Ilustrasi penulisan kata di yang benar
Masih sering bingung dan bertanya-tanya tentang penulisan kata di yang benar? Yuk, kita simak 4 cara memahaminya.
“Di larang membuang sampah disini.”
Kalimat ini merupakan salah satu contoh ketika orang keliru menulis kata di, yang saya temukan dalam dunia nyata. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu kalimat terdapat dua kesalahan.
Selain kalimat seperti itu, banyak pula contoh dalam spanduk atau baliho yang terbentang di pinggir jalan terdapat kesalahan yang sama.
Baca juga anjuran untuk cermat memilih kata, sebab pilihan kata bisa berpengaruh baik atau buruk bagi pembaca.
Hampir setiap kali menelusuri blog-blog dalam pelbagai tema, saya kerap menemukan kebingungan seorang narablog (blogger) menuliskan kata di dalam kalimat-kalimat yang mereka susun.
Ada kata yang seharusnya dipisah tapi malah dirangkai. Sebaliknya, di yang semestinya dirangkai dengan kata yang mengikutinya, tetapi banyak narablog yang tega memisahkan mereka.
Bukan hanya di blog-blog pribadi kekeliruan seperti itu terjadi. Saya juga pernah menemukan salah satu media berita terbesar di negeri ini masih memajang judul tulisan dengan kata di yang tidak pada tempatnya.
Seorang Andre Moller sampai tak habis pikir menyaksikan hal ini hingga menyampaikan keresahannya dalam buku Ajaib, Istimewa, Kacau. Urusan yang menurutnya harus kelar ketika seseorang lulus sekolah dasar, nyatanya masih marak bahkan ketika orang-orang telah menyandang gelar sarjana.
Mengapa kesalahan semacam itu kerap terjadi? Bagaimana pula cara menghindarkan diri dari mengulang kesalahan serupa?
Sepertinya pemahaman mengenai kata depan dan awalan perlu mendapat perhatian. Interpretasi mengenai kedua hal ini bisa menjadi pijakan awal untuk mengerti penulisan kata di yang benar.
Pemahaman ini terutama dibutuhkan oleh para penulis, wartawan, narablog, perancang iklan dan profesi-profesi lainnya yang mengharuskan mereka membuat tulisan untuk konsumsi publik.
Mengapa demikian? Sebab profesi-profesi itu menghasilkan produk-produk tulisan yang akan banyak dilihat dan dibaca masyarakat umum.
Manusia memiliki kecenderungan meniru sesuatu yang sering dilihat. Dengan demikian, tulisan-tulisan yang ditujukan untuk masyarakat luas berpotensi besar untuk ditiru orang.
Semakin banyak tulisan yang tidak tepat, bertambah pula kemungkinan orang yang melihat atau membacanya akan meniru kesalahannya.
Saya mengira bahwa kekeliruan yang terjadi disebabkan kurangnya pemahaman akan kata depan dan awalan. Kekurangpahaman ini sering menimbulkan penggunaan kata yang terbalik antara kata depan dan awalan.
Mengutip penjelasan situs id.wikibooks.org, kata depan merupakan kata-kata yang digunakan di depan kata benda untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain.
Ada bermacam-macam fungsi kata depan. Khusus untuk kata di yang menjadi topik pembicaraan dalam tulisan ini, kata depan menunjukkan tempat berada suatu benda.
Sementara itu, awalan adalah bentuk imbuhan yang terletak di awal kata. Awalan di berfungsi membentuk kata kerja dan membawa arti yang pasif.
Karena sudah mengetahui konsep kata depan dan awalan, langkah selanjutnya adalah mencari cara untuk membedakan kedua konsep tersebut.
Berikut ini 4 cara mendeteksi apakah kata di merupakan kata depan atau awalan.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) membeberkan cara menuliskan kedua bentuk kata itu. Melengkapi penjelasannya, materi ini juga menyertakan contoh-contoh penggunaan bentuk-bentuk kata tersebut.
Menurut PUEBI, kata depan di ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. PUEBI memberikan dua contoh penerapannya dalam kalimat.
Sementara itu, awalan ditulis serangkai dengan kata dasar yang mengikutinya. Di dalam PUEBI tidak terdapat contoh penerapan awalan di.
Saya hanya mengubah contoh penggunaan awalan me dalam kata mempermudah menjadi bentuk pasif menggunakan awalan di menjadi dipermudah.
Atau contoh lain yang saya temukan dalam buku Buku Pintar EYD, Bahasa dan Sastra Indonesia, kata yang mendapat awalan di dan akhiran kan, yaitu dipermainkan.
Sebagai tambahan, awalan yang diikuti oleh sebuah singkatan atau kata dasar yang bukan berasal dari bahasa Indonesia, maka penulisannya dirangkaikan dengan tanda hubung. Misalnya kata di-PHK dan di–upgrade.
Silakan baca tulisan mengenai pertimbangan untuk mengikuti tata cara menulis baku atau menulis secara bebas saja.
Salah satu ciri yang membedakan di sebagai kata depan atau sebagai awalan terletak pada kata yang mengikutinya.
Bila kata yang berada di belakang kata di merupakan kata kerja, maka kata di berfungsi sebagai awalan. Sementara itu, pada saat kata di diikuti selain kata kerja (misalnya kata keterangan tempat atau keterangan waktu), maka kata di sedang bertindak selaku kata depan.
Saya akan memberikan contoh kalimat yang menggunakan kata balik.
Kata ini bisa bermakna dua, sebagai kata kerja atau sebagai kata keterangan tempat. Ketika fungsinya berbeda, maka cara menuliskannya pun tidak sama.
Saya sudah memberikan beberapa contoh cara menulis kata di sebagai kata depan dan sebagai awalan.
Berikut ini saya tambahkan lagi beberapa contoh lain yang saya comot dari kabar-kabar terkini pada berbagai situs berita.
Dalam kedua contoh kalimat di atas, terdapat kata di yang berfungsi sebagai kata depan dan awalan.
Kata di yang dirangkai dengan kata yang mengikutinya bertindak selaku awalan (dirasakan, ditanya). Sedangkan kata di yang ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya merupakan kata depan (di sejumlah wilayah, di Arsenal).
Jika sudah memahami dan bisa menerapkan penggunaan kata di sebagai kata depan dan sebagai awalan, perlu juga kita membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap penggunaan kata itu. Mungkin kita perlu memasang tanda tanya dalam hati kita setiap menemukan penulisan kata depan dan awalan pada tulisan-tulisan yang sedang kita baca.
Kita bisa bertanya dalam hati, apakah penulisan kata-kata itu sudah tepat sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar? Bila kita sendiri masih merasa ragu, kita bisa kembali mendalami ketiga cara sebelumnya.
Ayo, jangan sampai Pak Andre tahu bahwa kita gemar membolos waktu bersekolah di SD dulu hanya gara-gara acap keliru menulis kata di.
Sudah tiba saatnya kita mampu memahami dan menerapkan penulisan kata di yang benar.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.