mengungkapkan perasaan untuk mengikat pembaca
Berkaca pada pelaut yang “gemar” mencaci untuk membuang emosi, penulis perlu mengungkapkan perasaan guna mengikat hati pembaca yang menjadi sasaran.
Seuntai ungkapan yang “menyengat” telah berhasil membikin saya penasaran.
“Sebelum mulai menulis, mengumpatlah seperti seorang pelaut.”
Sungguh, kalimat “gegabah” ini terasa agak ngeri lantaran muncul dalam sebuah artikel yang membahas tentang cara meningkatkan motivasi menulis.
Silakan baca tulisan mengenai cara unik penyair Sapardi Djoko Damono memotivasi dirinya sendiri untuk menulis.
Awalnya saya bingung dengan kalimat yang disampaikan oleh seorang narablog dalam blog bertema seluk-beluk menulis yang dikelolanya.
Ungkapan itu telah mendorong saya berpikiran buruk terhadap maksud penulis. Mengapa ia menyarankan pembaca untuk mengumpat seperti pelaut.
Rasa penasaran membawa saya mencari tahu apa tujuan sebenarnya penulis membuat pernyataan kontroversial semacam itu.
“Before you start writing, curse like a sailor. Get angry. Be emotional.”
Inilah kalimat asli yang menjadi fokus kita kini, merupakan salah satu saran penulis untuk untuk mengatasi masalah writer’s block. Segera saja timbul sejumlah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya ketika membaca kalimat itu.
Pertama, sudah benarkah penerjemahan dan pemahaman saya mengenai kalimat itu?
Seperti biasa, saya mengandalkan sarana paling praktis dan tersedia gratis kala menemukan konten berbahasa asing. Benar dugaan Anda, Google Translate.
Saat ini, saya menganggap terjemahan Google layak digunakan. Tentu saja terjemahan si Mbah tidak lantas dilahap mentah-mentah.
Kedua, setelah meyakini asumsi pertama, benarkah seorang pelaut memiliki kebiasaan memaki?
Saya berupaya mencari fakta-fakta terkait kebiasaan mengumpat yang dilakukan orang-orang yang merindukan sesederhana apa pun kehidupan di darat. Mengapa mereka melakukan kegiatan yang menjauhkan simpati orang?
Saya membayangkan sebuah kehidupan di tengah lautan. Sekian lama, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan, sejumlah orang berada di tengah samudra.
Tentu saja pemandangan yang bisa “dinikmati” hanya air dan udara. Lantas, apa yang dirasakan para pelaut dalam lingkungan monoton yang membosankan?
Mungkin rasa jemu telah lekat dengan kalbu. Barangkali pula rindu akan suasana daratan yang selalu mengusik perasaan.
Pendek kata, perasaan tidak nyaman bakal menemani hari-hari para pelaut ketika berada di tengah udara yang panas menyengat atau dingin berkabut.
Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam situasi demikian? Memang ada banyak alternatif kegiatan yang bisa mereka jalankan.
Bisa jadi di antara mereka ada yang menjelma religius. Mendapati kenyataan dirinya berada di tengah-tengah alam yang perkasa membuat seorang manusia merasa dirinya bukan siapa-siapa. Ternyata, manusia tak lebih dari butiran pasir di antara batu-batu besar dan air yang melimpah.
Atau sebaliknya, mengutuki apa yang ada. Ya, siapa yang berani meyakini diri bakal terhindar dari mencaci-maki menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dalam waktu sangat lama?
Nah, sepertinya saya telah menemukan hubungan antara pelaut dengan kebiasaan mengutuki keadaan. Benang merah itu telah kentara, meskipun hanya menggunakan ilmu kira-kira.
Sayangnya, saya tidak menemukan adanya semacam penelitian mengenai hal ini.
Sebelumnya saya berharap menjumpai kajian yang menghasilkan kesimpulan sekian persen pelaut melontarkan cercaan ketika berada dalam kebosanan di tengah lautan. Kemudian, dari situ muncul ungkapan “Mengutuklah seperti seorang pelaut”.
Akhirnya, saya menemukan juga petunjuk ke arah kesimpulan itu. Beberapa kalimat berikutnya dalam artikel tersebut memberikan tambahan pencerahan.
“Tulislah sesuatu yang Anda sukai. Ngoceh aja. Jangan pusingkan dampak yang bakal terjadi.”
Tiga kalimat terakhir mengarahkan pikiran saya untuk menyimpulkan bahwa penulis menyarankan untuk menggunakan strategi menulis bebas. Sang penulis juga menekankan pentingnya mengabaikan hasil dari proses yang dijalankan. Mengapa begitu?
Karena, (untuk sementara) tulisan yang dihasilkan dengan cara ini tidak akan dipublikasikan. Dengan demikian, kita tidak perlu mencemaskan tulisan kita.
Berbagai bayangan buruk seperti tulisan mengecewakan, tidak disukai pembaca, berisiko mendapat komentar tidak menyenangkan, dan sederet kekhawatiran-kekhawatiran lainnya yang acap meneror seorang (calon) penulis tidak akan mengusik kita.
“Menulis berkaitan dengan emosi.”
Tulisan mendalam yang dihasilkan dengan melibatkan emosi bakal menginspirasi pembaca. Sebaliknya, tulisan yang datar-datar saja tak akan menarik minat orang untuk membacanya.
Hilangkan rasa cemas. Sebab, setelah menumpahkan semua isi pikiran tanpa hambatan, kita berhak menentukan nasib tulisan emosional yang kita hasilkan. Apakah kita akan memoles dan menerbitkannya, atau kita akan melemparkannya ke tong sampah.
Namun, jika sejak awal proses menulis kita telah beriringan dengan pelbagai aturan—ejaan, tata bahasa, dan sebagainya—kita bakal sulit menyisipkan unsur emosi dalam karya kita. Ya, tulisan yang kita hasilkan dengan cara ini akan datar-datar saja.
Jadi, untuk sementara waktu tutup mata dan telinga, lalu menulislah tanpa beban apa pun. Setelah semua perasaan menjelma menjadi tulisan, barulah kita “bangunkan” editor dalam diri kita untuk mulai menjalankan tugasnya.
Begitulah cara meneladan “tabiat” pelaut yang “suka” mencerca keadaan. Seorang penulis hendaknya menulis dengan segenap emosi guna mengungkapkan perasaan agar menghasilkan tulisan yang mampu menginspirasi.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.