resensi film little women
Saya tidak menyangka bakal mendapatkan inspirasi keren dari film Little Women. Jalan berliku yang disusuri tokoh utama menuju cita-cita telah menyemangati saya.
Sudah cukup lama saya menonton film yang dibintangi Saoirse Ronan itu. Kali ini saya mengingat kembali momen-momen yang mengilhami saya kala itu.
Awal munculnya niat saya menonton film ini terjadi begitu saja. Sebenarnya saya hanya berharap mendapatkan hiburan sekadarnya.
Ketika itu saya tengah berada dalam kondisi gelisah. Saya sedang berupaya mengalihkan kelesah lantaran hasrat menulis terhalang oleh gagasan yang tak kunjung datang.
Maksud hati hendak menghasilkan beberapa artikel, atau setidaknya sejumlah konsep tulisan. Namun, apa daya pikiran macet bak keran air yang mampet.
Sekian lama kursor di layar laptop mini di hadapan saya hanya mampu berkedip-kedip. Ia menanti jari-jari tangan saya kembali menyentuh papan ketik.
Lantaran ide tak kunjung datang, saya memutuskan untuk meninggalkan program pengolah kata yang terbuka tanpa banyak aksara tertulis di sana. Barangkali dengan mengalihkan perhatian sejenak dari komputer, pikiran bisa segar kembali.
Saya menjatuhkan pilihan pada media film sebagai sarana pengalih perhatian itu. Saya sedikit berharap agar media ini mampu membongkar kebuntuan yang tengah mencengkeram otak saya.
Buku yang selama ini saya andalkan untuk memancing inspirasi, kali ini gagal menunaikan tugasnya. Barangkali saya lelah juga.
Film bukan barang yang akrab dengan kehidupan saya. Amat jarang saya menonton film dalam bentuk dan tema apa pun.
Namun, kali ini saya berharap bakal hadir mukjizat darinya. Saya pun menaruh angan-angan pada sebuah film yang berlatar belakang kehidupan zaman lampau di New York. Film itu berjudul Little Women.
Mulanya saya memperoleh informasi mengenai film ini dari sebuah ulasan yang saya baca dalam suatu blog. Saya menemukan tulisan ini setelah menelusuri mesin pencari dengan kata kunci ‘film inspiratif bagi penulis’.
Sekilas ulasan tentang film Little Women yang saya baca mengungkapkan bahwa film ini akan menyajikan cukup banyak adegan yang mengharukan. Saya memang menjumpai beberapa adegan yang bikin air mata hampir meleleh.
Silakan baca juga tulisan mengenai manfaat menyebut diri sebagai penulis.
Setelah memasuki pertengahan film, baru saya tahu kalau tokoh utama cerita yang bernama Jo March adalah seorang (calon) penulis. Saya seperti mendapatkan durian runtuh seusai menonton film yang ber-setting zaman lampau ini.
Secara keseluruhan, saya menyukai film ini karena mengusung cerita yang apik. Para pelaku yang tampil dalam film juga menunjukkan kualitas akting yang amat baik.
Pelbagai keunggulan itu telah membikin saya sanggup bersabar memelototi layar hingga tontonan ini kelar.
Hal paling menarik yang saya rasakan dari film ini adalah proses Jo menapaki profesi penulis. Jo adalah seorang gadis yang berhasrat besar menjadi penulis dan menghasilkan banyak materi dari profesi ini.
Jo merupakan bagian dari empat perempuan bersaudara. Keempatnya memiliki karakter dan minat yang berbeda-beda.
Pada awal cerita, Jo digambarkan menulis benar-benar untuk mencari duit. Namun, di akhir kisah kita melihat Jo yang sudah bisa bersikap elegan mempertahankan idealismenya sebagai seorang penulis.
Bagi saya, kejadian paling menegangkan dan menyulut emosi dipicu oleh ulah Amy. Amy adalah seorang adik Jo yang amat berminat pada dunia seni, dan memandang kehidupan dengan cara yang amat berbeda dengan saudara-saudaranya.
Bibinya yang tinggal di Paris menggambarkan Amy sebagai satu-satunya anggota keluarga March yang masih waras. Kewarasan yang ditunjukkan Amy dengan sikapnya yang tak canggung membicarakan kekayaan materi, selaras dengan pemikiran sang Bibi.
Pada puncak kebrutalannya, Amy melakukan kejahatan yang kemudian amat disesalinya. Kelakuan buruknya telah menyakiti hati saudaranya sendiri.
Suatu hari, Jo dan Meg, dua orang kakaknya, pergi meninggalkannya untuk menghadiri suatu pesta. Sebenarnya Amy sangat ingin bergabung dengan kedua saudaranya, tetapi Jo tidak mengizinkannya.
Keinginan besar yang tidak kesampaian itu membikin Amy hilang akal. Ia pun melampiaskan kemarahannya dengan membakar catatan-catatan penting Jo yang ditemukannya di laci.
Bayangkan, tulisan-tulisan yang sekian lama dibuat dengan susah payah itu dimusnahkan begitu saja. Tentu saja Jo marah besar dan mendiamkan adiknya itu hingga berhari-hari.
Saya sempat menduga pertikaian kakak beradik itu bakal berlangsung sangat lama, bahkan mungkin hingga akhir cerita. Namun dugaan saya keliru.
Ternyata kedekatan emosi sesama saudara dalam keluarga tak membiarkan kekacauan menyiksa mereka terlalu lama. Kedua gadis bersaudara itu kembali berpelukan.
Silakan baca ulasan tentang berbagai kemudahan menulis di era digital.
Mendekati akhir kisah, satu per satu anggota keluarga yang diceritakan dalam film itu menemukan kebahagiaan yang mereka dambakan. Hingga yang terakhir, Jo bisa tersenyum ceria ketika berhasil mencapai kesepakatan penerbitan novel pertamanya.
Jo dan saudara-saudaranya hidup di zaman nggak enak dan diliputi pelbagai persoalan. Namun, mereka tabah, berjuang, dan saling menguatkan hingga menemukan keberhasilan.
Nah, kalau Jo mampu bangkit dari keterpurukan dan berhasil menerbitkan karyanya, mengapa kita tidak? Bukankah kita hidup pada masa yang tak sesulit zaman mereka?
Kini kita amat dimanjakan oleh berbagai fasilitas dengan banyak kemudahan. Menulis bukan lagi kegiatan yang sulit kita lakukan.
Sungguh berbeda dengan Jo yang hidup pada era serba manual. Ia menulis beribu-ribu kata hanya mengandalkan kertas dan pena.
Atau, mungkinkah urusan-urusan teknis yang gampang kita selesaikan justru melenakan? Banjir media informasi dan sarana hiburan dalam genggaman merupakan godaan berat yang acap mengalihkan perhatian.
Cobalah rehat sejenak. Tak ada salahnya menikmati suguhan berkelas semacam menonton film Little Women yang berkualitas.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.