ilustrasi sulit fokus
Anda sulit fokus pada pekerjaan karena banyak distraksi di sekitar Anda? Yuk, upayakan untuk mengatasinya.
Sebetulnya, banyak sekali urusan-urusan yang bisa menghambat produktivitas. Namun, jika Anda mampu fokus pada tujuan, penghambat-penghambat produktivitas lainnya lebih mudah diatasi.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Silakan baca tulisan mengenai ketakutan yang menjadi hambatan menulis.
Fokus tidak hanya dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan semata. Kemampuan fokus juga sangat diperlukan untuk menyingkirkan atau mengurangi hambatan-hambatan lainnya.
Sebut saja misalnya, seorang penulis yang sulit fokus akibat adanya distraksi digital dan meja kerja yang berantakan. Sang penulis tidak kunjung menghasilkan tulisan lantaran banyaknya barang-barang tak berguna menumpuk di atas meja, serta tampilan monitor komputer yang sarat program-program yang menggoda.
Nah, untuk gangguan-gangguan yang bisa mengalihkan perhatian itu juga dibutuhkan fokus. Ketika sudah timbul keinginan di hati untuk membereskan distraksi itu, harus fokus untuk melakukannya.
Thomas Alva Edison memiliki cara yang tak lazim untuk menghindarkan diri dari gangguan yang acap datang dari sekelilingnya.
Sang penemu bola lampu kerap bekerja di kantornya yang terletak di dekat dermaga di Florida. Adakalanya, muncul gangguan dari orang-orang yang berada di sekitarnya hingga Edison sulit fokus pada agenda yang tengah dijalankannya.
Untuk mengantisipasinya, Thomas Edison telah menyiapkan seperangkat alat pancing. Ketika ia sudah duduk di ujung dermaga sembari memegang gagang pancing, orang-orang menjadi sungkan dan tak hendak mengganggunya. Edison pun terlepas dari potensi gangguan, dan dapat berkonsentrasi melakukan aktivitasnya.
Namun, bukankah ia akan menjumpai keributan yang datang dari dalam laut ketika ada ikan menggigit mata kailnya? Hal itu tidak akan terjadi karena Edison tidak memasang umpan di ujung mata kailnya.
Saya mendapatkan kisah tak terduga ini dari buku Cats, Sembilan Nyawa Inovasi karya Stephen C. Lundin, Ph.D.
Ada seuntai kalimat menggelitik berkaitan dengan pentingnya fokus. Saya mendapatkan kalimat menarik itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan situs Kellogg School of Management at Northwestern University.
“If I have a goal to be productive today, and I scroll past someone who’s talking about mindlessly watching Netflix, I’m probably not going to connect with them.”
Itulah kalimat yang diucapkan oleh Jessica Gamlin, dikutip dari Kellogg Insight. Jessica Gamlin adalah seorang peneliti akademis yang mengkhususkan diri pada bidang pemasaran dengan fokus pada perilaku konsumen.
Sebenarnya, penulis artikel menyampaikan ucapan Gamlin itu ketika membahas kewaspadaan terhadap dampak buruk influencer. Namun, kalimat itu terasa pas juga diungkapkan dalam perbincangan mengenai pentingnya fokus.
Saat kita memutuskan untuk produktif, mestinya kita fokus pada rencana yang akan kita kerjakan untuk mendukung produktivitas itu. Kita harus mampu mengesampingkan pelbagai aktivitas yang menarik perhatian selama hal itu tidak berhubungan dengan rencana kita.
Silakan baca juga artikel tentang dilema menulis, antara beban dan kesenangan.
Jessica Gamlin telah mencontohkan dirinya tak menggubris ajakan seseorang untuk menonton film di Netflix. Kita pun bisa mengabaikan “bujuk rayu” yang akan mengalihkan fokus kita dari rencana yang telah kita susun.
Banyak sekali hal-hal yang dapat memengaruhi konsentrasi kita. Ganguan-gangguan itu bisa berada di mana pun di sekeliling kita.
Di atas meja kerja kita saja, kita bakal gampang menemukannya. Kadang-kadang kita menaruh buku-buku yang sekiranya bakal kita perlukan sebagai referensi. Belum lagi kertas-kertas dan pernak-pernik asesoris yang berserakan di atas meja.
Dan, “benda terkutuk” yang biasanya menjadi aktor utama “pembuat onar” hingga mengacaukan fokus kita, biasa kita kenal dengan sebutan smartphone. Benda kecil itu memang diproduksi dan diisi pelbagai hiburan yang mampu bikin orang teramat sulit mengabaikannya.
Lantas, bagaimana cara “melenyapkan” gangguan-gangguan yang datang dari meja kerja dan sekitarnya?
Kita akan mulai acara bersih-bersih dari meja kerja.
Pertama, kita tentukan dulu jadwal kita akan mulai kerja sebagai patokan penetapan waktu untuk membereskan meja kerja kita. Misalnya, jam delapan pagi kita akan mulai menulis artikel untuk blog kita.
