gambar penemuan setrika dan penggunaannya
Penemuan setrika telah menyulut rasa benci dalam hati saya sekian lama. Penciptaan alat ini hanya menambah panjang daftar penderitaan manusia.
Menyaksikan sebuah setrika tergeletak di atas meja saja bisa meletupkan kesumat terhadap si besi laknat. Bayangan buruk terhadap perlengkapan utama dalam industri penatu itu acap mengusik batin saya.
Penemuan setrika bisa saya lukiskan dengan seuntai peribahasa lama, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.”
Nggak paham artinya? Wah, kebangetan. Ini dia terjemahan ngawur-nya, “Bersakit-sakit dahulu, ‘menderita’ kemudian.”
Betul, kan? Orang sudah berpusing-pusing kepala memikirkan, merancang, dan akhirnya membikin alat konyol yang dikasih nama setrika, eh ujung-ujungnya menambah capek orang saja.
Perasaan tak nyaman itu telah mendorong saya “mengutuk” sang penemu setrika, entah siapa namanya dan dari mana asalnya. Sebabnya tiada lain, barang temuannya telah menambah berat beban hidup saya.
Reka cipta setrika hanya menambah panjang daftar pekerjaan. Saya, yang gemar hidup sederhana (baca: seadanya), menjadi repot oleh keberadaan barang sialan itu.
Terbayang di benak saya, jika tidak ada benda menjengkelkan bernama setrika, tak akan turun gengsi saya kala mengenakan baju dan celana keriput. Saya tak perlu menguras tenaga sekian PK hanya untuk membikin pakaian jadi selicin salju di Kutub Utara.
Orang tidak akan mengerling heran ke arah kita hanya lantaran pakaian yang acak-acakan. Lha gimana mau heran wong sama-sama kusut masai. Sesama kusut dilarang saling menyikut, eh mencerling.
Namun, penemuan dan pengembangan teknologi pelicin pakaian telah mengubah pandangan manusia tentang busana. Kreasi itu mengharuskan kita melakukan hal-hal konyol demi sesuatu yang diberi nama etika oleh kebanyakan orang.
Silakan baca juga artikel yang membahas sulitnya membikin tulisan humor.
Gegara penemuan setrika, saya harus mencari cara untuk menutup muka ketika suatu saat harus berpakaian lusuh karena tak sempat—barangkali istilah yang lebih pas untuk menggambarkan kondisi ini adalah malas–mennggosoknya.
Coba nggak ada setrika. Waktu yang dipakai untuk menggosok pakaian bisa dialihkan untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Misalnya berolahraga untuk mengencangkan otot lengan dengan cara menggerakkan tangan maju mundur beberapa kali hingga pakaian jadi rapi. Lah, itu mah nyetrika namanya!
Sekarang coba sejenak kita bayangkan dunia tanpa setrika. Kita tidak akan gelisah mengenakan kaus oblong bergelombang bak lautan yang diterjang angin topan. Kita juga akan santuy saja saat kuliah atau bekerja di kantor dengan kemeja dan celana panjang yang kriwil-kriwil.
Sayangnya, situasi nyaman semacam itu tak akan pernah kita rasakan lantaran sebentuk besi panas bernama setrika hampir selalu bisa kita temukan di mana pun kita berada. Sebuah alat yang membikin manusia kehilangan nyali mengenakan pakaian yang lecek di sana sini.
Jangan lupa kunjungi tautan afiliasi ini untuk mendapatkan setrika idaman.
Sebetulnya, pihak yang akan terdampak secara buruk dengan ketiadaan setrika barangkali hanya bisnis penatu alias dobi, atau di negeri keminggris ini masyhur dengan sebutan laundry. Mereka kan bisa beralih ke bisnis laundry-laundry yang lain seperti laundry helm atau sofa. Asal jangan ngelaundry money aja.
Kini, sejak manusia mengenal setrika, hampir semua orang mengenakan pakaian yang licin permukaannya dan harum baunya. Kita nyaris tidak lagi bisa menemukan manusia beretika yang lusuh dalam berbusana.
Tentu saja ada perkecualian untuk hal ini. Misalnya orang-orang yang pekerjaannya harus bergumul dengan debu jalanan atau berkubang lumpur di kedalaman.
