenoglosofilia yang menjadi judul buku ini bermakna ketertarikan berlebihan terhadap bahasa asing. Buku ini memuat tulisan-tulisan kebahasaan yang membahas padanan istilah, pertanyaan mengenai penggunaan bahasa, bentuk kata yang tepat, dan masalah-masalah kebahasaan lainnya.
Ivan Lanin mengajak kita memeriksa kembali kebiasaan kita menggunakan bahasa Indonesia. Apakah kita memilih kata yang sesuai dengan pembaca atau pendengar? Apakah kita mengetahui padanan istilah asing yang kita pakai atau kita sekadar mengikuti kebiasaan yang berkembang saat ini?
Kita bisa membayangkan seorang penulis yang menghasilkan artikel untuk pembaca umum. Ia menggunakan banyak istilah asing tanpa mempertimbangkan kata bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami.
Namun, sebaliknya, mengganti semua istilah asing dengan bahasa Indonesia secara membabi buta bukan solusi terbaik. Sebuah istilah asing yang sudah dikenal luas, atau bahkan merupakan istilah teknis yang penting, layak dipakai untuk membantu kelancaran komunikasi yang sedang dibangun.
Jadi, persoalannya tidak terletak pada penggunaan kata-kata dalam bahasa asing atau bahasa Indonesia. Lebih penting kita memahami pilihan yang kita ambil dan menggunakannya sesuai kebutuhan.
Bahasa yang terdengar canggih belum tentu mampu memperjelas sebuah ucapan atau tulisan. Seringkali, kata-kata sederhana yang tepat lebih efektif dipakai untuk menyampaikan gagasan.
Buku ini untuk Siapa?
BukuXenoglosofilia bisa menjadi bacaan menarik bagi penulis, pekerja profesional, pembuat konten, dan siapa saja yang sering mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Buku ini juga dapat membuka diskusi yang lebih luas tentang hubungan bahasa dengan kebiasaan, identitas, dan gengsi penggunanya. Tidak sepatutnya kita menghakimi penggunaan setiap istilah asing. Kita hanya perlu menyadari alasan di balik pilihan kata yang kita gunakan.
Kalau tertarik untuk mendalaminya, silakan lihat buku Xenoglosofilia di Shopee melalui tautan ini.
Ketika mendengar istilah bahasa baku, mungkin banyak orang langsung membayangkan jurnal, buku pelajaran, atau daftar panjang istilah yang harus dihafalkan. Ada pula orang yang beranggapan bahasa Indonesia yang baik hanya berlaku dalam pembicaraan formal. Akibatnya, pembahasan tentang bahasa (yang baik) seakan-akan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, perkembangan bahasa tidak hanya terjadi melalui tulisan resmi, kamus, atau dunia pendidikan. Bahasa juga tumbuh dalam interaksi sosial dan kebiasaan yang ada di tengah masyarakat. Bahkan, kata-kata populer di media sosial dan ungkapan dalam pergaulan juga menjadi bagian dari perkembangan sebuah bahasa.
Pemikiran semacam itu menjadi topik bahasan dalam Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku, buku karya Ivan Lanin.
Buku ini membahas pemakaian bahasa Indonesia dengan pendekatan santai dan diselingi humor. Ivan Lanin menyoroti istilah-istilah yang tampak remeh, tetapi menarik jika diperhatikan sebagai bagian dari perkembangan bahasa dan kebiasaan suatu generasi.
Misalnya, kata-kata alay dan ambyar bisa membawa nuansa tertentu, mengingatkan kita pada periode waktu tertentu, atau menunjukkan cara komunikasi sebuah kelompok tertentu.
Sudah barang tentu, tidak semua kata populer cocok digunakan dalam setiap situasi. Bahasa yang digunakan obrolan di warung kopi mungkin tidak sesuai dipakai dalam surat dinas. Sebaliknya, bahasa yang tepat untuk dokumen resmi mungkin terasa kaku jika dipakai dalam perbincangan santai.
