Resensi

Meski Bukan Nama Terkenal, Sosok Unik Tetap Menarik

Nama terkenal adalah daya tarik dalam pelbagai hal, termasuk untuk ditulis sosoknya. Namun, meskipun tak terkenal, figur unik tetap bakal menarik ditampilkan.

Mulanya, menulis sosok hanya menjadi sampingan Pepih Nugraha. Ya, selaku wartawan sebuah media berita, tentu saja tugas utamanya menyuplai warta bagi surat kabar yang menaunginya.

Silakan baca artikel yang mengupas aktivitas menulis bisa menjadi beban sekaligus kesenangan.

Di sela-sela mengejar kabar, ia sekaligus memburu sosok yang dirumuskannya pantas ditulis dan dipublikasikan. Ia memang tak mau sekadar menyelam, melainkan sekalian minum airnya.

Apa saja yang menjadi pertimbangan dalam menentukan apakah seseorang pantas ditulis atau tidak?

Semua Berawal dari Pertanyaan Sederhana

Ya, Pepih yang kala itu bertugas sebagai wartawan Kompas memang selalu memulai niatnya menulis sosok dengan sebuah pertanyaan sederhana. Apakah seseorang yang diincarnya memiliki sesuatu yang unik dan bisa bikin pembaca tertarik?

Nah, berangkat dari pertanyaan itu, ia mulai “menerawang” dan mencari-cari hal-hal unik pada diri seseorang yang tengah diteropongnya. Keunikan bisa ditemukan pada diri seseorang atau dalam wujud karya-karyanya.

Setelah meyakini adanya sesuatu yang tidak biasa pada diri seseorang, barulah ia menyusun langkah-langkah selanjutnya. Sang jurnalis segera mengais-ngais, mencari bahan-bahan berharga yang berhubungan dengan sosok yang hendak ditulis.

Berbagai cara ditempuhnya untuk mendapatkan data, seperti berselancar dan melalui wawancara. Setelah terkumpul bahan-bahan yang dibutuhkannya, bergegas ia menuliskannya.

Tragedi Bintaro, Pemicu Hasrat Menulis Sosok Manusia

Tragedi Bintaro, salah satu peristiwa kecelakaan kereta api paling memilukan di Indonesia, memiliki sisi lain bagi seorang Pepih. Tulisannya yang mengulas salah satu sosok yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap peristiwa itu telah menyebabkan “kecanduan”.

Sejak itu, sang wartawan getol menulis figur manusia di sela-sela kesibukannya meliput berita. Maka, lahirlah sekitar 60 tulisan yang mengupas figur-figur yang dianggapnya memiliki sesuatu yang layak dicerna publik.

Silakan baca juga tulisan yang membandingkan risiko penulis dan dokter bedah otak.

Di antara sekian banyak ulasan sosok yang telah dimuat di Kompas, ia memilih 22 nama untuk mengisi buku yang hendak diterbitkannya. Tulisan ke-22 sosok itu diulas kembali: bagaimana Pepih tertarik kepada figur-figur itu dan bagaimana pula kemudian ia memprosesnya menjadi sebentuk tulisan.

Tidak Mengincar Nama Terkenal

Perburuan figur itulah yang menjadi topik utama buku Menulis Sosok secara Inspiratif, Menarik, Unik.

Buku Menulis Sosok secara Inspiratif, Menarik, Unik karya Pepih Nugraha.

Ada satu hal unik dalam buku ini. Tak banyak nama pesohor mengisi halaman-halamannya, layaknya buku-buku bertema serupa lainnya.

Sir Timothy Berners-Lee, misalnya. Siapa yang mengenal dirinya? Siapa yang tahu aktivitasnya?

Saya baru “mengenal” penggagas konsep www dalam jagat internet itu usai membaca buku karya sang mantan jurnalis Kompas.

