Risiko penulis tak sebesar dokter bedah otak
Sungguh beruntung, risiko penulis tak seberat dokter bedah otak. Umumnya, risiko yang dihadapi penulis baru muncul setelah karyanya dipublikasikan.
Itulah “hebat”-nya profesi penulis. Kemungkinan dampak buruk yang bakal menyertainya, utamanya pada mula proses kerja yang dijalaninya, relatif tidak sebesar pekerjaan-pekerjaan berisiko tinggi yang lain.
Hal ini tidak berarti bahwa profesi sebagai penulis bebas risiko. Namun setidaknya, saat memulai pekerjaannya, seorang penulis tidak harus sangat berhati-hati menjalankan tugasnya seperti misalnya seorang doktek bedah otak.
Berdasarkan kenyataan yang semacam itu, kemudian muncul pelbagai teknik menulis dengan cara “sesuka hati”. Salah satu di antara sekian banyak model menulis “tanpa aturan”, yang telah saya pelajari dan saya praktikkan, adalah proses menulis cepat dan menulis bebas.
Cara menulis semau gue itu terbukti membantu saya memperbaiki tingkat produktivitas saya dalam menghasilkan tulisan. Freewriting menjadi salah satu andalan saya mengusir writer’s block yang gemar hinggap di benak dan mengganggu kelancaran saya berkarya.
Coba bayangkan seorang dokter bedah otak yang sedang bekerja “menggarap” pasiennya. Sejak mula ia menyentuh sang pasien, tidak boleh sedikit jua melakukan kecerobohan, sebab nyawa orang menjadi taruhannya.
Belum pernah saya mendengar kabar apalagi menyaksikan seorang dokter bedah ngopi-ngopi atau whatsapp-an sembari bekerja mengoprek bagian tubuh pasiennya. Anda belum pernah menemuinya juga, kan?
Demikian pula beberapa pekerjaan berisiko tinggi lainnya di dunia ini. Profesi-profesi pada bidang-bidang ini mengharuskan setiap pekerja yang terlibat di dalamnya memulai kewaspadaan mereka sejak pertama kali menginjakkan kaki di medan kerja.
Sebut saja misalnya pekerja konstruksi dan pekerja pengeboran minyak lepas pantai.
Setiap saat pekerja konstruksi berhadapan dengan kemungkinan buruk terjatuh dari ketinggian atau tertimpa alat dan material berat. Sementara itu, pekerja tambang minyak, selain harus berhadapan dengan alat berat dan material yang berbahaya, senantiasa bergelut dengan bahan minyak yang berpotensi besar terbakar dan meledak.
Robert Cormier, seorang penulis Amerika sempat membandingkan risiko yang dihadapi seorang penulis dengan dokter bedah otak. Ia kemudian menuliskannya dalam seuntai kalimat inspiratif.
“Indahnya menulis adalah Anda tidak harus melakukannya dengan benar saat pertama kali, tidak seperti bedah otak, misalnya.”
Semestinya, ucapan pengarang novel The Chocolate War yang mendapatkan sejumlah penghargaan itu mampu membangkitkan keberanian kita. Ya, keberanian untuk mengungkapkan gagasan-gagasan yang masih tersimpan rapi di benak kita dalam wujud tulisan.
Berbeda dengan para pekerja yang berkecimpung dalam pekerjaan-pekerjaan berbahaya seperti yang saya sebutkan di atas. Seorang penulis bisa mengambil sikap santai, bahkan mencoba-coba, pada awal proses kerjanya.
Penulis tidak harus menekan alat tulisnya dengan amat lembut–layaknya perlakuan dokter bedah terhadap pasiennya–agar tidak menyakiti kertas yang dijadikan wahana menulisnya.
Ia pun relatif bisa tenang bekerja tanpa dihantui rasa was-was sewaktu-waktu laptopnya meledak. Kalaupun ada, mungkin ledakan kemarahan istri yang merasa tersaingi oleh kehadiran komputer dan alat-alat tulis lainnya, he he he.
Bisa dikatakan bahwa risiko yang harus dihadapi seorang penulis baru akan muncul ketika ia memublikasikan hasil karyanya. Bila saat itu tiba, ia memang bisa mendapat cercaan, teror, dan bahkan penjara atau kematian.
Namun, sepanjang tulisan yang dibuatnya masih dalam wujud draf dan belum dibaca orang, bisa dikatakan sang penulis masih berada dalam posisi aman. Ia masih berkesempatan rebahan seusai menandaskan sisa kopi dingin di cangkirnya.
Konsep tulisan yang belum ditayangkan bagi masyarakat pembaca berada dalam kekuasan penuh si empunya. Ia memiliki hak melakukan apa saja terhadap konsep-konsep yang yang tersimpan dalam perangkat pribadinya, dan orang lain tak kuasa memengaruhinya.
Dalam bukunya Quantum Writing (2004), Hernowo menyarankan agar penulis (pemula) membikin tulisan yang semata-mata ditujukan kepada dirinya sendiri. Salah satu tujuannya adalah agar penulis merasa bebas dari rasa takut akan risiko yang terkandung dalam karyanya.
Kita tahu bahwa rasa takut mengemukakan gagasan merupakan salah satu wujud hambatan menulis yang acap mengerangkeng para (calon) penulis.
“Anda harus mempersepsi bahwa Anda sendirian di muka bumi ini,” katanya dalam buku itu.
Membayangkan hal demikian dapat membantu seseorang membangkitkan keberaniannya. Dan keberanian itu diharapkan mampu melancarkan jalan menulisnya hingga semua gagasan keluar dari benaknya.
Dalam kesempatan lain, Hernowo yang masyhur dengan konsep “mengikat makna” itu mengemukakan penggunaan ruang privat dan ruang publik dalam proses menghasilkan tulisan.
Menurut konsep itu, bila suatu saat penulis hendak memublikasikan karyanya, ia bisa berpindah dari ruang privat ke ruang publik. Ruang publik disediakan untuk memoles tulisan asal-asalan yang dihasilkan di ruang privat ketika sang penulis menganggap tiada orang lain yang bermukim di dunia ini selain dirinya.
Sebelum penulis melontarkan semua gagasan dan unek-unek yang bergelayut di benaknya, editor rebahan dulu, deh. Sebab jika sisi editor dalam diri penulis sudah bekerja saat penulis sibuk merangkai kata, biasanya ide-ide yang tersimpan di kepala si penulis tak akan mengalir dengan lancar.
Nah, kita telah memahami beban penulis tak seberat risiko yang harus dipikul oleh dokter bedah otak atau pekerja konstruksi. Lantas, masihkah kita enggan beranjak dari lamunan guna mencari kertas dan pena atau menghidupkan komputer kita?
Waktu terus melaju, dan kita tentu tak ingin menyesali masa yang telah berlalu. Apalagi masalahnya hanya karena kita tidak bergegas menjemput ide dan menuangkannya ke atas secarik kertas atau program pengolah kata.
Ayo, jangan kalah produktif dibandingkan dokter bedah otak, pekerja konstruksi dan pekerja tambang minyak. Tak seperti mereka, kita bisa menjalankan aktivitas menulis ditemani aroma sedap dari kepulan asap kopi hangat.
Betapa beruntung para penulis, tak seperti dokter bedah otak yang harus waspada sejak awal kerjanya, risiko penulis tak sebesar itu.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.