Inspirasi

Terus Menulis Sementara Media Dikuasai Konten Cepat Saji?

Konten cepat saji merajai media sejak kita memasuki era digital. Bentuk-bentuk konten video pendek, meme lucu, dan gambar-gambar interaktif adalah beberapa contoh jenis konten yang kini mendominasi media daring.

Jadi, tulisan panjang seperti artikel dan esai tamat riwayatnya, dong. Ternyata tidak juga.

Masih banyak alasan konten-konten berwujud tulisan panjang tetap diminati dan mendapatkan tempat tersendiri.

Nah, artikel ini akan membahas peran penting konten berbentuk tulisan di tengah tren menjamurnya konten cepat saji.

Setidaknya terdapat 5 manfaat menulis yang tidak bisa digusur oleh kehadiran video dan gambar interaktif. Yuk, kita bahas satu per satu.

Menulis Dapat Membantu Berpikir Lebih Dalam

Semenarik apa pun konten cepat saji, ia tidak mampu mendorong pembuat dan penikmatnya berpikir secara mendalam layaknya tulisan panjang. Sebaliknya, proses menulis “memaksa” penulisnya memikirkan unsur-unsur pembentuk tulisan seperti ide, argumen yang kuat, dan cara menghubungkan ide dan argumen itu agar tetap ketemu “nurul”.

Silakan baca ulasan mengenai penulis yang tidak harus menyelamatkan dunia.

Era digital telah membawa kita larut dalam dunia yang serba instan. Namun, dengan menulis, kita dapat memperlambat tempo untuk merenung dalam suasana tenang demi melahirkan gagasan yang lebih matang.

Sebuah hikmah dapat kita petik dari kenyataan ini. Menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata, melainkan bisa juga menjelma sebagai cara memperdalam pemahaman akan berbagai topik yang berkembang di masyarakat.

Kata William Zinsser, “Menulis adalah berpikir di atas kertas.”

Makna Sebuah Tulisan Bakal Tersimpan Lebih Lama

Umumnya konten video atau gambar mampu bertahan selama beberapa jam atau sekian hari saja. Setelah (mungkin) viral dengan ribuan atau jutaan pemirsa, konten-konten semacam itu akan segera hilang dari peredaran.

Tulisan memiliki karakter yang berbeda. Ketika sebuah tulisan memiliki makna yang kuat, ia cenderung akan bertahan lama.

Artikel blog atau buku teks misalnya, bisa tersimpan lama dan dibaca orang selama bertahun-tahun. Apalagi, konten visual kian membanjiri media sehingga akan “menenggelamkan” konten-konten sejenis yang tayang beberapa waktu sebelumnya.

Sebuah studi menarik dilakukan oleh Pew Research Center. Hasil kajian lembaga ini menunjukkan bahwa pembaca bersedia meluangkan waktu untuk membaca artikel panjang (lebih dari 1.000 kata).

Menulis Bukan Tentang Informasi Semata, Melainkan Bicara Konteks Juga

Konten jangka pendek berwujud tweet, caption, atau apa pun istilahnya, sering kehilangan konteks. Sebagian dilakukan dengan ngebut dan melompat-lompat.

Nah, dalam situasi “balapan” semacam itu, tulisan hadir membuka kesempatan kita menggali suatu topik secara mendalam. Tulisan juga menyajikan konteks yang kita butuhkan untuk memahami persoalan hidup secara komprehensif. Konten-konten sepanjang 200-an karakter dan video berdurasi sekian detik tak selalu bisa memaparkan hal-hal semacam itu sebaik teks panjang.

Silakan baca artikel yang membahas tulisan bak buah simalakama, bisa menjadi beban sekaligus menghadirkan kesenangan.

Padahal, sejatinya tulisan bisa digunakan sebagai ruang untuk mengeksplorasi suatu topik secara mendalam. Jadi, fungsi tulisan tidak hanya untuk menyampaikan informasi, melainkan juga untuk membangun narasi dan pemikiran yang terorganisasi.

Reading Rockets, misalnya, pernah melakukan penelitian mengenai hal ini. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa kemampuan untuk memahami struktur teks sangat membantu meningkatkan pemahaman terhadap gagasan utama dan keterkaitan antarinformasi dalam sebuah tulisan.

Nah, fungsi tulisan panjang semacam itu sulit dilakukan oleh konten-konten pendek.

Menulis Adalah Cara Menemukan Diri

Berdialog dengan diri sendiri tidak harus dilakukan dengan mulut komat-kamit. Kertas dan ballpoint atau komputer pun bisa dijadikan teman “curhat”. Itulah sarana kita menemukan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis.