Kondisi demikian menunjukkan pentingnya memahami perbedaan antara bahasa baku dan bahasa yang digunakan dalam situasi informal.
Bahasa baku dibutuhkan ketika kita harus mengikuti kaidah atau memenuhi kebutuhan komunikasi tertentu. Sementara itu, bahasa sehari-hari memberi ruang bagi kita untuk memasukkan unsur-unsur keluwesan, keakraban, dan kreativitas.
Kedua kondisi itu tidak perlu dipertentangkan. Kita bisa menggunakan bahasa santai saat situasinya mendukung. Pada saat lain, kita bisa beralih ke ragam bahasa yang lebih formal.
Seorang penulis membutuhkan pemahaman ini. Tujuannya agar ia bisa membedakan tulisan untuk situs perusahaan, artikel yang ditayangkan di blog pribadi, modul pelatihan, dan unggahan media sosial. Mestinya ia menyesuaikan penggunaan gaya bahasa dengan tujuan tulisan dan tipe pembaca yang disasarnya.
Memahami konteks berbahasa akan membantu kita menentukan kapan kita menerapkan aturan dan ragam bahasa tertentu.
Dengan demikian, kita bisa menikmati proses belajar bahasa.
Buku ini untuk siapa?
Topiknya yang ringan membuat Recehan Bahasa cocok bagi siapa saja yang ingin memahami bahasa Indonesia sambil rebahan. Buku ini juga relevan bagi penulis dan pembuat konten yang ingin lebih peka terhadap pilihan kata, perkembangan istilah, dan perbedaan ragam bahasa.
Melalui buku ini, kita bisa belajar menggunakan bahasa yang pas tanpa kehilangan kenikmatan menjalani prosesnya.
Bila tertarik mendalaminya, silakan lihat buku Recehan Bahasa di Shopee melalui tautan ini.
Kita tentu sudah akrab dengan bahasa Indonesia karena mengggunakannya hampir setiap hari. Kita sudah terbiasa mendengar kosakatanya dan melihat susunan kalimatnya.
Namun, bagaimana seorang asing melihat bahasa yang kita anggap biasa?
Pengalaman menggunakan bahasa asing bisa memunculkan pertanyaan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Mengapa kebiasaan berbahasa yang masuk akal bagi penuturnya, tetapi membingungkan orang lain? Mengapa suatu bahasa yang memiliki aturan jelas memperlihatkan keunikan dalam pemakaiannya?
Buku Ajaib, Istimewa, Kacau: Bahasa Indonesia dari A sampai Z karya Andre Möller menawarkan sudut pandang menarik dari seorang asing terhadap bahasa yang “biasa” ini.
Andre Möller yang berasal dari Swedia telah lama mendalami bahasa Indonesia. Dalam buku ini, ia menyampaikan pandangannya tentang bahasa Indonesia melalui istilah-istilah yang disusun berdasarkan abjad, dari A sampai Z.
Selain membahas bahasa sebagai sistem komunikasi, buku ini juga menyentuh kebiasaan masyarakat, pilihan istilah, dan hubungan bahasa dengan gengsi sosial.
Pengamatan orang yang mempelajari bahasa lain membuatnya memperhatikan hal-hal yang sering luput dari perhatian pengguna asli bahasa ini. Sesuatu yang wajar bagi penutur asli tidak selalu mudah dipahami oleh orang yang “asing” dengan bahasa ini.
Sudut pandang seperti ini bisa menghindarkan kita dari sikap terlalu cepat menganggap bahasa Indonesia tidak menarik. Setiap bahasa memiliki karakter, keunikan, dan tantangan masing-masing.
Pandangan orang asing terhadap bahasa Indonesia membuat kita mengenali kembali kekayaan bahasa kita. Kita juga makin memahami bahwa bahasa tidak akan sepenuhnya terpisah dari masyarakat pemakainya.
Buku ini untuk siapa?
Ajaib, Istimewa, Kacau menarik bagi orang yang ingin melihat bahasa Indonesia dari sudut pandang berbeda. Buku ini juga berguna bagi siapa pun yang tertarik pada pembahasan hubungan antara bahasa, budaya, dan kehidupan sosial.
