ilustrasi menulis sesuatu
Menulis sesuatu yang tak jelas jauh lebih bagus ketimbang memanjakan rasa malas. Konon, aktivitas ini bisa membantu kita tak kehilangan kreativitas.
Maksud hati hendak menulis, yang terjadi malah dirundung rasa penasaran yang tak habis-habis. Pernah nggak, Anda mengalami “hari buruk” seperti yang terjadi pada diri saya itu?
Judul-judul berita dan konten-konten iklan yang berseliweran di layar monitor benar-benar menggoda hingga saya tak mampu mengabaikannya. Akhirnya, saya tak sanggup menorehkan banyak karakter untuk mengisi lembaran-lembaran pengolah kata yang terbuka di layar komputer.
Penyakit lama yang satu ini sering sekali kambuh. Sudah capek-capek bikin jadwal menulis, ketika tiba waktunya, lha kok malah asyik berselancar ke sana kemari.
Macam-macam alibi bisa dengan gampang dibuat untuk membela diri. Nyari referensilah, berburu ide topik yang hangatlah. Alasan-alasan klasik semacam itu memang kerap berulang. Lagipula, sebenarnya mau membela diri dari (serangan) siapa?
“Skenario” serupa kembali terjadi hari ini. Karena jadwal pagi tadi berlalu begitu saja hingga bedug lohor berbunyi, kini saya memaksakan diri menulis di siang bolong.
Memang tidak biasa, tapi saya sedang berusaha menunaikan jadwal hari ini. Sesuai komitmen terhadap diri sendiri, saya wajib berkarya minimal satu jam lamanya, atau setidaknya menghasilkan seribu kata.
Namun, pada pagi yang tak terlihat akan mendatangkan masalah, sebuah kondisi buruk datang tanpa diundang. Suasana hati alias mood yang awalnya menggelegak, sirna secara mendadak tanpa ada yang memberi komando kepadanya.
Setelah tak mampu mengendalikannya, saya memilih merebahkan diri di sofa dengan gawai lekat dalam genggaman. Seusai itu, hampir setengah hari waktu berlalu lantaran diri ini terperangkap oleh pelbagai judul berita yang (sepertinya sengaja dibikin) menggemaskan dan mengundang rasa penasaran.
Sebetulnya, “berteman dengan tempat tidur” juga disarankan bagi penulis yang sedang mati kutu menghadapi kejamnya kebuntuan menulis. Saran itu tentu saja ditujukan kepada para penulis yang telah memeras jidat sedemikian rupa, tetapi tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkannya.
Sementara itu, saya kan baru memulai hari? Masa mau langsung menuju peraduan untuk membenamkan diri?
Mendapati kenyataan pahit ini, saya bertekad tak mau lagi kehilangan waktu yang setengah hari sisanya. Maka, saya mencoba—atau lebih tepatnya memaksakan diri– merancang tulisan ini.
Sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa waktu lalu sedikit memberi asa. Salah satu bagian tulisan itu mampu menggugah kembali semangat yang nyaris pupus.
Bunyi kalimat penggugah itu kira-kira seperti ini, “Menulislah ‘sesuatu’, apapun itu. Sebab kreativitas akan muncul selagi ada momentum, dan ia bakal tenggelam oleh kemalasan.”
Nah, kalimat ini bisa menjadi bahan untuk memperpanjang napas hingga terpenuhi hitungan enam puluh menit jadwal menulis harian yang telah saya canangkan. Saya akan lebih bersyukur lagi bila berhasil meraih target menulis seribu kata agar hati ini sedikit lega.
Kini saya sedang menjalankan “titah” kalimat itu di sini. Sesungguhnya tidak benar-benar menulis ‘sesuatu’, karena menulis ‘sesuatu’ juga ternyata tidak mudah dilakukan.
Saya masih setia menggunakan metode menulis bebas atau bahasa sono-nya freewriting. Memang saya merasa nyaman dan sangat terbantu oleh metode menulis yang satu ini.
Meskipun demikian, pengertian ‘bebas’ itu tidak sepenuhnya tanpa batasan. Tetap saja saya merasakan adanya sepasang atau beberapa pasang mata yang selalu mengawasi gerak-gerik jemari saya.
Sisi editor dalam diri saya terus saja berusaha menggeliat, nyaris tak pernah benar-benar terlelap.
Mungkinkah karena pengaruh matahari yang bersinar garang di siang yang terik ini? Ah, sudahlah. Tak cukupkah seribu satu alasan yang telah kau miliki dan kini mau menambah satu lagi?
Sebenarnya sudah cukup lama saya menyiapkan sebuah materi tulisan untuk menyambung napas blog ini. Topiknya menyangkut keadaan yang sering saya alami, termasuk yang sedang terjadi saat ini, yakni menunda-nunda pekerjaan alias procrastination.
Sejak sebelum “mengurung diri” di kediaman kami dalam rangka isolasi mandiri sepanjang lebih dari dua pekan, saya telah merancang konsep tulisan tentang “penyakit akut” yang kerap menyerang manusia dari pelbagai kalangan. Konsep yang saya rancang, dengan berbagai alasan, akhirnya teronggok di folder konsep, tempat persemayaman draf-draf yang tak kelar saya garap.
Hingga kini, saya belum tergerak lagi untuk merampungkan draf tulisan yang menurut saya sangat menarik itu. Padahal saya sudah menyiapkan sedikitnya dua buku dan beberapa artikel menyangkut topik ini sebagai sumber referensi.
Namun, lagi-lagi, seribu satu alasan selalu datang mengadang.
Semoga saja dalam minggu ini saya berhasil menyelesaikan proyek mangkrak yang tak selesai-selesai itu. Saya mau menulis tentang prokrastinasi, tetapi pada saat yang sama penyakit suka menunda pekerjaan itu sedang menyerang saya.
Sebetulnya kondisi itu semakin menantang saya untuk mengungkapkannya. Tulisan yang menyangkut sebuah kejadian atau keadaan nyata yang tengah dialami oleh sang penulis, seharusnya akan lebih terasa geregetnya.
Apakah saya akan mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik? Tentu saja waktu yang akan menunjukkannya.
Anda juga pernah mengalami hal serupa, bukan?
Ayo, menulislah sesuatu, biarpun tak jelas. Setidaknya, kita telah menunjukkan diri bukan bagian dari golongan pemalas.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.