benarkah konten adalah raja
Konten adalah bagian penting sebuah blog atau media. Tak peduli apakah ia dianggap raja atau rakyat jelata.
Kita kerap mendengar semboyan keren dalam dunia kepenulisan, marketing, dan media. Slogan yang telah malang-melintang di dunia perkontenan itu berbunyi “Konten adalah raja”.
Kalimat “sakti” ini pertama kali diungkapkan oleh Bill Gates. Di tahun 1996, pendiri perusahaan perangkat lunak komputer itu menulis sebuah artikel berjudul “Content is King” dan mengunggahnya di situs Microsoft.
Sejak itulah, semboyan ini menyebar dan diikuti banyak orang di seluruh dunia.
Dalam artikelnya tersebut, salah satu orang terkaya di dunia itu mengemukakan definisi tentang konten. Apa itu konten?
Menurutnya, istilah konten bermakna luas dengan pelbagai macam perwujudannya. Ia menyatakan bahwa perangkat lunak komputer yang dihasilkan perusahaannya pun merupakan salah satu jenis konten.
Lantaran luasnya arti konten, dalam tulisan ini saya akan memberikan batasan arti konten. Tentu saja agar pembahasan tidak melebar ke mana-mana.
Dalam hal ini, konten adalah isi atau materi sebuah blog atau media, khususnya media daring. Konten bisa berwujud tulisan, gambar, atau video atau kombinasi dari ketiganya.
Jadi, konten adalah materi utama yang mengisi blog atau media. Jika kontennya tak berkualitas, lantas bagaimana kita bisa mengatakan bahwa situs yang memuatnya bisa dikategorikan blog yang bagus?
Kualitas konten bakal membedakan mutu media yang memuatnya. Dalam situasi banjir informasi dewasa ini, masyarakat akan memilih mana konten yang memberi manfaat bagi mereka.
Silakan baca juga tulisan tentang kebingungan umat menghadapi banjir informasi yang membeludak dewasa ini.
Sebagai gambaran, zaman lampau orang membuat iklan dengan mengedepankan posisi barang atau jasa yang mereka tawarkan. Semua produsen mengklaim produknya sebagai nomor satu.
Kini, orang berlomba-lomba menebar kebaikan melalui iklan yang mereka tayangkan di berbagai media. Hal ini menyiratkan bahwa konten yang baik cenderung menyodorkan nilai-nilai positif ketimbang sekadar berkoar-koar bahwa produk yang mereka hasilkan merupakan barang terbaik di dunia.
Namun demikian, di tengah gencarnya anggapan konten sebagai raja, ada juga pihak yang “menyangkal” pendapat ini. Sebagian orang tidak menganggap konten layaknya seorang raja yang harus mendapatkan kedudukan utama.
Mengapa ada yang berpendapat demikian? Apakah orang-orang ini memandang sebelah mata pentingnya konten dalam sebuah media?
Barangkali, mereka berpikir praktis saja. Jika tujuan membangun blog bukan fokus pada konten, bisa jadi konten bukanlah materi utama situs yang dibangunnya.
Sebut saja maksud hati membikin blog semata-mata untuk mengais fulus dari dunia maya. Tujuan semacam ini bisa membuat pengelola blog asal-asalan membuat konten, termasuk memakai jurus pintas nan culas bernama copas.
Silakan baca juga ulasan mengenai cara menaikkan produktivitas menulis dari Goenawan Mohammad (GM).
Pendapat lain menyatakan bahwa konten bukan hal terpenting dalam sebuah media. Mereka menganggap desain lebih layak “diangkat sebagai raja”.
Dalam sebuah penelitian, Elizabeth Sillence dan tim yang dikomandaninya mendapatkan kesimpulan yang mencengangkan. Mereka mendapati kenyataan bahwa 94% responden yang tidak memercayai suatu situs menyebutkan masalah desain sebagai faktor pendorong rasa kecewa mereka.
Hasil penelitian itu telah membawa keyakinan banyak orang akan pentingnya peran desain situs ketimbang konten yang termuat di dalamnya.
Bagi saya, kedudukan konten dalam suatu blog harus benar-benar diperhatikan. Sebab konten-konten itu merupakan produk utama sebuah blog atau media.
Tanpa mengecilkan peran desain, sebagus apa pun tampilan sebuah situs, apa gunanya bila ia tak menampilkan konten yang bisa diandalkan? Memangnya orang mengunjungi blog untuk melihat tampilannya doang?
Barangkali memang ada orang yang berpandangan semacam itu. Namun, bukankah pendapat seperti itu tidak umum?
Sebaliknya, dengan penampilan sederhana, sebuah blog menjadi bermakna dengan deretan konten yang mampu memikat hati pembaca. Sebab, konten-konten itulah yang bakal memberi manfaat bagi mereka.
Silakan baca cerita tentang serunya adu balap antara penulis dan editor.
Manfaat konten berkualitas bisa dirasakan oleh dua pihak yang terlibat, yakni penyaji dan penikmat konten tersebut.
Penyaji konten akan memperoleh banyak faedah dari kegiatan menciptakan konten-konten bermutu tinggi. Dengan asumsi konten dibikin melalui (serangkaian) riset yang memadai, sang pembuat konten bakal semakin ahli dalam bidang yang ditulisnya.
Bagi pembaca, konten berkualitas tentu saja menjadi harapan mereka. Seorang penikmat konten bakal gembira mendapatkan informasi yang dicarinya atau menemukan solusi atas permasalah yang tengah dihadapinya.
Selain itu, ada hal penting lainnya dibandingkan dengan alasan-alasan pentingnya konten yang telah saya kemukakan di atas.
Saya membangun sebuah blog sebagai wujud kegemaran saya ngonten, khususnya menulis. Keluaran (output) utama aktivitas yang saya lakukan adalah konten, terutama tulisan-tulisan berwujud artikel dan bentuk-bentuk tulisan lainnya.
Jadi, kalaupun konten bukan raja, saya tetap akan “memuliakan”-nya. Saya tak hendak menelantarkan konten, apa pun status yang disandangnya.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda berpendapat bahwa konten adalah raja?
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.