Melalui aktivitas menulis, rasa marah atau gelisah bisa juga tersalurkan tanpa menyakiti hati orang lain. Menulis memang memberi kesempatan kita mengenal diri sendiri secara mendalam.

Secara ilmiah, James W. Pennebaker pernah melakukan penelitian menyangkut hal ini. Dikutip dari buku Quantum Writing karya Hernowo (2003), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kegiatan menulis bisa membantu mengurangi atau menghilangkan stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Tulisan untuk Warisan

Mewariskan harta benda semacam rumah dan mobil membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak semua orang mampu mendapatkan barang-barang semacam itu.

Namun, meskipun tak berharta, orang tetap dapat meninggalkan warisan berharga. Artikel yang tersimpan rapi di blog, esai yang ditayangkan media daring, dan ebook yang disusun dengan cermat adalah beberapa contoh produk digital yang dapat diwariskan di masa mendatang.

Produk-produk itu bisa menjadi sumber informasi dan pengetahuan di masa depan. Dibandingkan bentuk-bentuk digital lainnya semacam video dan ilustrasi, umumnya tulisan lebih mampu bertahan dari gerusan zaman.

Data yang dirilis National Literacy Trust menunjukkan manfaat menulis yang tak bisa diabaikan begitu saja. Berdasarkan kajian data tersebut, lembaga itu berkesimpulan bahwa anak-anak yang menikmati kegiatan menulis dan melakukan aktivitas ini secara rutin menunjukkan kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, dan kreativitas yang meningkat.

Secara tidak langsung, kajian ini mengindikasikan manfaat menulis yang akan dinikmati dalam jangka panjang.

Menulis di Era Konten Cepat Saji: Haruskah Bersaing?

Kita hanya akan menghabiskan energi untuk berdebat selama kita memposisikan tulisan dan konten cepat saji sebagai pesaing. Barangkali lebih bijak bila kita mampu menyandingkan kedua jenis konten itu untuk saling melengkapi.

Silakan baca juga bahasan mengenai profesi penulis yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian.

Artikel panjang mungkin terlihat jauh lebih menarik ketika dihiasi infografik yang ciamik. Tulisan investigatif yang mendalam juga bisa dikonversikan menjadi bentuk video singkat sebagai daya tarik bagi para (calon) pembaca untuk beranjak mengunjunginya.

Nah, apakah para penulis tidak tergelitik untuk memasang “umpan” berwujud video atau gambar interaktif untuk “memancing” pembaca?

Di Era Konten Cepat Saji, Mengapa Menulis Masih Penting?

Menulis akan terus menghiasi hidup manusia selama manusia beroleh manfaat darinya. Manfaat menulis memang akan terus ada.

Konten cepat saji muncul dengan daya tarik yang tak dimungkiri pesonanya. Konten-konten berbentuk video dan gambar itu memang sempat memalingkan perhatian banyak orang dari konten-konten berwujud tulisan panjang.

Ketimbang menghadapkan kedua jenis konten itu sebagai rival, alangkah bagus jika menyandingkannya saja sebagai pasangan serasi yang saling melengkapi. Silakan gunakan jenis-jenis konten cepat saji sebagai penghias dan daya tarik tulisan.

Kita dapat tetap melanjutkan aktivitas menulis lantaran tulisan adalah sebentuk investasi yang bisa memberi manfaat dalam jangka panjang. Ingatlah bahwa menulis adalah cara kita memahami diri kita sendiri dan juga mengerti dunia.

liliek purwanto

Recent Posts

Modul yang Baik Bukan Sekadar Kumpulan Materi

Sebenarnya, banyak orang sudah punya bahan yang komplit untuk membuat modul. Mereka memiliki materi lengkap,…

1 week ago

Mengapa Orang Pintar Bisa Bangkrut dan Orang Biasa Bisa Kaya?

Orang pintar bangkrut dan orang biasa bisa kaya mestinya tidak menjadi hal yang terlalu mengherankan.…

1 month ago

Mengapa Kita Sulit Beradaptasi dengan Perubahan?

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa kesulitan menerimanya? Pernahkah…

2 months ago

Makin Banyak Belajar Menulis Makin Tidak Percaya Diri?

Semakin banyak belajar menulis, Anda menjadi tidak percaya diri. Sungguh aneh memang. Itulah salah satu…

3 months ago

Kenapa Tulisan Saya Tidak Bagus? Begini Cara Memahami Keraguan dalam Menulis

Merasa tulisan sendiri tidak bagus? Banyak penulis mengalami keraguan dalam menulis. Artikel ini membahas mengapa…

4 months ago

Membaca Buku Membuat Hati Tenang. Benarkah?

Apakah kamu pernah merasa pikiran penuh, kuping bising, dan kepala puyeng? Lalu, setelah membaca beberapa…

6 months ago

This website uses cookies.