ilustrasi motivasi menulis
Sapardi punya cara unik untuk memotivasi diri sendiri, yakni dengan menyukai tulisan yang belum jadi. Bagaimana memaknai kalimat “ajaib” ini?
Belum lama ini saya mendengarkan podcast berisi rekaman wawancara dengan salah seorang penyair terkemuka di negeri kita.
Dalam obrolan yang mengambil tema “Rahasia Sederhana Proses Menulis Eyang Sapardi Djoko Damono“, sang penyair mengungkapkan banyak hal. Salah satu materi seru obrolannya menyangkut proses menulis yang sekian lama dilakoninya.
Secara umum, banyak sekali inspirasi yang saya petik dari obrolan santai dengan penganggit puisi legendaris Hujan Bulan Juni ini.
Di antara sekian banyak inspirasi yang saya peroleh dari acara ini, ada satu pelajaran berharga yang akan saya ceritakan di sini.
Saya sangat terkesan dengan sebuah prinsip yang dijalankan almarhum Pak Sapardi dalam aktivitas menulis yang dilakukannya. Begini ceritanya.
Sebagai penutup sesi wawancara itu, si pembawa acara mengajukan sebuah pertanyaan, “Di antara puisi-puisi yang telah Bapak hasilkan, Bapak paling suka puisi yang mana?”
Ternyata, jawaban yang dikemukakan sang penyair di luar dugaan. Sembari sedikit terkekeh, beliau mengatakan, “Puisi yang paling saya sukai belum saya tulis, dan saya tidak tahu puisi apa itu.”
Sama halnya dengan diri saya. Mendengar jawaban nyeleneh itu, mulut saya agak ternganga dibuatnya.
Jika sebagian penulis memiliki waktu favorit untuk menjalankan rutinitas menulis, tidak demikian halnya dengan Pak Sapardi. Beliau menyatakan bisa menulis kapan saja dan di mana saja.
Satu lagi pengakuannya yang menghebohkan. Penulis yang mengawali kiprah kepenulisannya dengan banyak menerjemahkan karya-karya sastra berbahasa asing itu mengaku tidak memercayai inspirasi.
Ketika ingin menulis, beliau langsung saja menulis, tidak perlu menunggu-nunggu hadirnya inspirasi. Ide-ide menulis telah tertanam dalam dirinya sehingga bisa langsung dituangkan dalam wujud berbagai genre tulisan.
Sebuah pengakuan yang amat mencengangkan. Seorang penulis tidak membutuhkan inspirasi?
Cukup lama saya termangu-mangu hingga terlontar pertanyaan dalam hati tentang keganjilan ini. Namun, setelah mencerna sekian lama, kini saya mulai mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Ah, ternyata ada rahasia tersembunyi di balik “teka-teki” yang menyembul dari pernyataan Eyang Sapardi.
Saya telah mencoba beberapa macam teori saat mulai menulis. Sekarang ini saya lebih banyak menganut metode menulis bebas, antara lain setelah mempelajari metode menulis cepat dan terus-menerus ala Mark Levy.
Sejatinya saya tidak mampu bersikap se-cuek Pak Sapardi dalam memandang inspirasi. Namun setelah mencoba menulis secara bebas, tingkat ketergantungan saya terhadap “benda keramat” bernama inspirasi sedikit demi sedikit teratasi.
Kembali pada ucapan sang penyair tentang puisi yang belum ditulis.
Saya menduga bahwa ungkapan itu merupakan sebentuk upaya membangkitkan motivasi diri sendiri untuk terus menulis. Puisi yang belum ditulis harus ditulis dan harus lebih baik dibandingkan yang telah ditulis.
Jadi, kira-kira, ungkapan seperti itu menggambarkan keinginan Pak Sapardi untuk selalu menjaga motivasi diri sendiri. Betapa penyair itu ingin mendorong dirinya sendiri untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik dibandingkan sekian banyak tulisan yang telah diproduksinya.
Saya kira bukan cuma beliau sendiri yang termotivasi oleh pernyataannya yang luar biasa itu. Mendengar ungkapan demikian, mendadak saya merasa lebih bersemangat lagi untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang semakin baik kualitasnya.
Coba bayangkan. Penulis sekaliber Pak Sapardi belum merasa puas dengan karya-karya berkualitas tinggi yang telah dihasilkannya.
Lantas, bagaimana dengan diri saya yang belum menghasilkan apa-apa? Apakah pantas saya berbangga diri?
Bagi saya, ucapan Pak Sapardi itu menjadi semacam pecut yang menyambar perasaan begitu saja. Sungguh saya ini seorang yang tak punya rasa malu.
Kadang-kadang saya mengagumi tulisan-tulisan saya sendiri. Bahkan, adakalanya terlintas sedikit rasa jemawa ketika membanding-bandingkan beberapa artikel yang saya tulis dengan artikel-artikel serupa yang tersebar di pelbagai media.
Silakan baca juga tulisan mengenai cara menghadapi kritikan pedas yang elegan dan bermartabat.
Ini merupakan tamparan yang sangat keras, langsung menerpa wajah saya. Sindiran Pak Sapardi seakan-akan memang ditujukan kepada diri saya sendiri.
Pantas saja, keadaan saya begini-begini saja. Seperti tak ada kemajuan berarti yang saya dapatkan selama ini.
Jika belum apa-apa sudah keburu berpuas diri, bagaimana mungkin mau belajar lebih giat lagi. Perasaan cepat puas itu telah menahan saya untuk berjalan di tempat saja dan enggan melangkah lebih jauh.
Saya berharap momen mendapatkan “hardikan” dari Pak Sapardi ini menjadi titik tolak untuk senantiasa berupaya memperbaiki diri. Semoga sentilan itu menggelorakan semangat saya untuk lebih giat mengejar ilmu, dan tentu saja segera mempraktikannya secara konsisten.
Terima kasih, Pak Sapardi. Pelajaran yang Anda sampaikan sungguh bernilai tinggi.
Kini, ketimbang capek menyesali diri, alangkah baiknya saya mulai rutin menyuntikkan motivasi bagi diri sendiri.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.