Entah sengaja entah tidak, buku ini telah mengenalkan orang yang tidak begitu tenar sebelumnya. Seandainya Pepih memilih nama-nama terkenal semacam Bill Gates atau Steve Jobs, tokoh-tokoh yang berkecimpung dalam bidang serupa dengan Berners-Lee, barangkali orang sudah tahu banyak sebelum membacanya.

Silakan baca juga tulisan yang menunjukkan cara menulis bagi orang yang tidak memiliki keahlian khusus.

Mungkin juga bakal muncul tanda tanya besar di benak Anda saat menemukan nama-nama “asing” mengisi daftar sosok yang diulas dalam buku ini. Apakah Anda mengakrabi nama-nama Victor Korchnoi, Matt Mullenweg, Aep Suharto dan Budi Putra?

Jika tidak, mungkin Anda seperti saya, mainnya kurang jauh juga. Saya baru mengenal nama-nama itu sejak membaca buku yang ditulis Pepih.

Namun, justru di sinilah letak menariknya buku ini. Penulis mengandalkan materi tulisan-tulisan di dalamnya untuk menarik minat orang, bukan “mendompleng” ketenaran nama-nama besar semata.

Pembaca juga bisa terinspirasi. Orang-orang yang “bukan siapa-siapa” ternyata dapat mengukir prestasi dan menebar manfaat bagi banyak orang. Jadi, meskipun tak berisikan nama-nama terkenal, buku ini tetap memiliki daya tarik tersendiri.

Pelajaran Menulis Sosok yang Sebenarnya

Buku Menulis Sosok tidak sekadar menampilkan kembali tulisan-tulisan yang telah terbit jauh hari sebelumnya. Buku Seri Jurnalistik Kompas ini bisa digunakan sebagai materi pembelajaran menulis, khususnya menulis figur manusia.

Dalam pengantar dan isinya, penulis mengemukakan proses membuat tulisan sosok berdasarkan pengalamannya sendiri. Penulis menceritakan proses yang dilaluinya, sejak mengincar figur yang menarik hatinya, lalu mengumpulkan data dari berbagai sumber, hingga aktivitas menulis itu sendiri.

Kita bisa membayangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya ketika berupaya menemui narasumber serta cara-cara mengatasinya. Dan, beberapa kali disampaikan oleh sang penulis, ia tak pernah menunda-nunda menyelesaikan karyanya ketika bahan-bahan yang dibutuhkan sudah ditemukan.

Tentu saja ini sebuah pelajaran amat berharga. Kebiasaan menunda pekerjaan masih menjadi momok yang kerap menghantui banyak penulis. Sepertinya, Pepih Nugraha tidak termasuk di dalamnya.

Momentum yang terbuka bisa hilang seketika bila kita tak segera menangkapnya. Jadi, tidak salah jika Pepih menonjolkan kebiasaan tidak menunda-nunda pekerjaan sebagai salah satu ikhtiar yang menentukan kelar tidaknya sebuah rencana.

Buku ini memang berisi tulisan-tulisan lama yang kembali dikemas dan dimaksudkan untuk memaparkan proses menulis sosok yang dilakukan penulisnya. Seseorang yang tertarik belajar menulis, utamanya menulis tokoh, patut mencermati buku ini dan mengambil banyak pelajaran yang terserak di dalamnya.

Pembaca akan menemukan sejumlah pelajaran berharga setelah melahap isi buku ini. Bahkan, sebagian pelajaran itu, misalnya tentang kebiasaan tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak hanya berkaitan dengan dunia kepenulisan, melainkan bisa berpengaruh pada pelbagai sisi kehidupan.

Pelajaran lain yang bisa diserap menyangkut pemilihan sosok-sosok yang akan menjadi objek penulisan.

Sepanjang memiliki keunikan, dan tentu saja bermanfaat bagi khalayak, seseorang patut diulas dan dipublikasikan. Jadi, dalam penulisan sosok, nama terkenal bukan satu-satunya daya tarik yang bisa diandalkan.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.