Inspirasi

Mengapa Menulis Tidak Pernah Benar-Benar Selesai?

Menulis tidak pernah selesai, itu benar adanya. Memang Anda telah menuntaskan sebuah tulisan hingga titik terakhir, lalu menerbitkannya di blog Anda atau di mana pun. Namun, tulisan Anda belum selesai.

Suatu saat Anda mungkin membuka kembali tulisan itu. Lantas, hati Anda merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman. Muncul dorongan kuat di hati Anda untuk mengubahnya. 

Barangkali Anda menganggap ada satu atau dua kalimat yang terlalu kaku. Mungkin juga Anda menginginkan setting yang kekinian. Banyak lagi kemungkinan yang dapat mendorong Anda mempermak tulisan lama Anda.

Mengapa tulisan ini terasa janggal? Kayak belum selesai gitu.

Berbagai pertanyaan yang berkecamuk semacam itu menunjukkan satu kesadaran bahwa memang kegiatan menulis tidak akan pernah benar-benar selesai. Ada saja kekurangan tulisan yang masih bisa didandani lagi.

Tulisan Belum Selesai Selepas Diterbitkan

Umumnya, berbagai teori menulis memberikan panduan prosedur menulis hingga tahap penerbitan. Seakan-akan proses menulis harus paripurna setelah hasilnya nongol di ranah publik.

Padahal, dalam kenyataannya, tak jarang muncul rasa gelisah dalam diri penulis usai membaca tulisan yang dibuatnya beberapa waktu sebelumnya. Berbagai perasaan tidak nyaman berkecamuk di dalam hatinya, misalnya:

  • Kenapa dulu aku memilih kata-kata ini, ya?
  • Kayaknya gagasan ini masih bisa diperluas, deh!
  • Nada tulisan ini nggak sepenuhnya mewakili batinku.

Sebenarnya, pikiran-pikiran semacam itu tidak menunjukkan bahwa tulisan yang dibuatnya tidak benar. Lebih tepat bila dikatakan bahwa si penulis telah melangkah lebih maju dibandingkan masa ia menelurkan tulisan itu. Wawasannya sudah berkembang lebih luas, penguasaan kosakatanya jauh lebih banyak, atau sudut pandangnya telah bergeser seiring pengalaman yang didapatnya.

Pikiran Melaju Lebih Kencang Dibandingkan Bahasa dan Tangan

Secepat apa pun Anda mengetik, pikiran Anda melesat jauh lebih kencang. Tak heran jika tulisan-tulisan yang Anda hasilkan pada masa lalu, kini menjadi ketinggalan zaman.

Anda tidak perlu melewati suatu masa tertentu untuk meyakini hal ini. Bahkan, dalam waktu bersamaan, pikiran Anda akan selalu meninggalkan kata-kata yang terketik di program pengolah kata yang Anda gunakan. Saya yakin Anda sering mengalami keadaan ini. Beberapa saat setelah menyelesaikan satu tulisan, Anda menyesali tulisan Anda sendiri.

Selain faktor kecepatan tangan, bahasa juga menjadi unsur penting penyebab tulisan yang selalu “ketinggalan kereta”. Bahasa memang selalu berkembang. Namun, perkembangannya terbatas dan tidak sekencang laju perkembangan pikiran Anda. Ketika pikiran Anda sudah menjelajahi pelbagai penjuru dunia, bahasa yang Anda gunakan masih di situ-situ saja.

Publikasi Bukan Stasiun Terakhir

Perasaan yang muncul pertama kali di hati saya seusai mempublikasikan sebuah tulisan adalah lega. Bagaimana pun, proses menulis menyita cukup banyak energi dan pikiran. Jadi, menerbitkan tulisan menjadi sarana melepaskan diri dari tekanan. Barangkali, perasaan Anda pun demikian.

Namun, biasanya rasa lega itu tidak berlangsung lama. Sebabnya, rasa gelisah seakan-akan tak sabar untuk segera menggantikannya. Kegelisahan itu ditimbulkan oleh banyaknya kekurangan pada tulisan yang saya temukan beberapa waktu kemudian. Menyaksikan berbagai kekurangan tersebut, lantas muncul keinginan untuk memperbaikinya.

Ada satu nasihat yang akhirnya mampu melepaskan diri saya dari keinginan untuk selalu mengoreksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Publikasi bukanlah penanda kesempurnaan sebuah karya tulis, melainkan tindakan untuk melepaskannya. Seorang penulis melepaskan tulisannya kepada khalayak agar ia bisa belajar lagi membuat tulisan-tulisan berikutnya.

Meskipun demikian, ada jenis ketidakpuasan yang kita butuhkan. Ketidakpuasan jenis ini menunjukkan adanya kesadaran pada diri penulis bahwa tulisan yang dihasilkan belum sejalan dengan hati dan pikirannya. Orang sering menyebutnya ketidakpuasan kreatif. Ada beberapa kondisi yang menandakan munculnya ketidakpuasan kreatif, misalnya meningkatnya standar akan penilaian terhadap suatu karya, bertambahnya kepekaan terhadap bahasa, dan semakin mendalamnya pemahaman terhadap topik yang dibahas dalam tulisan.

Ketidakpuasan kreatif bisa menjadi salah satu pijakan untuk terus belajar memperbaiki hasil karya kita. Ketidakpuasan ini memang akan terasa melelahkan karena mungkin kita harus menunda penerbitan, melakukan riset lagi, dan menulis ulang tulisan yang sudah jadi.

Revisi Tidak Harus Dihindari

Bagi penulis, proses revisi adalah makanan sehari-hari. Revisi bukan sesuatu yang harus dihindari.

Umumnya, penulis membuat draf awal tulisan semata-mata “ditujukan untuk dirinya sendiri”. Karena hanya untuk dirinya sendiri, maka ia bebas menulis apa pun yang berkeliaran dalam pikiran dan semua masalah yang berkecamuk di hati. Tentu saja tulisan yang dihasilkan dalam bentuk draf awal hampir tak kayak dipublikasikan. Banyak orang menyebutnya sebagai metode freewriting.

Ada sebuah sarana untuk memoles draf tak laik terbit menjadi karya yang pantas “menyapa” publik. Sarana itu bernama revisi. 

Revisi tidak terbatas pada kegiatan memperbaiki ejaan dan mengganti saltik (typo) semata. Revisi juga bisa menjadi wadah bagi penulis untuk berpikir ulang. Di sini mungkin seorang penulis harus bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Ia mesti menimbang-nimbang di mana titik temu antara keinginan untuk menuangkan semua hal yang ingin diungkapkannya dengan apa yang seharusnya disampaikannya.

Menulis Tak Akan Pernah Selesai

Bila suatu saat Anda merasa tulisan yang Anda hasilkan tidak memuaskan, itu merupakan keadaan yang wajar saja. Bahkan, kondisi semacam itu bisa menjadi salah satu petunjuk bahwa Anda sedang berkembang. Anda bukan penulis yang gagal.

Menulis tidak harus berhenti pada satu titik tertentu. Mestinya, kegiatan menulis dapat memperlihatkan bahwa kita terus bergerak. Kita bergerak menjadi lebih jujur, lebih jernih, dan lebih sadar akan ungkapan-ungkapan yang kita pilih dan kita tuangkan dalam wujud tulisan.

Jadi, kegiatan menulis memang tidak akan pernah usai.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.