Jika kita nekat berangkat ke kantor dengan kemeja yang tak bikin kecoak terpeleset atau celana panjang yang mirip arena karapan sapi, kita akan dirundung rasa malu yang bertubi-tubi. Rekan-rekan sekerja mungkin akan menggolongkan kita ke dalam ordo manusia purba.
Begitulah sebagian penderitaan manusia yang diakibatkan oleh kehadiran setrika. Bayangkan juga ketika era setrika masih dipanaskan menggunakan bahan bakar bernama arang. Kalian tidak pernah mengalaminya, bukan?
Daftar kesengsaraan akibat setrika tak berhenti di satu baris saja. Masih ada bentuk-bentuk penderitaan lainnya yang bakal membebani hidup manusia.
Yang pasti, kita harus menambah pengeluaran untuk membeli setrika. Juga harus membayar lebih pulsa listrik yang tersedot untuk memanaskannya. Belum lagi beban biaya untuk pengadaan meja, kain pelapis meja, dan tentu saja cairan pengharum pakaian.
Setelah pakaian menjadi rapi dan harum, bukan berarti telah usai kerepotan kita. Mengenakan kemeja yang licin menyebabkan kita tidak bebas bersandar hingga kadang-kadang orang rela punggung pegal asalkan pakaian tak kumal.
Kita bisa melihat banyak pekerja kantoran yang menenteng pakaian kerja saat bergelantungan dalam gerbong-gerbong kereta. Aroma keringat para penumpang kereta merupakan momok yang dihindari dengan segala cara.
Masih kurang? Hitunglah biaya yang kita bayarkan kepada tukang laundry jika kita mengandalkan jasa mereka. Atau peluang untuk rebahan yang hilang bila kita melakukannya sendiri.
Silakan baca juga peribahasa kocak kehidupan generasi milenial.
Jadi, bagaimana pendapat Anda? Apakah kini Anda sudah memahami beragam tragedi yang terjadi hanya karena “ulah” sebongkah besi?
Jika Anda telah mafhum akan hal ini, semoga Anda pun bisa memaklumi rasa geram yang menyelimuti hati ini.
Rasa sakit hati telah membawa saya menelusuri jejak penemuan setrika, peranti yang tak menarik sama sekali. Ternyata, alat kecil itu telah bermetamorfosis dari benda-benda sederhana dan sulit digunakan hingga berbentuk praktis seperti yang kita kenal dewasa ini.
Mula-mula orang-orang Yunani Kuno menggunakan lempengan besi berbentuk semacam alat penggiling yang dinamakan goffering iron pada tahun 400 SM. Bangsa-bangsa kuno lainnya pun memiliki kreasi sendiri terhadap alat perapi pakaian, seperti bangsa Romawi dengan alat pengepres pakaian berwujud palu logam datar.
Sementara itu, wujud instrumen yang sudah mengarah ke model terkini diciptakan pada sekira tahun 1.300 M. Alat berupa besi datar dengan pegangan yang mirip setrika modern itu masih amat “menyiksa” penggunanya. Sebelum digunakan, perkakas ini harus dipanaskan langsung dalam api yang membara. Waduh, orang dulu menyetrika kayak pandai besi, ya?
Pendek kata, setrika terus berkembang hingga mewujud seperti yang kita saksikan pada zaman kini dengan pelbagai rupa seperti setrika listrik dan setrika uap. Si besi panas ternyata telah melalui perjalanan yang amat panjang dan berliku.
Saya jadi teringat sebuah pepatah yang telah mematahkan semua argumentasi yang saya bangun selama ini. Amsal itu berbunyi, “Tak kenal maka kenalan.”
Eh, bukan gitu, tapi gini, “Tak kenal maka tak sayang.”
Setelah mengerti kisah panjang perjalanan setrika, mendadak saya dihinggapi perasaan aneh bercampur geli. Saya jadi malu sendiri.
Orang-orang yang menghuni bumi pada zaman purbakala aja rela begitu mencari dan melakukan berbagai upaya yang tak gampang dilakukan untuk merapikan pakaian. Sementara saya yang hidup di era serba praktis, tinggal tancepin colokan lalu bergerak maju mundur sebentar, malah banyak polah. Bahkan mengumpat penemuan mesin yang telah mengubah peradaban manusia.
Dikutuk kembali ke kehidupan zaman setrikaan segede gilingan padi baru tahu rasa. Makanya, hargailah penemuan setrika.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.