ilustrasi cara menulis cepat
Cara menulis cepat dan terus-menerus yang digaungkan oleh Mark Levy mampu mendobrak kebuntuan menulis. Kabar baiknya, metode ini gampang dijalankan.
Sudah tiga hari ini saya belajar ilmu menulis praktis yang diajarkan oleh Mark Levy. Salah satu tujuan menggunakan cara ini adalah agar kita bisa menghasilkan ide-ide yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya.
Penulis yang juga berprofesi sebagai seorang wiraniaga itu memaparkan teorinya dalam buku Menjadi Genius dengan Menulis (2005). Menulis dengan cepat secara terus-menerus, begitulah ia menyebut salah satu langkah dalam ilmu menulis yang dikembangkannya.
Menurut Levy, ide-ide yang dihasilkan dengan cara ini bukan hanya berguna untuk menulis, melainkan bisa diterapkan juga pada bidang-bidang lainnya. Misalnya saja diaplikasikan pada bidang bisnis, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
Bagaimana cara menjalankan ilmu menulis cepat dan terus-menerus ini?
Pada dasarnya ia menyarankan dua langkah untuk menjalankan teorinya. Pertama, menulis secara cepat, dan yang kedua, menulis secara terus-menerus.
Saya akan menjelaskan masing-masing langkah berikut ini.
Teknik menulis secara cepat berarti menulis yang benar-benar dilakukan dengan kecepatan tinggi. Untuk menggambarkan tingkat kecepatan menulis cara ini, sang penulis menyajikan sebuah ilustrasi.
Suatu ketika, Anda telah ditunggu oleh rekan-rekan Anda untuk makan siang saat jam istirahat kantor tiba. Teman-teman Anda sudah berada di dalam mobil yang siap melaju, sementara Anda masih harus meyakinkan seorang rekan Anda untuk ikut serta.
Bukan hanya itu. Anda juga tengah terburu-buru karena Anda ingin duduk bersebelahan dengan seorang pegawai baru yang dalam beberapa waktu ini membikin hati Anda kebat-kebit.
Silakan baca artikel yang membahas tentang menulis seperti membuat tembikar.
Maka, Anda menulis sebuah pesan kepada rekan Anda dan mengirimkannya lewat pesan wa. “Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, karena harus makan siang bersama teman-teman yang telah menunggu di mobil.”
Kira-kira seperti itu maksud pesan yang hendak Anda sampaikan.
Apa yang terjadi? Saya mencoba membayangkan wujud pesan yang terkirim kepada teman Anda. Mungkin kalimat yang Anda tulis akan terbaca seperti ini, “Sku tidsj wisa mrnunhhumu lrbij lsns lshi, ksrebs jsrusmkn siamh bersa,a tmns yg tlj menunffu dinpbik.”
Kacau sekali, bukan?
Namun tidak menjadi masalah. Sebab bukan menghindari kekacauan tulisan yang menjadi tujuan.
Berikutnya, penjelasan kedua mengenai menulis secara terus-menerus.
Mulanya, saya agak bingung mau memberikan penjelasan seperti apa. Mungkin nanti saya akan mempelajarinya lebih mendalam lagi.
Namun sebenarnya secara garis besar saya yakin telah cukup paham yang dimaksud Levy dengan “syarat” yang satu ini.
Baiklah, saya lanjutkan saja menulis. Saya ingat, Levy pernah bilang, “Menulis saja terus meskipun yang kita tuliskan tak bermakna.”
Penulis yang berkontribusi pada pelbagai surat kabar terkemuka semacam The New York Times itu mengatakan sesuatu yang melegakan. Begini ucapannya, “Bila tidak terpikir sama sekali apa yang akan kita tuliskan, kita masih punya berbagai cara untuk tetap bisa menulis.”
Misalnya saja mengulang kata terakhir yang kita tulis. Ya kata terakhir seperti ini ini ini ini ini ini.
Terus saja sampai kita mendapatkan katra-kata lain yang lebih pantas kita tuliskan.
