Motivasi

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang.

Itulah salah satu hal membingungkan yang banyak dialami penulis dalam perjalanan menulis mereka. Saya juga mengalaminya, dan barangkali Anda pun demikian.

Pada awal belajar, kita merasa cukup percaya diri untuk menulis dan bahkan menerbitkannya. Kita merasa tulisan lumayan bagus. Ide-ide di kepala bisa mengalir tanpa hambatan yang berarti.

Bahkan, saat itu mungkin saja kita mulai meyakini bahwa kita memang punya bakat menulis.

Lalu, dalam perjalanan selanjutnya, kita mulai membaca lebih banyak buku tentang kepenulisan. Kita juga mengikuti akun-akun penulis lain.

Secara teknis kita pun mempelajari banyak hal. Kita belajar merancang kalimat pembuka yang kuat, memahami struktur tulisan, memperhatikan ritme paragraf, mengatur diksi, dan membangun emosi dalam tulisan.

Tentu saja semua usaha itu kita lakukan agar kita semakin mahir menuangkan gagasan menjadi sebentuk tulisan. Dengan tingkat kemahiran yang makin tinggi, kita berharap bakal kian pede melahirkan tulisan-tulisan berikutnya.

Namun, apa yang terjadi? Sungguh aneh. Setelah banyak belajar, justru rasa percaya diri menurun.

Kalau dulu kita merasa tulisan kita cukup bagus, sekarang tampak biasa-biasa saja. Kalimat yang dulu mengalir mendadak terasa kaku dan canggung.

Lantas kita mulai menghapus banyak tulisan kita. Kita menjadi lebih sering merasa bimbang dengan hasil karya kita sendiri.

Nah, apakah Anda merasakan hal yang sama?

Bila benar demikian, barangkali muncul pertanyaan dalam hati Anda, mengapa jadi begini?

Melihat Kekurangan Diri

Saat seseorang mulai serius belajar menulis, biasanya terjadi sebuah perubahan pada dirinya. Perubahan itu adalah meningkatnya standar pribadinya.

Awalnya, seorang penulis bekerja dengan kebebasan tinggi. Kebebasan itu muncul karena dirinya belum begitu menyadari hal-hal yang membuat sebuah tulisan menjadi “hidup” atau membosankan.

Selama bisa menyampaikan ide yang berkecamuk di kepala, ia sudah merasa cukup. Namun, setelah belajar lebih jauh, ia mulai mengenali banyak hal yang sebelumnya hampir tidak terlihat.

Pengalaman belajar itu membuatnya menyadari beberapa hal seperti:

  • pembuka tulisan kurang menggugah minat pembaca,
  • paragraf terlalu panjang,
  • ritme tulisan tidak nyaman dibaca,
  • emosi di dalam tulisan masih datar,
  • argumen belum cukup kuat.

Adakalanya kesadaran ini membuat kita merasa tidak nyaman. Namun, kesadaran ini merupakan salah satu tanda adanya perkembangan pada diri kita. Semakin banyak belajar, kita akan mampu melihat lebih banyak kekurangan.

Hal ini akan menimbulkan masalah bila kemampuan melihat kekurangan berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan memperbaikinya. Akibatnya timbul ketimpangan. Ketika standar kualitas sudah meningkat, kita belum memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada karya kita.

Biasanya ketimpangan seperti ini akan menumbuhkan rasa tidak percaya diri pada diri kita.

Paradoks Belajar Menulis: Semakin Tahu, Semakin Ragu

Dalam dunia pembelajaran, kita mengenal sebuah paradoks: semakin banyak tahu, kadang-kadang kita menjadi semakin ragu. Paradoks ini terjadi juga di dunia kepenulisan.

Pada masa awal menjadi penulis, kita belum tahu banyak hal tentang menulis. Ketidaktahuan ini membuat kita tidak terlalu memikirkan kemampuan kita menulis dan hasil tulisan kita.

Jadi, ketika menyelesaikan sebuah tulisan, perasaan kita biasa-biasa saja. Kita meyakini tulisan kita telah benar-benar selesai. Mungkin kita tidak terpikir untuk memeriksa hasilnya, membandingkan dengan tulisan lain, dan merevisinya.

Lalu kita belajar dan mulai memahami lebih banyak pengetahuan tentang teknik menulis dan membaca karya-karya tulis yang bagus. Kedua hal itu membuat kita lebih mengenal tulisan-tulisan yang matang.

