sikap bodo amat, sumber steve buissinne dari pixabay via canva
Adakalanya, sikap bodo amat itu perlu dilakukan oleh seorang penulis. Kapan penulis harus menunjukkan sikap bodo amat?
Mengapa kita perlu belajar untuk bersikap bodo amat? Bukankah banyak orang menyarankan pentingnya mengembangkan kepedulian?
Tentu saja tidak keliru ungkapan yang menyatakan bahwa rasa peduli itu baik dan perlu dibiasakan. Kepedulian kepada sesama dan kepada lingkungan sekitar akan mendatangkan banyak manfaat.
Faedah itu bisa langsung dirasakan oleh orang yang memiliki rasa peduli. Contohnya, orang-orang menjadi lebih menyukai dan menghargai dirinya sebagai “balasan” atas kepeduliannya kepada orang-orang di sekelilingnya.
Selain itu, sikap peduli juga bisa mendatangkan faedah bagi orang-orang sekitar. Misalnya saja, rasa kebersamaan di lingkungan orang-orang yang peduli terhadap sesama menjadi lebih baik.
Melihat begitu banyak manfaat dari sikap penuh perhatian ini, lantas mengapa malah ada anjuran untuk belajar tak hirau?
Bodo amat dalam kasus ini tidak berhubungan dengan sikap peduli yang telah saya paparkan di atas. Belajar tak peduli dalam hal ini berkaitan dengan proses menulis.
Dalam jagat tulis-menulis, sikap peduli yang berlebihan bisa membahayakan diri si penulis sendiri. Sikap ini dapat menimbulkan kecemasan ketika seseorang baru mulai menorehkan kata-kata.
Rasa cemas yang membayangi seorang penulis bisa berasal dari berbagai sebab.
Penyebab ketakutan antara lain saat kita membayangkan bahwa hasil karya kita bakal dinilai buruk oleh pembaca. Dari kondisi ini bisa pula timbul rasa cemas akan datangnya kritik atau bahkan cemoohan orang terhadap tulisan yang kita hasilkan.
Sepertinya banyak penulis yang menderita kecemasan semacam itu. Terlebih bila si penulis masih berstatus pemula.
Perasaan-perasaan negatif seperti itu, bila tak dapat dikendalikan, akan merusak keyakinan diri sang (calon) penulis. Jika hal itu terjadi, hampir bisa dipastikan kemampuan menulisnya tak akan berkembang.
Nah, agar ketakutan seperti itu menyingkir dan tak kembali menghampiri kita, barangkali kita perlu belajar untuk bersikap masa bodoh. Kita harus bisa “cuek” terhadap (bakal) hasil karya kita.
Butuh referensi untuk memahami sikap bodo amat? Silakan kunjungi affiliate link ini.
Jadi, sikap bodo amat itu perlu dilakukan untuk mengurangi rasa was-was yang acap mengganggu keasyikan menulis.
Lantas, bagaimana caranya kita belajar bersikap bodo amat dalam urusan ini? Salah satu jalan yang bisa kita tempuh adalah dengan mempraktikkan teknik membikin tulisan pribadi yang hanya ditujukan bagi diri kita sendiri.
Inti dari ajaran ini, berusahalah menulis secara bebas, seakan-akan tulisan yang akan kita hasilkan hanya untuk diri kita sendiri dan bukan untuk keperluan publikasi.
Banyak versi yang mengacu pada teori ini, antara lain menulis bebas dan menulis cepat. Dalam konteks serupa, banyak praktisi menyarankan para (calon) penulis untuk mengawali kiprah dengan menulis diary alias buku catatan harian.
Ketika kita membayangkan bahwa tulisan yang tengah kita garap tidak akan “dijamah” orang lain, maka pikiran kita akan menjadi tenang. Dengan pikiran yang nyaman tanpa didera kekhawatiran, proses menulis yang kita lakukan akan berjalan lebih lancar.
Keputusan untuk menayangkan atau menyimpan saja tulisan kita, baru akan kita ambil setelah kita menumpahkan semua gagasan yang tersimpan dalam benak kita. Ketika tiba waktunya, kita akan menentukan “nasib” buah karya kita.
Bila kita menilai tulisan itu layak dikonsumsi pembaca, maka kita bisa membagikannya kepada khalayak melalui pelbagai cara. Tentu saja hal itu kita lakukan setelah kita memoles “tulisan asal-asalan” itu sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, kita juga berhak memutuskan untuk menyimpan saja tulisan kita dalam komputer atau media penyimpanan lainnya jika kita menilai materi tulisan itu tidak laik menjadi santapan publik. Bahkan, kita bebas menghapus sebuah tulisan yang hanya menimbulkan rasa cemas.
Wah, rugi dong. Sudah capek-capek nulis, hasilnya malah dimusnahkan.
Perkara rugi atau tidak sangat bergantung pada niat yang kita canangkan. Kita bakal merasa rugi bila kita menulis semata-mata berharap beroleh imbalan, baik berupa materi atau sekadar pujian.
Namun, kita tetap bisa merasa beruntung setelah menghancurkan hasil karya kita itu. Hal ini bisa terjadi kalau kita memaklumkan kegiatan menulis sebagai sarana belajar atau untuk tujuan lain seperti menulis untuk menyehatkan.
Pelajaran yang kita peroleh dari proses menulis tidak akan hilang meskipun hasil dari proses itu kita musnahkan. Keterampilan menulis kita tetap akan bertambah seiring dengan banyaknya praktik menulis yang kita lakukan.
Begitu pula saat kita menulis dengan tujuan untuk menyembuhkan atau menyehatkan. Beban pikiran yang telah tercurah dalam wujud tulisan, meskipun kemudian tulisan itu kita lenyapkan, semestinya enyah atau setidaknya berkurang.
Nah, tunggu apa lagi? Mengapa tidak segera menulis? Kalaupun hasil karya kita belum pantas disajikan kepada masyarakat, minimal kita bisa mendapatkan dua manfaat dari aktivitas menulis yang rutin kita lakukan.
Pertama, keterampilan menulis kita semakin terasah.
Banyak penulis hebat merekomendasikan agar kita memperbanyak praktik menulis untuk meningkatkan keterampilan dan kebiasaan kita. Sebut saja ucapan Ray Bradbury yang menekankan pentingnya praktik menulis, “Kau gagal hanya jika kau berhenti menulis.”
Kedua, rasa percaya diri kita semakin tinggi.
Dengan kepercayaan diri itu, kita tak akan gampang diserang oleh rasa takut dan khawatir yang berlebihan ketika sedang berkarya.
Tak hanya kedua faedah yang telah saya sebutkan di atas yang bakal kita nikmati. Seusai mengeluarkan unek-unek yang mengganjal hati, mudah-mudahan perasaan kita menjadi plong lantaran beban yang menggelayutinya telah kita “bagikan”.
Jadi, sikap bodo amat itu perlu dilakukan pada situasi yang tepat.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.