Kreatif

Mencatat Ide Bukan Pekerjaan Sepele

Mencatat ide tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pekerjaan sepele. Mengabaikan aktivitas ini bisa memunculkan kesulitan di belakang hari. Saya sedang terkesima oleh seuntai kalimat mutiara. “Lebih baik pensil yang pendek daripada ingatan yang panjang.” Semula saya tidak mampu mengira sama sekali maksud ucapan ini. Apa hubungan antara pensil yang pendek dengan ingatan yang panjang? Tanpa sengaja saya menemukan kalimat menggelitik ini. Sejak pertama kali menjumpainya, saya tertarik pada susunan kata-kata yang terasa ajaib dan berbeda dengan yang lain. Kalimat itu telah berhasil menggiring saya untuk memikirkannya. Membandingkan dua hal yang seakan-akan tak berkaitan telah menimbulkan sensasi tersendiri. Dan itu sangat menarik hati.

Baca juga catatan mengenai manfaat menulis buruk bagi kelancaran aktivitas menulis.

Menurut Anda, pensil–sebuah alat sederhana yang biasa dipakai untuk menulis atau menggambar– dan ingatan–sesuatu yang abstrak dan (mungkin) letaknya tersembunyi dalam otak– memiliki hubungan seperti apa coba? Bahkan keduanya bersemayam di alam yang berbeda. Jika pencetus quote itu berharap bisa menggelitik rasa penasaran dengan mengunggah perbandingan ganjil semacam itu, ia berhasil memengaruhi saya. Saya cukup terpukau oleh kemahirannya menyatukan dua urusan yang berbeda. Sayang sekali, saya tidak berhasil menemukan penjelasan yang terang-benderang mengenai ungkapan ini. Rangkaian kata-kata ini masih berselimut misteri hingga kini. Maka, saya menggunakan satu-satunya cara yang tersisa untuk memahaminya. Cara yang saya maksud tiada lain meraba-raba, kira-kira maksud penulisnya seperti apa. Saya pun mencoba mengaitkan untaian kata mutiara itu dengan pengalaman yang terjadi pada diri saya sendiri.

Jangan Remehkan Mencatat Ide

Sudah amat sering saya membaca sebuah nasihat berkaitan dengan menulis, khususnya pada tahan pencarian ide. Berikut ini petuah yang tengah saya bincangkan. “Segera catat ide yang muncul di kepala! Jangan sampai lewat begitu saja.” Saya sangat memercayai keampuhan kalimat ini. Pengalaman buruk yang berulang telah meyakinkan saya untuk menganggap enteng petuah sederhana itu. Saya sering kehilangan ide yang mampir sebentar di kepala lantaran tak segera mencatatnya. Nasihat tentang pentingnya segera mencatat ide selalu mengingatkan saya akan pengalaman kehilangan gagasan yang acap terjadi, dan mungkin bakal terus menyambangi.

Baca juga tulisan mengenai sikap bodo amat bagi seorang penulis.

Sepertinya gampang menjalankan “perintah” itu, bukan? Cuma mencatat, tidak perlu berpikir, apa susahnya? Namun yang terjadi tidak semudah menekuk jari. Aral, kalau boleh menyebutnya demikian, kerap hadir mengganggu niat baik saya dalam upaya mengamankan gagasan. Lupa tidak membawa buku catatan kecil beserta ballpoint atau pensil merupakan keadaan yang kerap menjadi alasan. Padahal, sebuah perkakas modern bernama gawai jarang sekali lepas dari genggaman ke mana pun saya pergi. Tentu saja alat serba guna itu bisa menjadi substitusi kertas dan pensil. Bahkan, kebanyakan orang tak lagi membutuhkan alat tulis manual sejak kehadiran si pintar. Yah, namanya juga alibi. Kabar baiknya, kini saya bisa menerjemahkan kalimat menggelitik itu dengan kejadian ini. Setidaknya terjemahan yang bakal saya pakai sendiri. “Catatlah ide yang kamu tangkap menggunakan pensil, sependek apa pun pensil itu. Sebab bila tidak, ide-ide yang sempat singgah di kepalamu bakal segera menghilang karena ingatanmu tidak sepanjang yang kamu kira.”

Lebih Berarti dengan Spesialisasi

Banyak kajian mengenai kapasitas otak manusia. Salah satunya menyebutkan bahwa memori dalam otak manusia memiliki daya tampung 2,5 petabyte. Angka ini setara dengan 1 juta gigabyte. Seingat saya, saya belum sempat menimbun data sebanyak itu dalam otak saya. Harusnya, di sana masih tersedia ruang yang lapang untuk menyimpan gagasan-gagasan yang berseliweran. Nyatanya saya sering kelimpungan tatkala bersiap menulis artikel di depan komputer. Layar komputer yang menampakkan warna putih program pengolah kata itu seringkali masih tampak bersih selama beberapa puluh menit atau bahkan sekian jam sejak saya menghidupkannya.

Baca juga ulasan tentang rasa bosan yang bisa memercikkan kreativitas.

Sebuah bukti telah terhidang di depan mata. Saya tidak dapat selalu mengandalkan otak untuk mencatat ide-ide yang demikian banyak. Maka, itulah gunanya pensil, meskipun pendek ukurannya. Dan secarik kertas tentu saja, memangnya mau menulis di mana? Akan lebih baik bila saya membiarkan pikiran yang panjang mengemban tugas lain. Misalnya mengembangkan ide yang tercatat di kertas atau gawai. Itu akan lebih berfaedah. Limpahkan saja “pekerjaan ringan” mencatat gagasan itu kepada pensil. Toh, selama ini si arang berselimut kayu itu lebih banyak menganggur, meratapi nasib di kotak sempit. Ada harapan besar ketika kita menerapkan spesialisasi semacam itu. Mudah-mudahan sang pikiran lebih fokus menangani urusan-urusan penting ketimbang nyambi melakukan tugas-tugas “sepele” semacam mencatat ide. Cerita yang saya alami menunjukkan sesuatu yang benar. Dalam kondisi tertentu, sebatang pensil (yang berukuran pendek) bisa lebih berguna daripada ingatan (meskipun panjang). Sebagai penutup, saya kembali meyakinkan diri akan arti penting sebuah aktivitas mencatat yang tampak kurang bermanfaat. Ternyata, mencatat ide bukanlah pekerjaan sepele.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.