ilustrasi cara membuat modul yang baik
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul.
Mereka memiliki materi lengkap, slide presentasi yang estetis. Bahkan, catatan pelatihannya mungkin juga ada. Tinggal kumpulkan semuanya, susun yang rapi, dan jadi PDF.
Apakah semudah itu membuat modul? Bisa jadi begitu.
Namun, tunggu dulu.
Ketika seseorang membuka modul, biasanya ia tidak hanya membutuhkan materi yang lengkap. Ia juga mesti tahu harus mulai mempelajari modul itu dari mana, apa yang perlu dipahami lebih dulu, dan bagaimana satu pembahasan nyambung dengan pembahasan berikutnya.
Nah, bentuk PDF yang pertama bisa kita sebut kumpulan materi. Sementara itu, modul yang benar-benar membantu orang belajar mestinya punya struktur seperti bentuk kedua.
Barangkali kita masih sering menemukan anggapan bahwa membuat modul itu sangat mudah. Cukup mengumpulkan bahan-bahan yang sudah ada, lalu “dijilid” dalam format yang diinginkan.
Kita bisa menganalogikan modul dengan memasak. Ketika kita memiliki semua bahan makanan, tidak berarti kita langsung bisa menyajikan hidangan lezat yang siap disantap. Untuk mendapatkan hidangan, kita harus melakukan sejumlah proses: memilih, mencuci, memotong, memasak, dan menatanya hingga bahan-bahan itu benar-benar bisa dinikmati.
Modul bekerja dengan logika yang serupa dengan memasak. Materi hanyalah bahan dasar yang harus diolah. Materi yang lengkap tidak langsung berdampak pada kemudahan orang memahami materi tersebut.
Kita harus “memasak” materi tersebut menjadi “hidangan” modul yang mudah dipahami dan digunakan. Kalau materi yang ada tidak diproses dengan benar, modul “lengkap” yang dihasilkannya mungkin tetap akan membingungkan pembacanya.
Setiap modul yang baik seharusnya mampu membawa pembaca meraih tujuannya. Setelah mempelajari modul ini, pembaca memahami atau bisa melakukan apa?
Tanpa tujuan jelas, materi yang panjang pun tidak akan mampu membuat pembaca memahami apa yang penting dalam sebuah modul. Sebaliknya, tujuan yang jelas akan membantu penulis modul menentukan struktur modul. Ia bisa mempertimbangkan materi apa yang perlu dimasukkan, mana yang cukup dijelaskan secara singkat, dan bagaimana urutan pembahasannya.
Tidak semua hal yang kita ketahui harus dimasukkan ke dalam modul. Semakin jelas tujuan pembuatan modul, semakin mudah menentukan apa yang sebaiknya dimasukkan dan materi apa yang boleh ditinggalkan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip backward design dalam dunia pendidikan. Prinsip ini dijalankan dengan menentukan tujuan dan hasil belajar terlebih dahulu, lalu memutuskan materi dan aktivitas apa yang akan digunakan untuk mencapainya.
Coba bayangkan. Suatu ketika kita masuk ke sebuah rumah yang banyak ruangannya, tapi tanpa pintu, lorong, dan petunjuk arah. Memang semua ruangan berperabotan lengkap. Namun, apa yang bisa kita lakukan dengan perabotan itu kalau kita tidak tahu lewat mana kita menuju ke sana.
Modul tanpa struktur bakal memiliki masalah serupa. Pembaca membutuhkan “peta” untuk mengetahui dari mana memulainya, apa yang perlu dipelajari lebih dulu, dan bagaimana satu materi berhubungan dengan materi berikutnya.
Struktur dalam modul bukan sekadar hiasan tambahan yang bisa dilewatkan begitu saja. Struktur merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah modul, dan sering kali menunjukkan pengalaman yang sesungguhnya dari proses mempelajari modul tersebut. Tak jarang, struktur menjadi faktor yang membedakan modul yang “mengalir” dengan modul yang sekadar berisi tumpukan informasi.
Materi yang terus mengalir tanpa jeda dari halaman pertama sampai terakhir bisa membuat pembaca menjadi penonton pasif. Mereka sekadar melewati halaman demi halaman tanpa benar-benar menyerap apa pun dari modul itu.
Karena itu, biasanya modul yang baik memiliki ruang jeda yang cukup. Ruang jeda bisa berwujud contoh, pertanyaan reflektif, latihan sederhana, rangkuman, atau ilustrasi kasus.
Memang tidak semua modul harus dilengkapi semua jenis ruang jeda sekaligus. Hal penting yang harus menjadi perhatian, pembaca diberi kesempatan untuk mengolah informasi sendiri, tidak hanya menerimanya secara pasif.
Hal ini juga selaras dengan cognitive load theory. Teori ini menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Dengan demikian, informasi yang disajikan tanpa jeda atau tanpa struktur yang jelas akan menghambat proses belajar.
Halaman-halaman modul tidak dibuat hanya untuk dilewati begitu saja. Semua materi itu ditampilkan untuk membantu pembaca benar-benar memahami informasi yang ada di dalamnya.
Saat memikirkan sebuah modul, banyak orang langsung membayangkan tampilannya.
Tidak salah memberikan perhatian pada desain. Desain yang bagus memang dapat membuat pembaca nyaman menikmati suatu modul.
Namun, desain tidak akan mampu memperbaiki materi modul yang tidak terstruktur. Modul dengan sampul menarik, tetapi isinya meloncat-loncat tetap akan membuat pembaca bingung. Sebaliknya, materi yang sebenarnya baik pun bisa kehilangan potensinya kalau tampilannya terlalu padat dan sehingga dibaca.
Isi dan desain seharusnya “berkolaborasi” menjadikan modul berkualitas. Kedua unsur penting modul itu tidak bisa saling menggantikan peran satu sama lain.
Membuat modul tidak sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Modul yang baik seharusnya mampu membantu pembaca bergerak dari kondisi “belum tahu” menjadi “lebih memahami” materi yang disajikan dalam modul.
Mungkin kamu sudah memiliki banyak materi berharga. Tantangan yang kamu hadapi tidak lagi mencari materi baru. Sekarang kamu harus menyusun materi yang sudah kamu miliki sedemikian rupa sehingga orang lain bisa mempelajarinya dengan mudah.
Pekerjaan itu jelas tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya.
Nah, kalau kamu sudah memiliki materi, pengalaman, atau bahan pelatihan, kamu bisa menyusunnya menjadi modul yang memberikan nilai lebih besar. Namun, kalau kamu masih bingung, kami bisa membantu menyusunnya menjadi modul yang utuh.
Silakan klik tautan berikut ini kalau kamu perlu bantuan membuat modul yang rapi dan profesional.
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
Scroll sosmed yang kamu rencanakan sebentar saja ternyata sudah 30 menit tanpa kamu sadari. Kamu…
This website uses cookies.