Langkah awal menjadi penulis. Sumber gambar: Ramdlon dari Pixabay via Canva
Menyebut diri menyandang profesi penulis bakal berdampak positif. Selain bikin nyaman, pengakuan ini juga akan mendorong penyandangnya lebih giat menulis.
Anda berangan-angan menjadi penulis? Apakah Anda, siapa pun yang gemar menulis, berani memproklamirkan bahwa diri Anda seorang penulis?
Atau barangkali hal sebaliknya yang terjadi, Anda masih acap dihantui perasaan rendah diri menyandang predikat penulis dalam diri Anda.
Bila benar, Anda bakal merugi, sebab keberanian menggunakan sebutan itu bisa mendatangkan manfaat yang tidak sedikit.
Menjuluki diri sendiri sebagai penyandang profesi penulis, bagi saya, masih berwujud “horor” yang menimbulkan kengerian. Hingga kini, dengan kegiatan menulis hampir selalu tertera dalam agenda harian, saya belum pernah memaklumatkan kepada dunia—dunia kecil tentunya–bahwa saya seorang penulis.
Menulis sebagai sebuah profesi masih berada dalam angan-angan. Mengakuinya secara terang-terangan merupakan suatu dilema yang mengganjal batin saya.
Pada satu sisi, saya merasa bahwa profesi penulis merupakan salah satu pekerjaan yang keren, meskipun banyak orang mengatakan aktivitas ini “tidak menjanjikan”. Namun pada sisi yang berbeda, saya belum mampu mengumpulkan nyali yang cukup untuk memaklumkan bahwa saya hendak menggeluti profesi ini dengan sepenuh hati.
Saya belum membuahkan karya-karya yang mampu mengucurkan fulus dalam hitungan yang memadai agar saya merasa tenang menggantungkan hidup pada aktivitas yang menjadi renjana (passion) saya ini. Kondisi ini meyakinkan saya akan satu hal: menulis bukanlah mata pencaharian yang patut saya pamerkan.
Silakan baca ulasan mengenai rasa takut yang berlebihan bisa menjadi hambatan menulis.
Saya juga belum menghasilkan satu naskah pun tulisan dengan kualitas yang bisa disejajarkan dengan karya-karya “penulis betulan”. Saya masih sebatas orang yang suka menulis dan sedang tekun berlatih menulis, bukan orang yang “bisa” menulis.
Kondisi-kondisi semacam itu tentu saja membuat diri saya belum layak dihimpun dalam kelompok orang yang berprofesi sebagai penulis. Sejumlah fakta telah saya ungkap untuk “mendukung” pernyataan ini.
Beberapa waktu lalu, sebuah tulisan dalam situs writetodone.com sempat menggugah kesadaran saya. Satu di antara lima cara membangun kebiasaan menulis yang menjadi tema tulisan itu, seperti dikatakan Ali Hale, sang penulis, menyentak pikiran saya.
Ia menyatakan bahwa menyebut diri sendiri sebagai seorang penulis akan menghadirkan sejumlah keuntungan. Penulis artikel tersebut mengungkapkan sedikitnya terdapat dua kegunaan yang bakal didapat ketika seseorang menyebut dirinya seorang penulis.
Manfaat pertama, setelah rutin memperkenalkan diri sebagai seorang penulis, orang akan merasa lebih nyaman menyandang identitas ini. Barangkali peribahasa “Alah bisa karena biasa” cocok menggambarkan keadaan ini.
Sedangkan faedah kedua, sebutan sebagai penulis akan memberikan tambahan motivasi untuk giat menulis. Masak sih, sudah ngaku-ngaku penulis malah enggak nulis!
Silakan baca juga artikel tentang cara menulis cepat ala Mark Levy.
“A writer is simply someone who writes!” Begitu deskripsi menarik yang disampaikan oleh Hale perihal profesi penulis dalam artikelnya. Sebuah pemerian yang amat sederhana dan menggugah asa.
Rumusan yang dibuat Hale ternyata tak jauh beda dengan makna yang tertulis dalam kamus bahasa kita. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi makna penulis sebagai ‘orang yang menulis’ atau ‘pengarang’.
Masih kurang? Seorang penulis dalam negeri yang telah menelurkan banyak buku berbobot menyebut tiga syarat menjadi penulis adalah menulis, menulis, dan menulis! Anda tentu mengenal orang ini.
Bayangkan, tugas seorang penulis hanya satu, menulis! Penulis adalah orang yang menulis. Sederhana, dan seyogyanya tidak perlu disisipi hal-hal yang hanya akan menggentarkan hati.
Jadi, se-“receh” itukah tugas yang diemban seorang penulis?
Saya menulis hampir setiap hari. Saya mengecualikan sehari saja dalam seminggu dari kegiatan menulis dalam jadwal yang telah lama tertempel di dinding ruang kerja.
Itu jadwal “resmi” yang dengan sengaja saya susun untuk memacu diri. Namun, pada hari “libur nulis” pun saya kerap menulis, karena gagasan menghampiri tanpa mengenal hari.
Silakan baca juga tulisan yang membahas cara mencapai target menulis, terutama bagi penulis pemula.
Mestinya, dengan mengacu pada makna profesi penulis yang dikatakan Hale dan penulis domestik yang saya yakin Anda kenal, rasanya saya—dan banyak orang lainnya, mungkin termasuk Anda–layak menyandang “gelar” penulis.
Seorang penulis toh tidak wajib menyelesaikan strata tertentu untuk mulai berproduksi. Juga, dalam definisi yang disampaikan Hale maupun KBBI serta syarat yang “ditetapkan” oleh penulis yang kita kenal itu, tidak terkandung kondisi tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang penulis, kecuali menulis.
Sayangnya, definisi penulis yang selama ini bertengger dalam benak saya telah mencegah saya mendaku profesi itu. Interpretasi yang terlampau rumit telah membikin hati saya merasa tidak pantas melekatkan profesi penulis pada nama saya.
Sepertinya persoalan ini terletak pada sisi keberanian saja. Belum terasa adanya nyali yang cukup bagi saya menerakan kata ‘penulis’ saat mengisi data pekerjaan setiap kali sensus penduduk diselenggarakan.
Bayangan bakal munculnya cibiran orang saat memandang hasil karya yang ala kadarnya masih senantiasa mengadang di depan mata. Padahal hasrat hati untuk menampilkan diri sebagai seorang “penulis” telah bersemi.
Bayangan semacam itu belum hendak menghentikan aksi-aksinya mengintimidasi dan menyuburkan rasa pesimis dalam hati. “Emang kamu udah bisa bikin apa, sih?”
Pertanyaan pungkasnya, “Kapan saya bisa (baca: berani) mencetak kartu nama dengan mencantumkan ‘penulis’ sebagai pekerjaan utama?” Semoga waktu akan menggiring optimisme lebih banyak mengemuka ketimbang perasaan yang sebaliknya.
Bagaimana pula dengan Anda? Sudahkah Anda merasa nyaman menyebut diri Anda sebagai penyandang profesi penulis?
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.