Nah, berkat pemahaman itu, standar pribadi kita berubah. Kita mulai membandingkan tulisan kita dengan karya penulis lain yang jauh lebih berpengalaman.

Membandingkan tulisan bisa berdampak baik, tetapi sering juga berdampak buruk kalau dilakukan secara tidak proporsional. Umumnya kita langsung membandingkan draf kita yang masih mentah dengan hasil akhir milik orang lain.

Kalau Anda suka kuliner, coba bandingkan nangka muda yang baru dicacah-cacah dengan sepiring gudeg Yogya yang sedap-sedap manis itu. Sudah tentu amat berbeda rasanya, bukan?

Kita sering melupakan satu hal penting. Seperti gudeg Yogya, tulisan orang lain yang matang itu sudah melalui proses panjang, misalnya:

  • berkali-kali revisi,
  • sebagian besar isinya dibuang,
  • strukturnya dirombak.

Mungkin saja tulisan itu sama buruknya dengan draf kita di awal pembuatannya.

Sebaliknya, kita tentu tahu persis proses apa saja yang telah dilalui oleh tulisan kita. Di dalamnya terkandung rasa ragu, ada beberapa bagian yang dipaksakan, terdapat potongan ide yang belum matang, dan ada juga kalimat-kalimat yang belum pas.

Seorang penggemar kuliner tentu akan memilih gudeg Yogya untuk sarapan. Mereka nggak bakal menginginkan potongan-potongan nangka muda untuk makan pagi.

Banyak Membaca Menaikkan Standar Kualitas

Seorang penulis bisa juga kehilangan kepercayaan diri seiring meningkatnya kualitas bacaan yang telah dilahapnya.

Menulis dan membaca adalah pasangan tak terpisahkan. Kalau kita benar-benar serius belajar menulis, kita pasti lebih banyak membaca.

Kegiatan membaca memiliki dampak yang unik, yakni mengubah standar. Sebelum rajin membaca, mungkin kita cukup puas dengan hasil tulisan yang “sekadarnya”. Namun, setelah membaca berbagai karya yang bagus, kita akan menyadari adanya peluang memperbaiki tulisan kita.

Bukankah ini hal yang bagus? Bisa jadi awalnya sangat memotivasi. Namun, di sisi lain, kondisi ini bisa menimbulkan perasaan kecil hati.

Setelah menemukan banyak bacaan bagus, kita mungkin dihantui perasaan bahwa tulisan kita “jelek”. Di benak kita barangkali akan muncul pertanyaan, “Kenapa tulisan saya tidak seperti itu?”

Pertanyaan semacam ini bisa memunculkan rasa rendah diri.

Mengapa Penulis Pemula Lebih Percaya Diri?

Seseorang yang baru mulai menulis sangat pede menampilkan tulisannya di berbagai media. Namun, semakin banyak belajar, keberaniannya menerbitkan tulisan justru menurun.

Dalam psikologi, fenomena ini sering disebut dengan istilah Dunning–Kruger effect. Efek ini menunjukkan kecenderungan seseorang yang masih sangat minim pengetahuan lebih mudah merasa percaya diri, sementara orang yang semakin memahami kompleksitas suatu bidang cenderung lebih berhati-hati dalam menilai kemampua dirinya. Seseorang yang sudah banyak belajar akan menyadari banyaknya hal yang belum diketahuinya.

Sebenarnya, fenomena ini umum terjadi. Ketika seseorang belum memiliki banyak pengetahuan tentang suatu hal, ia cenderung tidak menyadari seberapa kompleks sebuah keterampilan, misalnya menulis.

Bagi pemula, menulis tampak sederhana. Asal punya ide, tuliskan saja.

Namun, ketika sudah banyak belajar, ia mulai mengenal banyak unsur dalam proses menulis seperti struktur, alur berpikir, logika, ritme bahasa, kejelasan, emosi, sudut pandang pembaca, dan pemilihan kata.

Semakin menyadari kompleksitas suatu aktivitas, ia akan semakin mudah merasa dirinya “belum apa-apa”.

Sebenarnya, kesadaran seperti ini tidak selalu berakibat buruk. Bila diperlakukan secara tepat, kesadaran ini menjadi tanda bahwa ia mulai melihat dunia menulis secara lebih matang.

Rasa Tidak Percaya Diri Menulis yang Menghambat

Sebetulnya rasa tidak percaya diri bisa membantu kita. Perasaan itu membuat kita mau belajar dan memperbaiki diri. Namun, pada suatu titik tertentu, keraguan menjadi hambatan.

