ilustrasi scroll sosmed
Scroll sosmed yang kamu rencanakan sebentar saja ternyata sudah 30 menit tanpa kamu sadari. Kamu pernah mengalaminya? Atau bahkan sudah menjadi kebiasaan?
Pada sisi lain, mungkin kamu pernah bertekad untuk mulai membaca buku lagi. Namun, entah mengapa, membaca buku terasa jauh lebih berat dibandingkan scroll media sosial.
Barangkali keadaan ini tidak sekadar dipicu oleh rasa malas. Kini telah terjadi perubahan besar dalam hidup kita. Ada perubahan pada cara kita menikmati informasi, cara kita fokus pada sesuatu yang sedang kita kerjakan, dan bahkan cara otak kita bekerja.
Dalam waktu singkat, kita bisa mendapatkan banyak hal dari aktivitas scroll sosmed. Beberapa keuntungan yang bisa kita peroleh dari scroll media sosial antara lain:
Sementara itu, membaca buku sangat berbeda dengan sekral-sekrol media sosial. Kegiatan membaca buku membutuhkan waktu, kesabaran, dan perhatian penuh.
Dunia kita sekarang berjalan serba cepat. Otak kita pun mengikuti ritme seperti ini dan telah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan instan.
Kondisi semacam itu menyebabkan kita merasa lebih berat melakukan aktivitas yang lambat seperti membaca buku. Sebaliknya, kita makin nyaman dan bahkan keranjingan pada aktivitas instan semacam scroll sosmed.
Barangkali sebagian orang masih menganggap membaca sebagai aktivitas santai. Kenyataannya, kegiatan membaca melibatkan proses yang kompleks.
Ada sebuah tulisan menarik yang ditayangkan oleh Reading Rockets. Artikel berjudul “What is Reading?” itu antara lain mengungkapkan bahwa membaca bukan sekadar melihat kata. Ternyata, kegiatan membaca melibatkan pemahaman, memori, dan kemampuan menghubungkan berbagai ide secara bersamaan.
Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan membaca terasa melelahkan. Aktivitas membaca memang membuat otak bekerja lebih keras dibandingkan, misalnya, scroll media sosial.
Hidup kita dikepung berbagai hal singkat. Hampir setiap hari kita menemukan video pendek, caption singkat, dan konten yang terburu-buru mau segera selesai. Tingkat persaingan telah membuat semua itu menjadi keseharian kita dewasa ini.
Dengan dominasi konten-konten semacam itu, kita dipaksa melatih diri menikmati informasi dan hiburan dalam potongan-potongan kecil. Seakan-akan kita harus melupakan kajian-kajian panjang dan mendalam agar tidak kudet, kehilangan informasi yang (dianggap) penting.
Dampaknya jelas. Otak kita dibuat tidak nyaman oleh isi buku yang panjang.
Sebetulnya bukan bukunya yang terlalu berat, tetapi kita sudah terbiasa menikmati sajian super cepat. Ritme membaca buku terasa bagai menggiring siput ke kampung sebelah.
Berbagai “tujuan mulia” kerap dikaitkan dengan kegiatan scrolling.
“Aku lagi nyari inspirasi.”
“Aku mau belajar sesuatu.”
Beberapa kalimat semacam itu acap mengiringi aktivitas scrolling. Benarkah begitu?
Mungkin sebagian di antara kita memang benar-benar sedang belajar atau mencari gagasan melalui scroll instagram, scroll tiktok, atau yang lain. Namun, barangkali juga sebagian lainnya sekadar numpang lewat saja.
Tentu saja berbeda dengan membaca buku. Meskipun terasa “sepi”, membaca buku akan memberi ruang yang lebar bagi kita untuk benar-benar memahami sesuatu.
Suatu saat, mungkin kamu benar-benar ingin membaca buku. Kamu sudah duduk manis di sofa sembari memegang buku karya penulis favoritmu.
Namun, apa daya, setiap kurang dari lima menit ada notifikasi masuk ke ponselmu, entah dari WA, email, atau TikTok. Lalu, kamu terdorong untuk mengeceknya sebentar. Ya, niatmu akan memeriksanya sebentar saja.
Lantas, bagaimana kelanjutannya? Benarkah kamu memeriksa HP-mu sebentar saja?
Mungkin tidak sebentar, bahkan bisa jadi lama sekali kamu mengulik ponselmu. Hatimu tergoda untuk menggulirkan kursor naik-turun, pindah sana pindah sini. Konten-konten silih berganti tampil di hadapanmu, dan semuanya bikin kamu penasaran.
Bagaimana nasib buku di tanganmu? Sepertinya ia kembali mengalami peruntungan buruk seperti hari-hari sebelumnya, terbengkalai karena kamu (lagi-lagi) melupakannya.
Umumnya, kegiatan membaca buku membutuhkan kondisi yang tenang dan tidak ada banyak gangguan. Kondisi semacam itu akan mendukung fokus kita melahap isi buku.
