ilustrasi tentang expressive writing
Ternyata, expressive writing bisa menjelma sebagai penangkal kebuntuan menulis alias writer’s block.
Akhirnya, saya menemukan ungkapan paling cocok dengan perasaan yang mengganggu pikiran saya beberapa hari belakangan ini.
Penemuan ini agak tak terduga. Saya menjumpainya ketika melakukan pencarian “barang” lainnya.
Sudah lebih dari dua minggu blog tak memunculkan tulisan baru. Padahal, sesuai jadwal yang sudah saya tetapkan, mestinya saya menayangkan tulisan baru saban pekan.
Hari ini telah mendekati akhir bulan. Setidaknya, tiga kesempatan menghasilkan
konten telah saya lewatkan.
Kebuntuan yang menimpa lantas mengantarkan saya menelusuri internet. Seperti kebanyakan orang, Google menjadi andalan saya dalam melakukan pencarian.
Berbagai frasa telah saya terakan pada bilah sang mesin pencari paling kondang sejagat itu. “Cara menemukan ide menulis”, “cara mengatasi writer’s block”, dan “how to get writing ideas” adalah beberapa contoh upaya saya menemukan ide yang tak kunjung datang (atau mungkin lebih tepat tak kunjung saya yakini untuk saya tuliskan?).
Terakhir, saya teringat bahwa saya kerap mendapatkan gagasan setelah membaca quotes para penulis tenar tentang proses menulis yang mereka lakukan. Saya pun mencoba cara lama ini dengan minta Google mencarikan semboyan yang sekiranya bisa saya kembangkan menjadi sebentuk tulisan.
Laurie Halse Anderson, entah siapa orang ini dan entah juga apa yang telah ia lakukan. Namun, sebaris kalimat yang ditulisnya, atau mungkin diucapkannya, cukup menyentak pikiran saya.
Sungguh, seakan-akan Anderson sengaja menulis kalimat itu untuk saya. Dari mana ia tahu saya sedang galau berat, gagal menghasilkan sebuah artikel pun sepanjang lebih dari dua pekan?
Silakan baca paparan tentang sebuah quote yang sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri penulis.
Barangkali ia memiliki kemampuan menangkap perasaan orang lain entah dengan cara atau sarana apa. Atau ia sendiri pernah mengalami hal serupa.
Saya harus menyampaikan terima kasih kepadanya. Ungkapannya telah mendorong saya membongkar kebekuan yang menghinggapi pikiran saya sekian lama.
Saya mengikuti “arahan”-nya, menuliskan kegelisahan yang saya rasakan sepanjang dua pekan. Meskipun belum tentu kelar, setidaknya saya telah memulai menulis hari ini.
Anderson benar. Menuliskan kegelisahan atau ketakutan yang paling kita rasakan mampu memberi manfaat tak terduga. Saya merasakannya sebagai “obat” untuk mengatasi kebuntuan menulis.
Kini, saya menemukan ide lainnya. Saya kembali mengingat sebuah paparan mengenai hasil penelitian berkaitan dengan aktivitas ini.
Menuliskan perasaan yang tengah mengganjal hati bisa menjadi sarana pengobatan. Sebuah penelitian menghasilkan kesimpulan yang menggembirakan.
Dalam buku Quantum Writing (2003), Hernowo mengutip pernyataan James W. Pennebaker yang berkaitan dengan hal ini. Pennebaker menyatakan bahwa menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega.
Menurut Pennebaker, terdapat dampak yang berbeda antara orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukannya, kelompok pertama menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh lebih besar ketimbang kelompok kedua.
Dalam banyak literasi, proses menulis semacam ini disebut menulis ekspresif atau expressive writing. Ketika digunakan sebagai sarana penyembuhan, aktivitas menulis semacam ini dinamakan expressive writing therapy.
Secara sederhana, expressive writing adalah tulisan yang bersifat personal untuk mengungkapkan perasaan, tanpa memperhatikan ejaan, tanda baca, dan aturan-aturan menulis lainnya.
Sebuah artikel yang terbit di situs Harvard Health Publishing mengungkapkan cukup banyak hasil penelitian mengenai dampak tulisan ekspresif terhadap orang-orang yang menderita gangguan kesehatan seperti sleep apnea, asma, migrain, HIV, dan kanker. Beberapa temuan menunjukkan bahwa tulisan ekspresif awalnya bikin orang kesal, tetapi akhirnya membantu mereka lebih rileks.
Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali menuliskan emosi yang sedang berkecamuk di hati, kita dapat merengkuh beberapa manfaat sekaligus.
Dalam hal ini, saya hendak membuka tabir yang menutupi kemampuan meraih ide yang (sebenarnya) berseliweran. Untuk keperluan itu, saya tidak harus menuliskan trauma berat yang pernah saya alami.
Sekadar kegelisahan ringan lantaran mengalami kemacetan menulis cukup menjadi bahan baku yang melancarkan aktivitas menulis. Ternyata, menuliskan rasa gamang akibat tertimpa writer’s block mampu membuka tabir itu.
Selain manfaat yang sudah saya paparkan, saya juga dapat berharap memperoleh keuntungan lain. Kini, saya merasakan “plong” seusai unek-unek tentang hambatan menulis sirna.
Kini, hati saya terusik untuk lebih mengenal Laurie Halse Anderson. Orang itu telah “menyelamatkan” saya dari rasa frustrasi akibat kebuntuan menulis yang hinggap terlalu lama.
Anderson dikenal sebagai penulis dengan topik kehidupan yang dilakoni anak-anak dan remaja. Penulis yang bermukim di Amerika Serikat ini pernah menerima sejumlah penghargaan, antara lain Margaret A. Edwards Award dari American Library Association dan Astrid Lindgren Memorial Award.
Dua di antara seabrek penghargaan yang pernah diterimanya itu saja telah memberi tahu kita, setinggi apa kelas Anderson dalam dunia kepenulisan. Seorang penulis berkelas tentu menghasilkan karya-karya yang juga berkelas, tak terkecuali ungkapan-ungkapan semacam quote yang sedang kita bahas ini.
Barangkali, Anderson tidak bermaksud menggunakan ucapannya untuk meruntuhkan kebuntuan menulis. Menilik kisah hidup dan karya-karyanya, penulis yang menyimpan trauma masa kecil itu memiliki tujuan yang jauh lebih mulia.
Sang penulis ingin membagikan pengalaman hidupnya. Ia pun hendak membantu orang-orang yang bernasib serupa untuk melepaskan diri dari trauma yang menghantui mereka.
Amat mulia tujuan yang hendak digapainya, bukan?
Silakan baca juga tulisan yang menghasilkan kesimpulan bahwa penulis tidak harus menyelamatkan dunia dari kerusakan.
Namun, di sisi lain, saya merasakan faedah dari kalimat yang ditorehkannya. Ternyata, menuliskan kegamangan adalah sebuah jalan yang bisa ditempuh untuk memecah kebuntuan menulis.
Dalam skala kecil, ada manfaat lain yang saya dapatkan dari kegiatan menulis berdasarkan emosi yang tengah saya rasakan. Tulisan yang bersumber dari rasa gelisah dalam hati bisa menjelma sebagai pelepasan atas kegelisahan itu.
Barangkali, kondisi ini termasuk expressive writing dengan kadar kecil atau bahkan mikro.
Nah, tidak ada salahnya mulai menulis bergaya expressive writing untuk membongkar kebuntuan sekaligus mengurai kegelisahan.
Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…
Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…
Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…
Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…
Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…
Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…
This website uses cookies.