Categories: Inspirasi

Tragedi Huuu! Asnawi dan Pentingnya Menahan Diri

‘Huuu!’ yang diterima Asnawi Mangkualam bakal mengingatkannya pada perilaku kurang elok yang dilakukannya tiga tahun lalu. Apa yang terjadi pada Asnawi?

Sebenarnya, peran yang dimainkan Asnawi pada Kamis (5/12/24) malam lalu berbeda dengan lakon yang dijalankannya beberapa tahun sebelumnya. Memang, kala itu, Asnawi membuat banyak warga Singapura geram.

Saat kejadian, Asnawi Mangkualam Bahar merupakan bagian dari skuad Timnas Indonesia yang tengah berlaga di AFF Suzuki Cup 2020. Dalam partai semifinal yang dihelat di kandang Singapura, Asnawi membuat kegaduhan yang seharusnya tidak dilakukan.

Yuk, belajar menulis dari para pemain sepak bola.

Dalam kedudukan imbang 2-2 di masa injury time, para pemain the Lions sepertinya sudah bersiap melakukan selebrasi. Bayangan kemenangan yang akan mengantarkan mereka ke partai final sudah berada di depan mata.

Pada menit-menit terakhir itu, pasukan Singapura mendapat hadiah penalti lantaran Pratama Arhan melakukan pelanggaran di kotak penalti Indonesia. Faris Ramli yang ditunjuk sebagai algojo bersiap menaklukkan kiper Nadeo Argawinata.

Namun, Faris gagal mengeksekusi tendangan penalti hingga membuyarkan harapan Tim Singa berlaga di partai puncak. Justru, di pertandingan yang digelar menjelang akhir tahun 2021 itu, Indonesia yang berhak atas tiket final setelah mengungguli Singapura 4-2 melalui tambahan waktu pertandingan.

Usai tendangan penalti yang gagal itu, para pemain Singapura, atau bahkan seluruh penduduk Singapura, meradang. Apakah tiket final yang batal dikantongi bikin mereka sedih dan menyesal?

Barangkali begitu. Namun, sejatinya bukan urusan tiket yang membuat mereka meradang.

 

Provokasi Asnawi Mangkualam Bikin Singapura Geram

Sejenak seusai kegagalan Faris menceploskan si kulit bundar dari titik putih, ada kejadian tak terduga.

Mendadak Asnawi Mangkualam menghampiri dirinya. Tepat di hadapan sang pemain andalan Singapura, kapten Timnas Indonesia itu sedikit membungkukkan badan sembari menengadahkan tangan. Sejurus kemudian, dari gerakan bibirnya, terlihat ia mengucapkan sesuatu.

Perilaku Asnawi sempat menimbulkan keributan karena beberapa pemain Singapura tidak bisa menerimanya. Pada saat Faris merasa terpukul lantaran kegagalannya menuntaskan amanah yang telah diberikan kepadanya, Asnawi seperti sengaja “meluangkan waktu” hanya untuk meledeknya.

Mau tahu cara Crying Wind menghadapi hinaan?

Pemain yang kini tercatat sebagai anggota Timnas Indonesia yang tengah bersiap menghadapi turnamen Asean Championship 2024 itu sempat menyampaikan klarifikasi beberapa waktu kemudian. Ia menyatakan bahwa saat itu dirinya hanya mengucap ‘terima kasih’ kepada Faris.

Namun, tentu saja, apa pun yang dikatakannya, timing-nya jelas tidak tepat. Konon, Asnawi mendapat teguran dari pelatih Shin Tae-yong atas “ucapan terima kasih” yang ikonik itu. Dan, seperti biasanya, “teguran” dari warganet mungkin lebih keras dirasakan sang pemain.

Ketika ‘Huuu!’ Datang Tiga Tahun Kemudian

Nah, tiga tahun kemudian, Asnawi kembali menginjakkan kakinya di Negeri Singa. Meskipun sama-sama dalam urusan sepak bola, tetapi kedatangannya tidak berseragam Garuda di dada.

Asnawi hadir sebagai anggota klub Port FC asal Thailand yang bertandang ke markas Lions City Sailors di ajang AFC Champions League 2. Walaupun mengenakan kostum berbeda, masyarakat Singapura masih melihat sosok Asnawi yang mempermalukan pemain Timnas mereka.

Dikutip dari X, seorang General Editor ESPN yang gemar memantau persepakbolaan Asia, Gabe Tan, mengungkapkan hal itu. Dalam sebuah cuitannya, ia menceritakan aksi pelampiasan “dendam” para pendukung klub asal Singapura itu kepada Asnawi.

Menurut Gabe Tan, mantan pemain PSM Makassar itu mendapat cemoohan dari para penonton sepanjang pertandingan. Sepertinya, teriakan “Huuu!” menggema setiap kali Asnawi beraksi.

Suatu situasi yang tidak mengenakkan tentunya bagi sang pemain. Orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui kasusnya tentu saja bertanya-tanya dan kemudian menjadi tahu kejadian buruk di masa silam itu.

Jangan cemas, seorang penulis tidak harus menjadi penyelamat dunia.

Nah, sebuah pelajaran berharga tersaji dalam lawatan Port FC kali ini. Bukan hanya Asnawi Mangkualam yang dapat mengambil hikmahnya.

Siapa pun orangnya, apa pun bidang kerjanya, bisa saja melakukan kekeliruan semacam ini. Barangkali juga bakal menerima dampak serupa.

Ketika kita memperlakukan orang lain dengan empati, orang akan mengenang kita juga dengan simpati. Sebaliknya, sebuah perlakuan menyakitkan bakal mendorong orang melakukan hal serupa dengan yang kita kerjakan.

Semoga tidak ada lagi tindakan-tindakan provokatif yang melukai hati banyak orang. Kita tidak ingin menyaksikan aksi-aksi Asnawi Mangkualam diiringi teriakan“Huuu!” dari sekumpulan orang di tribun.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.