poster slow writing
Slow writing adalah solusi bagi pikiran yang “sakit” akibat tuntutan konten serba cepat yang merajalela belakangan ini. Era digital yang “disusupi” kecerdasan buatan alias artificial intelligence memang telah meminggirkan kebiasaan banyak orang menghasilkan karya dengan cara “slow motion”.
Slow writing, secara sederhana, bisa dimaknai sebagai proses menulis yang dilakukan secara perlahan dengan penuh kesadaran. Berbeda dengan anggapan bahwa produktivitas berarti cepat, slow writing justru menekankan kedalaman, proses, dan kualitas. “Modus” ini merupakan bentuk mindful writing, yakni proses menulis yang mengandalkan pikiran dan perasaan ketimbang mengejar target menghasilkan sekian banyak tulisan dalam waktu singkat.
Mestinya, cara menulis pelan tidak diterjemahkan sebagai lambatnya proses menulis. Alangkah elok bila frasa ini lebih dikaitkan dengan kesadaran dan ketelitian dalam mengekspresikan ide hingga mewujud sebagai tulisan.
Hiruk pikuk dunia digital yang serba tergesa-gesa kerap bikin sesak napas orang-orang yang setia mengikutinya. Lantas, teknik menulis pelan bisa menjadi obat bagi para penulis yang merindukan karya orisinal dan sarat pendalaman.
Slow writing adalah proses menulis yang dilakukan secara bertahap, penuh perhatian, dan tidak tergesa-gesa. Cara ini bertujuan untuk menghasilkan tulisan yang bermakna dan tidak menargetkan hasil karya dalam kuantitas tertentu.
Bisa dikatakan bahwa “biang” dari slow writing adalah konsep mindfulness writing—sebuah praktik menulis yang ditandai dengan kehadiran kita sepenuhnya pada proses penulisan.
Ada beberapa faktor yang menandai aktivitas menulis pelan, antara lain:
Setiap detik, ribuan konten baru menghampiri kita. Makhluk ajaib bernama AI mampu menulis dengan kecepatan super. Kehadirannya mampu membuat kecepatan menjelma sebagai ajang perlombaan hampir di setiap sudut dunia.
Rupanya, situasi ini telah mendorong banyak penulis dan para aktivis literasi mengungkapkan pandangan mereka. Sebagian di antara mereka berpendapat bahwa melambat bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kreativitas.
Sekarang, kita sambangi seseorang bernama Melissa Matthewson. Dalam sebuah artikel yang terbit di LitHub, Melissa menyatakan bahwa slow writing merupakan bentuk “revolusi kreativitas” untuk memberi kesempatan berbagai gagasan tumbuh secara alami.
Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas slow writing. Berikut ini beberapa di antaranya:
Jadi, kita dapat mengatakan bahwa proses menulis pelan akan membawa kita benar-benar “menulis”, bukan sekadar mengetik atau menorehkan kata-kata. Quincy Hawley dari Writer’s Cooperative memperkuat pandangan itu. Menurutnya, memperlambat proses menulis akan mengurangi rasa cemas penulis serta mengembalikan kenikmatannya menulis.
Ada beragam kebiasaan yang bisa dilakukan untuk menjalankan metode slow writing, antara lain:
Lakukan aktivitas ringan ini sebelum mulai menulis. Tarik napas pelan-pelan, hadirkan kesadaran, dan fokus pada perasaan yang muncul.
Saat menemukan ide, segera catat, lalu biarkan selama beberapa waktu. Ketika Anda kembali untuk menuliskannya, ide tersebut telah matang hingga memudahkan Anda menghasilkan tulisan yang lebih bermakna.
Hilangkan atau setidaknya kurangi kondisi-kondisi yang berpeluang mengganggu aktivitas menulis seperti notifikasi HP dan terbukanya tab-tab yang tidak Anda butuhkan.
Nikmati proses menemukan kalimat terbaik saat Anda menulis. Hindari pikiran untuk segera merevisi tulisan tersebut.
Usahakan untuk memahami apa yang benar-benar ingin Anda “katakan” melalui tulisan. Jauhkan pikiran untuk sekadar menyelesaikan tulisan.
Tentu saja kita sulit menilai mana yang terbaik, slow writing atau fast writing. Keduanya penting dan memiliki fungsi yang berbeda. Inilah beberapa perbedaan antara kedua metode menulis tersebut.
Ada juga orang yang berpandangan bahwa penganut “paham” menulis selow adalah orang-orang yang anti teknologi AI. Sebenarnya aktivitas slow writing tidak dimaksudkan untuk melawan AI. Lebih pas jika dikatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kesadaran untuk memilih, kapan harus menulis secara cepat dan kapan mesti merenung dan merasakan makna yang mendalam.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa teknologi sangat membantu proses eksekusi. Namun, kedalaman makna tetap akan lahir dari pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia.
Pelan tidak sama dengan lemah, melainkan kesadaran untuk memilih. Kini saatnya kita memilih kapan mau ngebut dengan fast writing, dan kapan harus mengerem laju menulis dengan metode slow writing.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.