Kreatif

3 Manfaat Teknik Pomodoro dalam Proses Menulis

Teknik Pomodoro adalah metode kerja yang asyik. Selain waktu kerja jadi terasa singkat, kita bakal sering istirahat.

Apakah Anda mengenal teknik Pomodoro? Atau Anda sudah mengaplikasikannya dalam pekerjaan Anda?

Sebenarnya sudah cukup lama saya “berkenalan” dengan Pomodoro. Pomodoro adalah sebuah alat pengungkit produktivitas bikinan seorang warga Italia.

Awalnya saya keliru mengeja nama yang disematkan bagi metode kerja ini. Kala itu saya menyebutnya podomoro.

Saya merasa beruntung tidak sendirian melakukan kekeliruan ini. Saya pernah menjumpai sebuah blog berita yang “dengan pedenya” menyebut teknik belajar ini dengan sebutan podomoro.

Jika kita telusuri, istilah podomoro berasal dari bahasa Jawa. Dalam bahasa daerah itu, ungkapan podomoro berarti ‘pada datang’ atau ‘orang-orang berdatangan’.

Silakan baca juga tulisan tentang mencatat ide yang bukan pekerjaan sepele.

Seingat saya, banyak orang mengandalkan podomoro sebagai nama usaha mereka. Saya pernah menjumpai beberapa bisnis yang menyandang sebutan podomoro dalam merek dagangnya, mulai warung kelontong hingga grup usaha besar yang menyasar bidang properti sebagai lahan utama bisnisnya.

Barangkali, dengan menerakan istilah semacam itu, sang pemilik usaha berharap nama ini bakal “mengundang” konsumen berduyun-duyun datang.

Nah, kemiripan susunan aksara kedua istilah itu telah “menjerumuskan” saya. Ternyata, metode yang diklaim mampu menaikkan produktivitas itu bernama pomodoro, bukan podomoro.

Apa Itu Teknik Pomodoro?

Ada satu hal lagi yang tidak saya sangka-sangka berkenaan dengan pomodoro.

Ternyata, nama yang disematkan sebagai merek sebuah cara efektif menyelesaikan pekerjaan ini tidak berasal dari kantor atau kampus, melainkan dari dapur. Dalam bahasa Italia, bahasa ibu penemu metode ini, pomodoro berarti tomat.

Lah, kok, dari dapur, sih? Tomat pula namanya! Memangnya sekarang pelajaran masak-memasak?

Begini ceritanya.

Mulanya, penemuan metode ini dimaksudkan sebagai sarana untuk membantu Francesco Cirillo, sang penemu, dalam belajar. Awal tahun 1990-an itu, ia memang berstatus sebagai seorang mahasiswa.

Baiklah, alat itu untuk membantu belajar, tapi mengapa harus dinamai tomat? Apakah ia punya kebiasaan belajar sambil mengunyah tomat?

Oh, rupanya sang penemu menggunakan alat pengukur waktu mengupas tomat saat awal berkreasi dengan penemuannya. Lalu, “dengan gampangnya” ia memberi nama hasil kreasinya tomat, eh pomodoro.

Nah, teknik yang mulanya dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas belajar ini terbilang cukup unik. Cara kerjanya sederhana saja.

Francesco membagi jam kerja menjadi beberapa bagian. Antara satu bagian jam kerja dengan bagian jam kerja berikutnya diselingi waktu rehat.

Berdasarkan hasil penelitiannya, satu kali waktu kerja yang efektif berjalan selama 25 menit. Bekerja melebihi “batas waktu” itu tidak akan memberikan hasil yang lebih baik.

Sementara itu, waktu jeda yang disarankannya selama 5 menit. Sebab, kalau kelamaan istirahat, bakalan enggan mulai sesi kerja berikutnya. Keenakan, sih!

Seandainya kita memiliki waktu kerja selama 3 jam dalam sehari, kita bisa membagi-baginya menjadi 5 bagian. Kerja sesi pertama hingga sesi keempat berlangsung masing-masing selama 25 menit, diselingi rehat masing-masing 5 menit.

Jika kita telah menyelesaikan empat sesi bekerja, kita berhak mendapatkan “bonus” istirahat yang lebih lama. Jadi, setelah mengambil jeda selama 30 menit, kita bisa melanjutkan 25 menit sesi kerja terakhir.

Ilustrasi proses menulis dengan teknik Pomodoro.

Penerapan Metode Pomodoro dalam Menulis

Lantas, bagaimana penerapannya dalam kegiatan menulis?

Ya, sama saja. Masing-masing jam kerja diisi dengan kegiatan-kegiatan dalam rangka menghasilkan tulisan.

Ada banyak aktivitas dalam proses menulis. Sebut saja melakukan riset bahan bacaan, membuat kerangka tulisan, dan tentu saja menulis materi itu sendiri.