Penetapan jadwal dan jenis kegiatan itu secara tidak langsung memberitahukan alat-alat apa saja yang akan kita butuhkan. Untuk menulis sebuah artikel, kita hanya membutuhkan laptop, tidak yang lain-lain.
Maka, setengah atau seperempat jam sebelum jam delapan kita sudah mulai menyingkirkan semua benda yang berada di atas meja, tentu saja selain laptop. Ketika menyingkirkan benda-benda itu, jangan pernah mencoba untuk memilah-milahnya. Ambil semua barang di sana, dan pindahkan ke suatu tempat selain meja kerja yang akan kita gunakan untuk berkarya.
Seandainya masih ada kesempatan sebelum mulai bekerja, kita bisa memilah-milah barang-barang itu. Namun, bila jam delapan telah tiba, segeralah buka laptop dan menulislah hingga waktu menulis berakhir.
Silakan baca juga artikel yang mengulas cara mencapai target menulis 1.000 kata sehari.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, kita bisa kembali memilah-milah barang-barang yang kita singkirkan dari atas meja. Pemilahan ini tidak dimaksudkan untuk mengembalikannya ke atas meja, melainkan memilih barang-barang yang tidak lagi kita butuhkan.
Benda-benda yang tidak kita butuhkan sebaiknya segera dimusnahkan, atau setidaknya ditempatkan di lokasi terpisah dengan ruang kerja.
Sementara itu, barang-barang yang masih kita perlukan sebagai penunjang kerja, misalnya buku-buku referensi, ditempatkan dalam posisi terpisah dengan meja kerja. Kita bisa menaruh barang-barang itu di rak, lemari, atau dalam kotak kardus.
Ada cara praktis untuk mengatasi semua kekacauan yang terjadi di atas meja kerja. Saya menjumpai ide ini tatkala dilanda pusing kepala lantaran tidak menemukan wadah lain untuk menyimpan isi meja kerja yang cukup banyak.
Akhirnya, saya memilih membiarkan meja kerja apa adanya. Saya mengalihfungsikan meja kerja itu menjadi “meja arsip”.
Silakan baca juga tulisan mengenai cara Goenawan Mohammad meningkatkan produktivitas menulis.
Saya hanya perlu memindahkan sebuah laptop mungil ke meja kecil yang hanya mampu menampung laptop itu. Sejak itu, saya kerap bekerja di meja kecil yang saya tempatkan di sudut lain dalam ruang yang sama dengan meja arsip yang mantan meja kerja itu.
Biasanya, distraksi digital lebih sulit diatasi. Namun, dengan tekad kuat, upaya menghambat lalu lintas digital bisa sangat membantu kita fokus menyelesaikan pekerjaan.
Upaya yang biasanya dilakukan untuk membatasi gangguan digital adalah mematikan notifikasi sarana-sarana komunikasi dan media sosial. Memutus sambungan internet atau mencari lokasi yang bebas internet juga menjadi pilihan banyak orang.
Berbagai usaha lain bisa juga dilakukan. Misalnya saja, mengatur struktur penyimpanan file dalam komputer yang kita gunakan untuk bekerja.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membersihkan tampilan monitor komputer dari berbagai macam ikon dan shortcut-shortcut yang tidak kita butuhkan. Layar monitor yang ramai bisa memecah konsentrasi dan memancing kita mengakses program lain.
Sebaiknya, kita mengatur penempatan file-file berdasarkan kegunaannya. File-file itu bisa dibagi ke dalam beberapa folder, misalnya “Konsep”, “Referensi”, dan “Final”.
Folder “Konsep” berisi bahan-bahan yang akan atau sedang dikerjakan. Ketika memulai pekerjaan, kita bisa langsung membuka folder ini.
Bahan-bahan bacaan yang dibutuhkan untuk menunjang kerja ditempatkan di folder “Referensi”. Barangkali folder ini akan dibuka sebelum mulai menulis, atau di tengah-tengah proses menulis.
Terakhir, folder “Final” tentu saja berisi tulisan-tulisan yang telah diselesaikan dan mungkin akan segera diterbitkan. Selain ketiga folder tersebut, dapat juga disiapkan folder arsip untuk menyimpan file-file yang telah diterbitkan.
Silakan baca juga tulisan yang membahas tantangan penulis di era digital.
Langkah-langkah semacam ini bisa sangat membantu mengurangi gangguan-gangguan yang tak pernah bosan menyambangi kita.
Namun, adakalanya langkah-langkah ini menjadi omong kosong belaka. Hal itu terjadi ketika hati kita tak sanggup menahan rasa penasaran untuk melihat update status artis pujaan, atau godaan-godaan lain semacam itu.
Memang semua usaha bergantung kepada keteguhan hati kita untuk menjalankannya secara konsisten dan konsekuen. Namun, tidak salah juga membarenginya dengan mengupayakan cara-cara lainnya.
Kombinasi keduanya mungkin cukup ampuh untuk menghilangkan distraksi agar kita tak sulit untuk fokus merampungkan pekerjaan.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.