Namun, sayang sekali. Kondisi tanpa notifikasi kini hanya hanya bisa terjadi dalam mimpi. Di zaman digital sekarang ini, ketenangan telah menjadi barang mewah yang sulit dijamah.
Ada sebuah kabar baik yang bisa saya sampaikan. Kebiasaan membaca yang sempat tenggelam oleh riuhnya notifikasi bisa kita timbulkan kembali.
Sebenarnya kita masih memiliki minat membaca. Hanya saja, minat itu terganggu oleh gempuran konten singkat yang selalu masuk ke beranda kita.
Ada berbagai cara untuk mengembalikan kebiasaan membaca yang sempat terlupakan. Kita bisa memulainya dari yang kecil, menganggap membaca sebagai versi lambat dari scrolling, memilih bacaan ringan, mengurangi distraksi, dan tidak memaksa untuk menyelesaikan sebuah bacaan.
Kita bisa mulai membaca 2-3 halaman setiap kali membuka buku. Membaca 2-3 halaman tentu saja akan terasa jauh lebih ringan dibandingkan membaca sejilid buku berisi puluhan atau ratusan halaman.
Sebetulnya, membaca buku dan scroll medsos memiliki fungsi serupa. Keduanya bertujuan mendapatkan informasi. Salah satu perbedaannya terletak pada cara otak kita memprosesnya.
Scrolling membuat kita seperti mendapatkan banyak hal sekaligus dalam waktu singkat. Kita terus bergerak dan nyaris tak berhenti pada satu konten. Kita merasa telah mengetahui banyak hal, padahal sering tidak benar-benar memahaminya.
Sebaliknya, membaca buku bisa diibaratkan duduk dan makan dengan tenang. Kita tidak terburu-buru pindah ke topik lain, tetapi kita mengikuti alur dan mempunyai waktu yang cukup untuk memahami dan bahkan mengembangkan suatu ide.
Masalahnya, kita sering membandingkan keduanya secara tidak adil. Kita berharap membaca bisa secepat, semenyenangkan, dan seringan scrolling.
Padahal, membaca memang tidak didesain seperti itu. Kalau scroll memberi kita banyak potongan informasi kecil, membaca membantu kita menyusun potongan itu menjadi gambaran yang utuh. Ketika scrolling membantu kita sekadar tahu, membaca memberi kita pemahaman.
Jadi, cara terbaik untuk kembali menikmati membaca bukan dengan melawannya secara keras, tapi dengan mengubah cara pandang kita terhadap kegiatan ini. Anggaplah membaca sebagai versi lambat dari aktivitas-aktivitas yang kita lakukan hampir setiap hari, yaitu mengonsumsi informasi.
Kita juga perlu menyadari bahwa membaca mungkin tidak memberikan hasil seketika. Namun, kegiatan membaca akan memberikan dampak yang bertahan lama.
Tujuan memilih bacaan ringan adalah untuk membuat kita bisa menikmati bacaan itu. Perasaan menikmati semacam itu akan mendorong semangat kita untuk melakukannya tanpa beban yang berat.
Tidak bisa kita mungkiri bahwa HP telah menjelma sebagai distraksi terbesar dalam urusan ini. Sekarang ini, hampir semua urusan hidup kita tersimpan di HP.
Tugas-tugas kantor, masalah-masalah rumah tangga, urusan-urusan kemasyarakatan hingga berbagai hiburan receh hampir semuanya “bermukim” di HP kita. Seolah-olah, kita tidak bisa lagi hidup tanpa si pintar itu berada dekat kita.
Sayangnya, “kedekatan” kita dengan HP tercinta sering menjadi penghalang hubungan kita dengan buku dan sumber bacaan lainnya. Cara mengembalikan keakraban kita dengan buku tentu saja menjauhkan atau mengaktifkan mode senyap HP kita untuk sementara waktu saat kita sedang “bergulat” dengan buku.
Membayangkan sebuah buku tebal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu akan membuat kita merasa berat untuk memulainya. Kita tidak harus menyelesaikan semua buku dalam waktu singkat, apalagi dalam sekali duduk.
Selama ini, bukan lantaran kehilangan minat baca yang membuat kita merasa berat untuk membaca buku. Perasaan berat itu lebih disebabkan kita terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang mudah dan cepat seperti scrolling.
Kita tidak perlu memusuhi keinginan untuk scroll IG atau yang lain. Kita hanya perlu waspada agar sekral-sekrol ini tidak menggantikan kebiasaan kita membaca buku untuk mendapatkan makna yang lebih dalam.
Di dunia yang berjalan serba cepat, kemampuan duduk, fokus, dan memahami sesuatu secara mendalam semakin tinggi nilainya karena telah menjadi barang langka. Jadi, jangan sampai keasyikan scroll medsos hingga kita lupa cara membaca buku.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.