Melalui buku ini, kita juga bisa tergelitik untuk lebih memahami bahasa Indonesia tidak hanya karena statusnya sebagai bahasa nasional. Ternyata, bahasa kita juga menarik dan meningkatkan rasa ingin tahu kita akan berbagai keunikannya.
Kalau ingin mengetahui lebih dalam, silakan lihat buku Ajaib, Istimewa, Kacau: Bahasa Indonesia dari A sampai Z di Shopee melalui tautan ini.
Keempat buku yang telah kita bahas menawarkan cara pandang yang berbeda untuk mengenal bahasa Indonesia.
Polisi Bahasa mengajak kita memperhatikan persoalan kebahasaan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Xenoglosofilia mendorong kita memikirkan kembali motivasi kita yang cenderung suka menggunakan bahasa asing. Recehan Bahasa menunjukkan asyiknya belajar bahasa dari hal-hal kecil. Sementara itu, Ajaib, Istimewa, Kacau mengajak kita mengamati bahasa Indonesia dengan kacamata berbeda sehingga muncul banyak keunikan yang tak terduga.
Kita tidak harus membacanya secara berurutan. Kita bisa memilih sesuai persoalan yang bikin kita tertarik mendalaminya.
Seseorang yang sering berurusan dengan tulisan bisa mempertajam kepekaan berbahasa melalui Polisi Bahasa. Orang yang suka penasaran dengan kecenderungan mencampur bahasa, Xenoglosofilia adalah pilihan yang tepat. Bagi penyuka bahasan ringan, Recehan Bahasa patut dipertimbangkan. Sementara itu, pembaca yang ingin melihat keunikan bahasa Indonesia dari perspektif berbeda dapat melirik buku Ajaib, Istimewa, Kacau.
Rasanya, kita tidak akan langsung mengubah semua kebiasaan berbahasa setelah membaca sebuah buku. Namun, barangkali kita akan lebih berhati-hati saat memilih kata, lebih memahami alasan menggunakan istilah tertentu, dan lebih terbuka terhadap ragam bahasa yang berbeda dengan kebiasaan kita.
Tema yang diusung dalam Bulan Bahasa dan Sastra 2026, “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat” mengandung makna mendalam. Tema ini mengingatkan kita akan kedudukan bahasa Indonesia di tengah masyarakat. Martabat bahasa ini tidak hanya ditentukan oleh adanya perayaan seremonial atau acara formal. Namun, bagaimana kita menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari bisa memberikan pengaruh besar.
Kita tidak akan merawat bahasa Indonesia dengan menutup diri dari bahasa asing. Kita akan tetap dapat mempelajarinya dan mengambil manfaat darinya. Pada saat yang sama, kita juga akan terus memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai kebutuhan.
Kita tidak harus menjadi ahli bahasa untuk turut mengembangkan bahasa Indonesia. Banyak hal bisa kita lakukan sesuai posisi dan kondisi kita.
Misalnya, sebagai penulis, kita bisa belajar memilih kata yang lebih tepat. Sebagai pengguna media sosial, kita bisa makin menyadari besarnya pengaruh kata-kata yang kita pilih dalam pesan-pesan yang kita sampaikan.
Sebagai Bulan Bahasa dan Sastra, Oktober menjadi momentum kita menyadari peran kita memajukan bahasa Indonesia. Membaca buku-buku yang mengajak kita peduli terhadap bahasa Indonesia menjadi salah satu pintu gerbang menuju kepedulian kita akan “nasib” bahasa persatuan kita.
Empat buku di atas menawarkan jalur berbeda menuju sasaran kita. Silakan pilih buku yang pas, lalu biarkan pertanyaan-pertanyaan di dalamnya menjadi awal untuk mengenal lebih dalam bahasa Indonesia kita.
Semakin sering kita menggunakan bahasa, semakin besar pula kesempatan untuk memahami banyaknya hal menarik yang layak kita perhatikan.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.