Tulisan sampah menjadi harta karun
Simpan baik-baik tulisan sampah, jangan buru-buru membuangnya. Simak cara mengubah tulisan sampah menjadi harta karun.
Saya tidak sedang membincang timbunan sampah yang menggunung di ujung jalan atau ceceran sampah yang tersangkut di kolong jembatan akibat tersapu arus sungai. Saya tidak pula tengah menggunjing sampah masyarakat, tontonan sampah, dan sampah-sampah sejenis lainnya.
Kita akan membahas konsep-konsep tulisan “tak berguna” karena tidak sesuai dengan harapan penulisnya. Adakalanya seorang penulis hendak membuang begitu saja draf-draf semacam ini.
Mungkin si penulis kehabisan cara untuk mengembangkan gagasannya. Barangkali pula ia merasa tidak puas setelah mengevaluasi hasil jerih payahnya.
Namun harap diingat, sesuatu yang tidak berguna pada waktu tertentu, bisa saja akan mendatangkan manfaat pada saat lainnya. Demikian pula halnya dengan tulisan-tulisan yang kita hasilkan.
Tulisan yang baru selesai ditorehkan, atau bahkan sama sekali tidak dituntaskan, mungkin bisa kita permak lain hari menjadi sebuah karya yang memberi manfaat bagi pembaca. Dan tentu juga berguna bagi diri kita selaku penganggitnya.
Jadi, tulisan-tulisan yang tidak kelar dikerjakan karena berbagai alasan, ada baiknya disimpan baik-baik di suatu tempat yang aman. Saya biasa memarkir karya-karya setengah jadi semacam ini dalam folder yang saya kasih nama “konsep”.
Memang ada hal yang harus dikecualikan dalam urusan ini, misalnya saja tulisan pribadi yang amat rahasia yang ditulis dalam rangka upaya penyembuhan diri. Ada yang menyimpan barang seperti ini dengan sandi pengaman tertentu, dan ada pula yang lebih suka segera mnghancurkannya setelah bersusah-payah menulisnya.
Dalam beberapa kesempatan, saya memperoleh kejutan dari “tulisan-tulisan sampah” produk masa lalu. Sebagian dari mereka saya daur ulang menjadi sebentuk karya yang kemudian bisa saya tayangkan di situs pribadi atau di blog keroyokan.
Saya menemukan sebuah tip dalam suatu artikel yang saya yakini amat cocok dengan kondisi yang tengah kita bahas. Ulasan itu menyangkut sebuah istilah dalam dunia kepenulisan yang populer dengan sebutan writing avoidance behavior.
Sang penulis memberi sebuah nasihat yang cukup berharga. Jika kita membiarkan tulisan yang mengalami kemacetan ketika kita tengah dirundung hambatan menulis alias writer’s block, dalam beberapa waktu bisa kita garap kembali setelah pikiran kita cukup segar.
Kadang-kadang memang timbul rasa bosan yang tak bisa kita lawan saat kita sedang menggarap tulisan. Semakin kita halau, semakin kuat rasa tidak nyaman itu mencengkeram kita.
Maka, bila kita berada dalam situasi yang demikian, alangkah baiknya kita sejenak beranjak dari depan komputer dan melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan tulisan yang menjadi biang kemandekan. Pengalihan semacam ini acap membikin suasana hati yang lesu kembali bugar.
Silakan baca artikel yang membahas perlunya berdiam diri untuk membangkitkan kembali kreativitas.
Saat kita kembali menghadap layar si mesin pintar beberapa jam kemudian, atau mungkin beberapa hari setelahnya, acap kali kita tak lagi merasakan ketersendatan yang menghadang kita beberapa waktu sebelumnya.
Bila demikian keadaannya, maka “sampah” yang semula teronggok di folder-folder penyimpanan bisa kita poles dan kita pindahkan ke halaman blog atau ke dalam wujud penerbitan lainnya.
Tidak bermaksud menyangkal ungkapan Arswendo Atmowiloto dalam bukunya yang legendaris Mengarang Itu Gampang.
Saya merasakan dengan hati sendiri, betapa menulis itu berbeda dengan berkendara di jalan tol (dengan mengasumsikan bahwa kondisi jenis jalan ini sesuai dengan julukannya sebagai ‘jalan bebas hambatan’).
Karen Russel, penulis cerpen dan novel yang pernah menjadi finalis Pulitzer Prize menyampaikan pendapatnya mengenai proses menulis yang (kebanyakan dilakukan dengan) tidak gampang.
“First, make peace with the idea that effortless and intuitive writing is rare. Then, enjoy writing badly.”
Menulis bukanlah pekerjaan sepele yang bisa dilakukan oleh semua orang. Banyak ragam hambatan menulis yang selalu siaga menghadang para penulis dalam upaya menyelesaikan karya-karya mereka.
Silakan baca juga tulisan mengenai rasa takut yang menjadi penghambat menulis.
Salah satu taktik yang bisa diterapkan untuk menyiasati keadaan ini adalah berdamai dengan penghambat menulis seperti yang dikatakan Russel. Mengendapkan draf tulisan yang mengalami kemacetan untuk beberapa waktu bisa menjadi pembuka jalan untuk mengurai kemacetan itu.
Artikel ini pun melalui tahapan serupa.
Konsep awal tulisan ini telah menghuni folder konsep lebih dari sebulan lalu. Draf tulisan ini baru “keluar dari persembunyiannya” ketika saya kesulitan menemukan gagasan untuk mengisi blog yang telah “nganggur” lebih dari dua pekan.
Lebih dari sebulan silam, saya beranggapan bahwa konsep artikel ini bakal mempermalukan saya bila saya nekat menerbitkannya. Namun saya tetap menaruh harapan bahwa suatu saat kelak saya memiliki keberanian untuk memolesnya kembali dan kemudian mempublikasikannya.
Akhirnya, tulisan ini benar-benar nongol di ruang publik. Barangkali bukan lantaran tulisan ini menjadi lebih bagus, tapi yang pasti saya lebih berani (baca: berani malu) untuk menampilkannya di hadapan khalayak.
Apakah Anda pernah mengalami kejadian serupa?
Ya, jangan selalu menganggap remeh benda-benda yang tampak sebagai sampah belaka. Barang yang semula kita sangka sebagai timbunan kotoran, di kemudian hari bisa saja menjelma menjadi harta karun yang kita harapkan.
Dengan alasan itu pula saya tetap mempertahankan keberadaan beberapa folder konsep dalam laptop saya, yang berguna untuk menampung tulisan-tulisan “sampah” yang adakalanya hanya bikin pusing kepala. Siapa tahu pada suatu hari nanti saya bisa mengubahnya menjadi seonggok harta yang berharga.
Folder-folder tempat menyimpan tulisan-tulisan setengah matang itu tak pernah kosong. Hal itu menandai banyaknya potensi yang bisa digarap di belakang hari. Sayang sekali bila barang-barang potensial itu disingkirkan begitu saja.
Itulah sedikit nasihat yang saya temukan dan kemudian saya merasa perlu mencupliknya untuk mengingatkan diri saya, dan mudah-mudahan juga berguna bagi Anda.
Sekali lagi, jangan terlalu cepat membuang tulisan sampah, siapa tahu suatu saat memberikan bermanfaat.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.