Namun, ada pula penulis yang menganut “gaya bebas”, artinya tidak “patuh” pada tahapan-tahapan menulis yang baku. Penulis bergaya free writing bisa membagi proses kerjanya menjadi beberapa bagian berdasarkan batasan waktu tertentu untuk menulis bebas.

Silakan baca juga artikel yang membahas upaya menangkap ide dengan rasa syukur.

Beberapa kali jeda waktu masing-masing selama lima menit bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat santai. Sebagai contoh, kita bisa mengisi waktu jeda dengan berjalan mondar-mandir di sekitar ruang kerja, melakukan senam ringan, atau sekadar memejamkan mata sejenak.

Ada satu hal yang perlu kita perhatikan terkait dengan urusan jeda lima menit ini. Sebaiknya Kita menghindari kegiatan-kegiatan yang bisa menimbulkan “kecanduan” semisal membuka media sosial, menonton film, dan sebagainya.

Kelalaian kita dalam mengisi waktu jeda dengan aktivitas yang menimbulkan rasa penasaran, bisa menjerumuskan kita ke “jurang keasyikan” yang melenakan. Bila hal ini terjadi, maka jadwal menulis yang telah kita susun dengan metode Pomodoro ini bisa berantakan.

3 Manfaat Menulis dengan Pomodoro Timer

Apa yang membuat teknik pomodoro efektif ? Saya melihat beberapa hal positif yang terdapat pada sistem pembagian kerja menggunakan pengatur waktu yang dinamakan Pomodoro ini.

1. Sistem Pomodoro bisa menjadi salah satu cara menjaga fokus pada pekerjaan yang tengah kita laksanakan.

Target waktu kerja yang dipotong menjadi beberapa bagian yang pendek membuat kita tidak gampang bosan. Beda halnya dengan target yang sekaligus panjang, umumnya akan menyebabkan rasa bosan.

Padahal, jika digabungkan dalam satu rangkaian, jumlah seluruh waktu yang kita gunakan untuk kerja sebenarnya cukup panjang juga. Nah, jadinya beban kerja akan (terasa) berkurang.

2. Dengan teknik Pomodoro, hasil kerja yang kita peroleh kemungkinan akan lebih berkualitas.

Waktu kerja yang terkesan pendek akan mendorong kita mengerahkan semua energi dan kemampuan kita. Pengerahan energi dan kemampuan ini sangat memungkinkan kita bisa mendapatkan hasil yang baik.

Beberapa kali waktu jeda di antara waktu-waktu kerja juga akan memunculkan kesegaran bagi badan dan pikiran kita. Kondisi badan dan pikiran yang nyaman merupakan modal besar membuahkan hasil kerja yang bagus dan berkualitas.

3. Seusai bekerja menggunakan model Pomodoro, kita juga akan merasakan kondisi badan dan pikiran yang tidak terlalu lelah.

Secara psikologis, dengan waktu kerja yang dibagi-bagi menjadi beberapa bagian akan menyebabkan rasa lelah yang lebih sedikit. Begitu pula, beberapa kali waktu jeda akan menimbulkan perasaan yang lebih nyaman karena kita merasa banyak refreshing, bukan terus-terusan bekerja.

Ilustrasi 3 manfaat menulis menggunakan teknik Pomodoro.

Kendala Penerapan Teknik Pomodoro: Momentum yang Hilang

Jika harus menyebutkan kekurangannya, saya bisa katakan hal yang berkaitan dengan momentum.

Seperti halnya ide, momentum tidak selalu bisa kita peroleh setiap saat kita menginginkannya. Tak heran jika banyak orang mengungkapkan pentingnya memanfaatkan momentum ketika ia hadir ke hadapan kita.

Pembatasan waktu yang diberlakukan dalam metode Pomodoro menyimpan potensi masalah dalam urusan yang berhubungan dengan momentum.

Kala momentum menghampiri kita, sementara batas waktu yang diberikan si Pomodoro mengharuskan kita menghentikan “langkah” lantaran memasuki waktu jeda, bisa saja ia menghilang. Lebih berat lagi bila sang momentum “ngambek” dan enggan hadir kembali.

Masalah seperti ini juga dirasakan orang lain, seperti yang terungkap di upjourney.

Mengingat kendala itu, juga beberapa alasan lain, adakalanya saya tak menjalankan Pomodoro secara kaku. Kadang-kadang saya menyisipkan sedikit improvisasi di dalamnya.

Silakan baca juga ulasan tentang risiko proses menulis yang tak sebesar membedah otak.

Itulah metode kerja Pomodoro dengan sejumlah manfaat yang akan kita rasakan. Apakah Anda juga telah mempraktikkan model kerja ini dan merasakan faedah yang lain lagi? Bisa jadi.

Jika Anda belum melakukannya, tidak ada salahnya mencoba menggandeng teknik Pomodoro untuk melancarkan penyelesaian tugas-tugas Anda.

Sumber gambar ilustrasi: OpenClipart Vectors dari Pixabay.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.