Atau bisa juga menggunakan cara yang lebih gampang, yakni mengulang huruf terakhir yang tertera di kertas atau layar. Sebagai contoh, misalnya aaaaaaaaaaaa, ya terus saja ketik kkkkkkkkk sampai kita mendapatkan yang lebih layak mengisi baris-baris tulisan kita.
Jadi, begitu penjelasan mengenai menulis secara terus-menerus. Pokoknya terus menulis, jangan pedulikan hal-hal lain selain menulis.
Menulis apa saja, bermakna atau tidak, karena kita hanya harus mengikuti satu syarat: tidak berhenti menulis. Jadi, yakinlah kita bakal bisa melakukannya lantaran tiada syarat lain kecuali menulis.
Ada yang tak sanggup melakukannya?
Memang proses menulis ini tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sekuat apa pun saya berusaha, saya belum bisa sepenuhnya mengikuti nasihat Mark Levy.
Meskipun saya merasa telah menulis secara cepat, tetapi bukan berarti tanpa beban. Sesekali jari-jari saya berhenti mengetik, lalu pikiran menengok ke belakang.
Editor yang bermukim dalam diri saya tak pernah bisa tidur nyenyak. Ia masih kerap terjaga, mencolek-colek pundak saya dan meminta saya memperbaiki penulisan huruf yang keliru atau kata-kata yang tak bermakna.
Memang kebiasaan yang telah lama mengendap akan sangat sulit ditinggalkan.
Namun nggak apa-apa juga. Biarpun belum 100% berjalan sesuai dengan kondisi yang saya harapkan, tetapi sudah jauh lebih maju ketimbang kebiasaan yang selama ini saya anut.
Saya telah menghasilkan hampir 300 kata dalam waktu yang sangat singkat menurut ukuran saya. Jumlah kata itu biasanya saya peroleh dalam waktu tiga atau lima kali lipat dibandingkan waktu yang saya butuhkan saat ini.
Saya berharap tetap tabah dan tidak terlalu terbebani oleh pemikiran yang cenderung ingin sempurna.
Bayangan buruk nyaris tak berhenti melingkupi perasaan saya, betapa centang perenangnya tulisan saya. Banyak kesalahan tik alias typo, berjibun pula kata-kata atau kalimat tak bermakna.
Silakan baca tulisan mengenai rasa takut yang bisa menghambat proses menulis.
Saya terus berupaya meyakinkan diri saya hal yang sederhana saja. Setidaknya saya berharap bisa membuktikan bahwa teori yang saya pelajari benar adanya, atau barangkali sebaliknya, tak berlaku bagi saya.
Saya pernah juga menemukan pendapat beberapa penulis yang memiliki pemikiran serupa dengan Levy. Sebut saja dua di antaranya, Kuntowijoyo dan John Steinbeck.
Kuntowijoyo cukup terkenal akan kalimat mutiaranya yang terkesan amat sederhana. Ia mengatakan, “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu menulis, menulis, dan menulis”.
“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu menulis, menulis, dan menulis”.
Sementara itu, John Steinbeck menyarankan agar kita menulis secara bebas tanpa beban di hati.
Begini salah satu ucapan populernya perihal menulis, “Menulislah secara bebas dan secepat mungkin, tuangkan semua yang terlintas ke atas kertas. Jangan pernah mengoreksi atau menulis ulang sebelum Anda menuliskan semuanya. Menulis ulang dalam proses hanya akan menjadi alasan untuk menghentikan proses menulis Anda.”
“Menulislah secara bebas dan secepat mungkin, tuangkan semua yang terlintas ke atas kertas. Jangan pernah mengoreksi atau menulis ulang sebelum Anda menuliskan semuanya. Menulis ulang dalam proses hanya akan menjadi alasan untuk menghentikan proses menulis Anda.”
Betul juga, meski tersendat-sendat dan sering berhenti karena sang editor yang sempat saya tidurkan acap kali mendadak terjaga, saya telah menghasilkan lebih dari 400 kata hingga tiba pada posisi ini. Biasanya saya tak pernah menulis bahkan lima puluh kata dalam waktu yang sama.
Saya semakin yakin dengan kebenaran teori Levy, serta ucapan Kuntowijoyo dan Steinbeck.