Misalnya ketika seseorang terlalu takut mempublikasikan tulisan, tidak pernah merasa tulisannya cukup bagus, atau bahkan berhenti menulis sama sekali. Pada titik ini, rasa tidak percaya diri menulis telah menghambat aktivitas menulisnya.

Ironisnya, banyak orang berhenti menulis karena mereka terlalu keras menilai dirinya sendiri. Padahal mereka memiliki kemampuan menulis yang cukup baik. Penilaian yang tidak proporsional telah memutuskan kesempatan mereka untuk berkarya.

Tidak heran jika muncul teori seperti menulis bebas (free writing). Teori ini menganjurkan kita menyelesaikan tulisan tanpa memedulikan ejaan, pemilihan kata, saltik, dan lain-lain. Urusan-urusan “tetek bengek” itu bisa dipoles kemudian.

Bagaimana Menyikapi Rasa Tidak Percaya Diri Saat Belajar Menulis?

Ada beberapa hal yang perlu diingat menyangkut keraguan yang sering muncul dalam proses belajar menulis.

1. Tidak percaya diri tidak menunjukkan tidak ada perkembangan

Ketika muncul rasa tidak pede, sebaiknya tidak mengaitkannya dengan perkembangan belajar kita. Perasaan itu bisa muncul karena kita mulai mampu melihat kualitas tulisan dengan lebih jernih.

Dengan kemampuan itu, kita jadi tahu bagian-bagian tulisan yang bisa kita perbaiki. Bukankah hal itu merupakan pertanda baik yang menunjukkan berjalannya proses pembelajaran kita?

2. Proses yang kita jalani berbeda dengan hasil akhir milik orang lain

Saat kita menemukan tulisan yang indah, sebaiknya tidak terburu-buru membayangkan bahwa tulisan itu lahir dengan mudah. Kita mesti menyadari hampir semua penulis punya membuat draf buruk ketika mengawali karya mereka. Mereka menyimpan rapat-rapat draf itu dan tidak pernah memperlihatkannya kepada publik.

Jadi, kita hanya bisa melihat versi akhirnya.

3. “Belum bagus” di awal belajar adalah hal lazim

Salah satu tekanan terbesar dalam proses belajar menulis adalah keinginan untuk cepat mahir dan menghasilkan karya yang “wah”.

Sebaiknya kita menyadari bahwa kemampuan menulis kita bisa saja berkembang secara perlahan. Barangkali kita harus melalui masa ketika kita merasa kikuk dengan karya kita, atau merasa tulisan kita datar-datar saja. Semua itu adalah bagian normal dari sebuah perjalanan bernama belajar menulis.

4. Perasaan tidak yakin tidak harus menghentikan aktivitas menulis

Adakalanya rasa percaya diri muncul saat setelah kita terus menjalankan aktivitas belajar dan menulis. Bisa saja tulisan pertama kita biasa-biasa saja. Bahkan hingga tulisan kesepuluh pun masih belum memuaskan.

Namun, sangat mungkin tulisan keseratus telah menunjukkan perkembangan besar sebagai hasil proses belajar kita.

Anda Sedang Bertumbuh, Bukan Memburuk

Anda perlu waspada jika akhir-akhir ini merasa semakin banyak belajar menulis justru semakin tidak percaya diri.

Langkah pertama, Anda tidak perlu panik. Bisa jadi Anda tidak sedang kehilangan kemampuan, tetapi Anda sedang memasuki fase ketika perasaan Anda lebih peka melihat kualitas sebuah karya.

Pada fase ini, wajar saja bila Anda merasa tidak nyaman. Anda mungkin merasakan tulisan Anda tidak cukup bagus.

Anda hanya perlu meyakinkan diri untuk terus menulis. Sering kali, fenomena itu merupakan pertanda Anda sedang bergerak ke arah perkembangan yang baik.

Orang yang sedang belajar sering mengajukan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa menulis lebih baik lagi?”

Selama masih muncul pertanyaan itu, proses belajar menulis yang Anda jalankan menunjukkan perkembangan yang bagus.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

Mengapa Scroll Sosmed Lebih Asyik Ketimbang Membaca Buku?

Scroll sosmed yang kamu rencanakan sebentar saja ternyata sudah 30 menit tanpa kamu sadari. Kamu…

7 months ago

This website uses cookies.