Lalu bagaimana dengan hasil tulisan “ngawur” model begini?
Untung saja Levy seorang yang baik hati. Penulis yang pernah kerja bareng dengan David Pogue menghasilkan buku Magic for Dummies itu membebaskan kita untuk menggunakan hasil tulisan itu sesuai kemauan kita.
Jika tulisan yang kita hasilkan hanya akan membikin kita merasa malu dan kita khawatir wajah kita akan tercoreng bila tulisan ini sampai terbaca orang lain, segera enyahkan saja.
Silakan baca juga artikel yang membahas tentang manfaat dan cara memperlakukan tulisan sampah.
Dalam hal tulisan berbentuk kertas, kita bisa langsung mencabik-cabiknya dan melemparnya ke keranjang sampah.
Kalau wujudnya file dalam komputer tentu lebih gampang kita memusnahkannya. Bukankah di atas papan tik kita terpasang tombol “delete”? Dalam keadaan seperti ini, tombol itu bisa menjadi penyelamat kita.
Sebaliknya, bila kita merasa bahwa tulisan yang kita bikin secara “semena-mena” masih memiliki manfaat, kita bisa menyimpannya.
Suatu saat kita bisa kembali membukanya. Mungkin kita harus mengeditnya dan siapa tahu kita bisa menayangkannya dalam blog pribadi atau bahkan mengirimkannya ke redaksi sebuah penerbitan.
Sepertinya saya sudah harus mengakhiri eksperimen ini. Tangan saya terasa agak pegal seusai mengetik lebih dari enam ratus kata dalam waktu singkat.
Namun sebenarnya alasan utama saya menghentikan kegiatan ini adalah rasa lelah pikiran. Dalam beberapa waktu terakhir ini, saya terus-menerus berpura-pura acuh tak acuh dengan banyaknya kekeliruan yang saya lakukan dalam eksperimen penulisan ala Levy ini.
Saya bertekad untuk melanjutkan program melatih diri menulis dengan cara ini dalam frekuensi yang lebih banyak lagi. Kata orang, banyak berlatih akan menjadi suatu kebiasaan.
Saya berharap suatu saat nanti bisa benar-benar menidurkan sang editor hingga lelap. Tentu saja saya akan membangunkannya ketika tiba waktunya sang editor harus bekerja.
Silakan baca juga tulisan tentang editor dalam diri yang tak henti mengganggu proses menulis cepat dan terus-menerus.
Catatan terakhir sebelum saya berhenti menulis cepat dan terus-menerus, saya hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk menghasilkan tulisan sepanjang 760 kata. Bagi saya, itu sebuah prestasi yang patut disyukuri.
Biasanya, dalam keadaan terserang wabah writer’s block, kata-kata sebanyak ini harus saya upayakan dalam waktu yang sangat panjang disertai banyak menekan-nekan jidat. Tidak cuma dalam hitungan jam, kadang-kadang saya tak bisa banyak beranjak dari kursi sejak pagi hingga siang hari atau bahkan lebih lama lagi.
Usai menghasilkan sekira 760 kata, saya mengguncang-guncang tubuh sang editor agar benar-benar tersadar dari mimpi buruknya. Mudah-mudahan ia sudah cukup segar untuk menunaikan tugasnya kali ini.
Mestinya, ia akan sangat bergembira karena di depan matanya terserak demikian banyak kekacauan yang harus dibereskan.
Saya pun membisikkan seuntai kalimat kepadanya, “Kini giliranmu kerja. Saya sudah menyelesaikan tugas mengikuti cara menulis cepat dan terus-menerus seperti yang disampaikan Mark Levy.”
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.
View Comments
Iya, sih... hehe
Thanks rangkumannya, seperti melecut semangat untuk menghempas writer s block
Terima kasih berkenan hadir. Yuk, semangat.
Ꮋi my loved one! I want to say that this article is amazing, great written and come
with approximately all vital infos. I would like to peer more posts like this .
Hello, thank you for your attention to my blog. I really appreciate it.
Your site looks like a question and answer forum. That's great.
One day I will visit your forum.